Posted by : panda random 28.2.14



Time Paradox

A litte bit inspirated by :
60 Seconds of Cold November © rully bee
Butterfly Effect


Paradoks—pernyataan yang seolah-olah berlawanan dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran

.
12 Januari 2013 – 09.10 AM

Aku melihatnya dari kejauhan. Seorang gadis berambut pendek di belakang tapi rambut depannya yang panjang menjuntai, membingkai wajahnya. Dia mengenakan dress coklat di atas lutut dengan fur kneel boots yang berwarna putih. Dia sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya layaknya gadis normal lainnya. Layaknya. Namun kupikir tidak demikian, dia adalah gadis paling aneh diantara gadis-gadis yang pernah kutemui. Dia berjalan kearahku, melemparkan sebuah senyum lalu pergi berlalu. Aku hanya menatapnya datar, tak membalas senyumnya apalagi sapaannya. Kupikir aku tidak menyukainya. Sejak awal memang seharusnya begitu.

Awal pertemuanku terjadi satu hari sebelumnya, saat aku terpaksa menyelesaikan tugasku sebagai ketua keamanan di kampus ini. Salahkan saja kampus ini yang membentuk klub semacam itu, apa gunanya hansip di depan kampus hah?

..is falling down. London Brigde is falling down,” aku berjengit ketika tiba-tiba kudapati suara feminin mampir ke telingaku saat aku melewati lorong di sekitar fakultas ekonomi. “Berhentilah bernyanyi. Lagu itu mengerikan,” suara yang masih sama. “Bagaimana kalau lagunya diganti saja?” aku masih memasang telingaku baik-baik.

Aku berjalan mengendap-endap dan mencari asal suara. Dengan perlahan aku mengintip lewat jendela.

“Kau punya ide? Bagaimana kalau Twinkle Twinkle Litte Star?” dia berujar lagi. Aku mengeryitkan dahiku heran. Dia sendiri. Bicara sendiri di bangku kuliahnya. Rambutnya yang panjang di depan menjuntai hingga menyentuh buku catatannya. Dia tampak sedang menulis sesuatu dan bersenandung lagu—ah tidak, lebih tepatnya bergumam tidak jelas. Suaranya jelek dan tak membentuk sebuah lagu. “Woah, welcome,” dia berujar. Menatap kearahku lalu melontarkan sebuah senyuman. Aku terlonjak kaget hingga terduduk. Sial, dia tahu keberadaanku.

Aku bangun, sedikit membersihkan celana jeansku. Mata gadis itu masih menatapku dengan senyumannya yang masih enggan lepas dari bibirnya. Arah matanya mengikutiku sampai aku sampai di ruang kelas. “Psikopat,” aku hanya mendecih.

Dia membulatkan matanya melirik ke kanan dan ke kiri, ”Apa psiko yang kau maksud itu aku?” dia menunjuk dirinya sendiri sambil memasang wajah yang tak bisa kudefinisikan. Kaget. Datar. Lucu. Aneh.
Aku hanya memutar bola mataku tak minat. “Kau gadis aneh. Berbicara dengan tembok, hm?”

Dia hanya tersenyum, merapikan buku-buku catatannya lalu memasukkannya kedalam tas jinjingnya. Dia meluruskan kedua tangannya diatas meja lalu meletakkan dagunya di sela-sela tangannya. Dia menatapku,”Aku lebih suka berbicara dengan kucing sih,” lalu tertawa renyah.

Aku hanya mendecih. Aku benci dengan hal dengan hal yang tak logis. Dan gadis ini adalah salah satunya. Aku membencinya. Aku mengebrak meja di depanku, dia langsung terperanjat dan menatapku bingung. “Bilang ke kucingmu itu, apa dia bisa mengajarimu cara berdandan!” Satu gebrakan lagi. “Apa dia bisa membuat cantik!” aku berteriak. Aku lepas kendali, aku hanya tak tahan dengan keanehan ini.

Dia memiringkan kepalanya bingung lalu tertawa,”Kucingku kan cowok mana dia tahu dengan hal begituan,” dia bicara di sela-sela tawanya. Dia beranjak dari kursinya lalu menghampiri jendela di dekatku yang menghadap kearah lapangan. Dia menoleh sebentar kearahku,”Oh. Aku Mia.”

Aku hanya mendecih untuk yang kesekian kali,”Aku tidak bertanya.”

Dia hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke bintang-bintang malam itu. Jam sepuluh malam memang waktu yang tepat untuk bintang-bintang menunjukkan kemilaunya. “Aku tertidur lalu saat terbangun ternyata udah semalam ini,” dia berujar diselingi tawanya yang ringan.

“Aku tid—“

“Aku menjawab sebelum kau bertanya. Aku cuma tidak ingin kau mengira aku belajar di kampus semalam ini—“ dia menghadap kearahku. “—belajar itu membosankan,” dia menghela nafas panjang.

Menarik. Dia tahu apa yang kupikirkan.

“Lagipula orang mana yang mau belajar di kampus? Enak juga di apartemen, ditemani dengan kucing—“

“Kau orang anehnya,” aku memotong kalimatnya. Memasukkan kedua tanganku di saku.

“Eh?” dia berujar bingung. “Aku punya banyak teman asal kau tahu. Aku tidak seperti gadis kesepian psikopat yang akan menyayat tangannya seperti yang pikirkan.”

Aku hanya mendecih. “Nah, aku jadi semakin mencurigaimu.”

Dia membalasku dengan tatapan protes. “Kau sendiri kenapa belum pulang?”

Aku hanya diam. Tak menyahut pertanyaannya. Aku seharusnya sudah berada dibawah selimutku asal kau tau. Tapi, ada perasaan aneh yang membuatku masih bertahan disini. Sebuah ketertarikan? Gravitasi?

“Oh. Okay. Baiklah kalau tidak mau menjawab,” gadis itu memutar matanya. Menendang-nendang udara dengan kaki kanannya. “Sibuk dengan laporan keamanan. Hm, mungkin?”

Aku melotot. Dia mulai bicara sendiri lagi. Dasar gadis aneh.

“Aku aneh ya?” dia bertanya sambil memajukan wajahnya di depanku.

Aku menatapnya datar. YA! Kau aneh. “Tidak,” namun kata barusan yang keluar dari mulutku. Kadang hati tak sesuai dengan mulut. Aku masih melihat dia yang tersenyum dengan tatapan datarku.

“Sudah malam,” dia memegang bahuku lalu menepuk-nepuknya pelan. “Sebaiknya kau pulang.”

“Bukan itu seharusnya yang dikatakan seorang cewek aneh sepertimu kepada seorang cowok,” aku menatapnya datar. Tak minat.

“Oh. Okay,” dia melepaskan tangannya dari pundakku, beralih memegang dagunya. “Jangan khawatir. Aku bisa pulang sendiri,” lanjutnya.

“Aku tidak tertarik mengantarmu,” ujarku kejam yang hanya dibalas dengan senyumannya. Tidak, aku tidak mulai tertarik dengan gadis ini kan? Dia berlalu disampingku, mengambil tasnya dan aku yang hanya bisa melihat punggungnya menjauh.

Dia membalikkan badannya sekilas. “Daaah!” dia melambaikan tangannya dengan sebuah senyum di bibirnya. Aku hanya mendecih. Aku benci dengan gadis aneh. Dia sama sekali bukan tipeku. Aku hanya menyukai gadis normal berdada besar yang manis. Dan dia tidak sedikitpun—atau bahkan tidak sama sekali—masuk dalam kriteria itu. Cih.

Aku menatap telapak tangan kananku lalu bergantian menatap lorong yang barusan dilalui gadis itu. Dia sudah berlalu, tak terjangkau lagi oleh mataku. Aku mengangkat tangan kananku, menggerakkannya kaku membentuk sebuah lambaian. “Hm. Bye,” aku tersenyum tersendiri, menyadari keanehan yang barusan kulakukan. Aku benci gadis aneh, itu mantra yang selalu kuucapkan sejak saat itu. Dan berhenti saat lusanya kudapati kabar kematian gadis itu. Terbunuh tragis. Oleh pembunuh misterius.



13 Februari 2013 – 03.00 PM

Kematian Mia tidak menjadi hal yang banyak dibicarakan orang hingga sore ini. Kematian Mia seperti hal yang sudah wajar—ah, atau mungkin pihak kampus tidak mau membicarakan hal ini lebih lanjut. Yang kutahu dari koran yang pagi ini kubaca, telah ditemukan gadis terbunuh di apartemennya dengan darah yang menggenang. Setidaknya itulah yang ditulis oleh wartawan surat kabar yang hiperbolis, foto tidak cukup menjelaskan semuanya karena yang kulihat adalah foto tubuh Mia yang tersensor di halaman hitam putih sebuah koran abal-abal. Tidak minat untuk mencari tahu lebih, aku meneruskan bacaanku yang sempat tertunda oleh anomali hari ini.

“Tak kusangka Mia akan berakhir seperti itu,” seorang gadis berkucir pendek itu berujar kepada temannya yang berambut panjang disebelahnya. Gadis berambut panjang itu mengangguk pelan sembari menyelipkan rambutkan di belakang telinga. Mereka menuju kearahku lalu terduduk di bangku.”Dia gadis yang baik dan ceria, kan? Kenapa harus begini?” lanjut si gadis berkucir pendek.

Mataku terus melihat buku namun telinga dan pikiranku kutujukan sepenuhnya kepada pembicaraan mereka. Aku memang tidak minat, aku hanya ingin tahu saja. Masalah?

“Terakhir dia berkata akan lembur seharian di apartemennya karena tugas yang menumpuk—,“ujar gadis berkucir pendek itu lagi. Suaranya terdengar gemetar kali ini. “Aku menawarkan bantuan tapi dia menolak. Dia berkata bahwa—bahwa—,” kata-katanya terhenti, tergantikan oleh sebuah isakan. Ku meliriknya dan mendapati gadis itu menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Gadis berambut panjang disebelahnya hanya menatapnya iba dan mengelus pundaknya pelan, berusaha meredam kesedihan temannya.

“—darahnya. Tidak, dia bukan Mia,” ujarnya semakin histeris dengan air mata yang terus mengalaris dan menggeleng-gelengkan kepalanya keras.  Aku mengeryitkan dahi sambil menatap mereka.

“Sudahlah. Jangan bahas soal itu,” gadis berambut panjang itu ikut menunduk. Lalu menengok ke kanan dan kiri seakan maling yang ingin mengambil barang curiannya. Aku refleks menatap bukuku kembali, pura-pura tak mengikuti arah pembicaraan mereka. “Ba—bagaimana kucingnya?” aku mengeryitkan dahi heran. Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku. Apa hubungannya seorang kucing dengan kematian Mia? Apa kucing itu lebih berharga daripada seorang Mia? Tiba-tiba fertigoku seakan mau kumat.

Gadis berkucir pendek itu hanya mengangguk di sela isakannya.

Gadis berambut panjang itu menghela nafas lega. Aku langsung menatapnya dan dibalas dengan tatapan menusuknya yang tiba-tiba. “Menguping kematian adalah hobi yang buruk,” ujarnya sarkasme.

Aku hanya bisa mengutuknya dalam hati. Yang pertama duduk di bangku ini adalah aku. Dan bukan salahku jika aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kalian. Kedua gadis itu akhirnya beranjak dari bangku setelah melempar tatapan tajam kearahku—terlebih si gadis berambut panjang yang menjengkelkan itu. Aku hanya menatap mereka datar, menatap punggung mereka yang menjauh kemudian hilang dalam kerumunan hiruk pikuk kampus. Aku menatap kembali bukuku, merenungi apa yang barusan mereka katakan. Dan ujaran yang terus teringang di benakku, sebuah gumaman si rambut panjang yang cukup bisa kudengar.

“Ya, dia bukan Mia. Lebih tepatnya sudah tidak berbentuk seperti Mia.”

“Syukurlah. Kucingnya selamat, kuharap ada—“ kata terakhirnya tak jelas. Apakah sebuah mantra?
Aku langsung mengambil koran abal-abal pagi ini yang mengulas soal kematian Mia dengan buru-buru. Dan langsung membuka halaman tiga yang menampakkan foto tubuhnya yang disensor dan dibelakangnya kudapati tatapan mata yang menyala oleh—

—seekor kucing. Ku tidak mengerti pasti warna kucing itu karena berita Mia ada di halaman koran hitam putih. Ku amati terus foto kucing itu, tertangkap oleh kamera yang memantulkan warna matanya sehingga tampak menyala dalam kegelapan.

Satu kedipan, aku makin terus menamati foto itu. Tidak ada yang salah.

Dua kedipan. Aku tidak mengerti kucing ini bisa lebih berharga dari Mia.

Tiga kedipan. Aku terperanjat, foto kucing itu menghilang. Aku menatap lebih dekat lagi, memajukan koran itu hingga sepuluh centimenter di depanku untuk memastikan bahwa sedari tadi aku tidak berhalusinasi melihat foto kucing. Sial, apa ini koran abal-abal tapi mengandung magic seperti yang aku lihat di film karya J.K Rowling?

Aku masih dalam kekagetanku. Hari ini benar-benar sangat melelahkan dan penuh dengan ketidak logisan. Aku menghela nafas panjang dan menatap langit sore yang mulai berubah jingga. Sakit. Kudapati sesuatu di dadaku sesak, aku meremas dada kiriku. Dan perlahan aku terpejam, merasakan sebuah linangan air yang turun di  pipiku. Sakit. Kepalaku sakit.

Aku ingin istirahat. Sejenak menikmati kesendirian yang memuakkan ini.


03 Maret 2010 – 10.55 AM

“Hey, my bro,” seseorang merangkul pundakku dari belakang. Aku hanya menatapnya sekilas, dia adalah Albert. Cowok yang aku ketahui sebagai seorang sahabat semenjak aku melangkahkan kakiku ke kampus ini. Aku terus berjalan, menghiraukan keberadaannya. Dia mendengus,”Ck. Andromeda Polaris, setidaknya balaslah sapaan sahabatmu yang paling ganteng ini,” dia memutar matanya bosan lalu melepas rangkulannya.
Aku menatapnya sekilas,”Hey Albert.”

Albert hanya berdeham lalu tersenyum lebar dan beralih ke i-pod putih kesayangannya.

“Kau tahu bagaimana Mia terbunuh?”

Albert menghentikan aktivitas memasang headphonenya dan melihatku heran. “Hm? Mia?” dia memasang pose berpikir—sok seperti Sherlock Holmes yang sedang berpikir, hanya saja Albert berotak kosong. “Aku bahkan baru mendengar namanya,” lanjutnya lalu nyengir lebar. Jawaban yang begitu mengecewakan.

Berganti aku yang terkejut,”Bukankah kau satu klub dengannya di klub bandmu?” Aku menatap Albert dengan sejuta tanya yang juga dibalas dengan tatapan sama darinya. “Mia. Mia Funchsia.”

Albert melihatku dengan heran sambil menggelengkan kepalanya pelan, “Andro, kau tidak apa-apa? Kau demam?” Pemuda berambut raven itu mengeryitkan dahi,”Tidak ada anggota klub yang bernama Mia.”

Aku langsung menatapkan punggungku di tembok terdekat. Tidak. Tidak mungkin kematiannya terhapus. Aku melihat wajah Albert yang beberapa meter di depanku, ada raut kekhawatiran disana. Matanya memancarkan iba dan sedikit keprihatinan bahwa sahabatnya mungkin saja menderita penyakit yang sama seperti pasien rumah sakit jiwa. Pandanganku buram—tidak, ini bukan fertigo. Aku melihat jam digital yang melingkar di tangan kiriku. Aku terhenyak.

3 Maret 2010!

Kakiku gemetar saat aku menghampiri Albert. Dia yang beberapa meter didepanku ikut menghampiriku saat dilihatnya aku yang limbung. “Andro, kau tidak ap—“

‘BRUK’ seseorang tiba-tiba menabrakku. Aku jatuh terduduk dan memijit kepalaku. Sakit. Kulihat sekilas Albert menghampiriku dan membantuku berdiri namun pandanganku kutujukan terhadap orang yang menabrakku barusan. Seorang gadis berambut pendek, dengan kacamata tebal, kemeja floral panjang yang dikancing penuh dan rok chiffon semata kakinya. Satu kesan yang kudapat, dia gadis yang cupu. Gadis itu kemudian menunduk, memunguti buku-bukunya yang bercecer.

“Ma—maaf,” ujarnya pelan.

Aku tak acuh tapi mengambil bukunya yang terlempar cukup jauh. Sayup-sayup kudengar suara Albert yang berbasa-basi dengan menjelaskan bahwa temannya yang satu ini—aku—sedang mempunyai hobi baru yaitu mengalamun. Aku tak mau ambil pusing dengan perkataannya barusan, aku sudah pusing dan tak mau tambah pusing lagi. “Ini,” ujarku sembari menyerahkan dua bukunya.

“Terima ka—,” ujarnya pelan, sangat pelan hingga kalimat akhirnya tak bisa kudengar dengan jelas. Namun aku tahu bahwa dia bermaksud berterima kasih kepadaku. Aku hanya mengangguk. Dia akhirnya mau menatap mataku setelah sekian lama menunduk dan melontarkan senyuman.

Aku mematung. Lalu dia berlalu disampingku. Mata itu, mata yang sama. Aku menggenggam pergelangan tangannya, mencegahnya untuk pergi dan menyeretnya kembali hingga kini dia didepanku. “Mi—Mia?” gadis itu terlihat terkejut. Mungkin memang aku benar menyebut namanya.

Albert bingung dengan situasi yang terjadi sekarang. Dia hanya melihat antara aku dan Mia secara bergantian. “He—hei. Apa yang—“

Kalimatnya tak selesai. Aku hanya fokus dengan gadis yang di depanku sekarang. Aku menyeretnya, menghiraukan panggilan Albert dan juga menghiraukan rintihan Mia yang kudengar beberapa kali. Gadis itu sedikit berlari untuk mengimbangi langkahku yang lebar. Berulang kali dia juga meronta agar aku melepaskannya. Tidak. Kau tidak bisa, Mia. Aku tidak peduli, aku hanya ingin memperjelas ketidak jelasan ini. Bagaimana bisa aku terlempar ke masa lalu dan bagaimana bisa aku bertemu denganmu di tahun 2010. Sial, ini membingungkanku.

Aku sampai di gedung belakang sekolah yang sepi. Aku langsung mendorong gadis itu sampai punggungnya menatap tembok dengan cat yang sudah mengelupas. Wajahnya merah dan nafasnya terengah-engah. Aku meletakkan kedua tanganku disampingnya, memenjarakannya. Sekarang, tidak ada tempat lari lagi. “A—apa yang ka—kakak—“

Ucapannya terhenti ketika perlahan kulepas kacamatanya dengan tangan kananku. Dia berusaha mencegahnya namun kiriku dengan sigap menggenggam kedua tangan mungilnya dan menaruhnya di atas kepalanya. Cih, aku terlihat seperti orang yang akan memerkosa anak orang. Tapi tentu saja tidak, aku seharusnya tidak tertarik dengan gadis ini. Seharusnya. Namun kadang takdir berkata lain. Aku berhasil melepas kacamatanya dan kini matanya menatapku dengan ketakutan yang luar biasa. Jangan begitu, aku juga membenci dengan hal yang kulakukan sekarang. “Ternyata kau memang Mia,” aku menunduk. Dadaku naik turun, meraup oksigen sebanyak yang aku bisa karena berulang kali aku tercekat oleh kekagetan yang disebabkan oleh gadis di depanku ini. Aku menatapnya kembali dan kudapati dia yang menangis. Apa dia benar berpikir aku akan memerkosanya?

Aku tersenyum, menghapus air matanya. “Kau gadis aneh. Jika aku jadi kau, aku akan berteriak atau setidaknya akan menendang selangkangku.”

Dia menatapku sambil sedikit terisak,”Ka—kau ingin aku melakukannya?”

Aku merenggangkan cengkraman tangan kiriku. Gadis itu langsung mengelus pergelangan tangannya lalu melontarkan sebuah senyuman.

“Hanya saja aku tahu kalau kakak tidak berniat apa-apa, makanya—“

Dia terhenti saat kedua tanganku kembali berada di samping kanan-kirinya. Nafasnya sudah teratur, dapat kudengar itu. Bau samponya, aroma jeruk—persis seperti anak kecil. Aku terkekeh. Kembali mengingat pertemuan pertama kami di tahun 2013, dia tetap aneh bahkan di tahun 2010. Selalu saja bisa melihat apa yang dipikirkan orang lain. Itu aneh kan?

Gadis itu hanya memasang tampang bingung, menatap ke tangan kanan dan kiriku secara bergantian. “Oh. Bagaimana kakak bisa tahu—AHH!” dia tiba-tiba berteriak bersamaan dengan kepalaku yang memanas. Sakit. Sakit sekali. Pandanganku memburam, dapat kulihat gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membulat layaknya orang syok. Seluruh badanku seperti kehilangan fungsinya. Aku memegang bagian belakang kepalaku.

Darah. Darah mengguyur kepalaku? Atau apa? Aku tersungkur kesamping. Waktuku seperti tak lama lagi. Pandanganku menggelap setelah sebelumnya indra perasaku merasakan dingin di pipiku, lalu disusul oleh tatapan mata kuning-biru yang dimiliki seekor kucing hitam.

Seekor kucing..mungkin itu kuncinya.

Dan kali ini aku sepenuhnya terpejam. Andromeda Polaris termakan omongannya. Andromeda Polaris akan masuk di koran abal-abal dengan penulis berita yang hiperbolis. Andromeda Polaris mati tertembak peluru nyasar.

to be continued. .


[curhatan si author moody]

Ku beritahu sebuah rahasia, jadi semua cerpen disini adalah cerpen-cerpen yang sudah tertimbun cukup lama di kotak dokumenku LOL. Seperti karya ini juga, seingatku cerpen ini aku buat saat aku masih semester 1 (sekarang aku semester 2) LOL xDD

Sebenarnya, aku suka cerpen ini, aku suka tokoh Mia dan Andro yang berjalan-jalan di benakku. Dan tahu kenyataan bahwa Andromeda adalah nama seorang dewi sedikit membuat shock, tapi entah mengapa aku suka karakter cowok disini yang memiliki nama Andromeda (cowok normal, tentu saja)

Kerangkanya jadi rada ngeblur, maklum lah author moody seperti saya cuma nulis waktu mood aja #plakjder. Cukup, jangan tampar aku lagi! Aku akan berusaha membangun tubuh cerita ini lagi, jadi doakan saja supaya aku bisa menemukan insprirasi yang bagus ke depannya. HAHAHA!

Oke. Cukup sekian. Terima kasih. Muah. Peluk sayang, cium cinta. #dihajarhabishabisan

{ 1 comments... read them below or add one }

- Copyright © 2013 My Journe(y)al - Gumi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -