Posted by : panda random
12.2.14
[NOT] Tenshi no Yubikiri’s Story
-sedikit pemanasan fluff sebelum valentine-
.
.
Dahulu
kala, ada seseorang putri yang sangat cantik dan menjadi pujaan banyak pangeran
diseluruh dunia. Hingga tiba saatnya putri itu mencari pendamping hidupnya, dia
mengadakan sebuah sayembara. Sayembara yang diikuti banyak pangeran meliputi
berbagai tes penguji maut yang kini hanya menyisakan lima orang pangeran. Dan
tahap terakhirnya—
“Barang
siapa bisa menebak jari apa yang disembunyikan sang putri, maka ia berhak
mendapatkan sang putri,” sang penyuruh kerajaan berkata dengan gulungan kertas
di depannya dan putri berkimono di belakangnya.
Empat
pangeran menjawab dan sekarang tiba giliran pangeran kelima. Pangeran itu
menunjukkan jari kelingkingnya. Mata manik sang putri melebar lalu sedetik
kemudian dia tersenyum. Dia berjalan menuju kearah pangeran dan keduanya saling
menunjukan jari kelingkingnya.
*
“Kiyozumi Miki?” Ao-sensei memanggil dari
depan kelas, aku terperanjat. Pandanganku yang sedari tadi terarah ke lapangan
tidak mengerti apapun yang tengah dibicarakan oleh guru Kimiaku satu itu—fusi,
fisi, radioaktif atau apapun itu.
“Ha-Hai,” aku berdiri dari tempat dudukku.
Menatap Masaki Yumi yang duduk di meja sebelahku dengan tatapan khawatir—yang hanya dibalasnya dengan sebuah gelengan
kecil. Matilah saya. Kupikir hukuman untuk membersihkan kolam renang hari ini sudah
ada didepan mata. Dan benar saja, disinilah aku sekarang, dengan tangan kiri
memegang ember dan tangan kiri yang memegang pel.
“Gomennasai,
Kiyozumi-san,” ujar seorang gadis berkacamata berkucir ponytail. Dia adalah
Chiyo—ketua kelasku. “Ao-sensei tidak mengijinkan kami membantumu,” dia
membungkuk sedalam-dalamnya.
Aku hanya tertawa dipaksakan,”Nah, daijoubu desu, Chiyo-san. Apa gunanya
latihan beladiriku kalau aku hanya akan mati karena menguras kolam renang?” aku
berusaha tak membuatnya sungkan sambil tertawa garing. Walau harus melakukan
sedikit—coret—banyak kebohongan. Maksudku, musim panas telah tiba dan aku harus
menguras kolam renang super gede ini sendirian? Guru kimia memang mengerikan.
Apa Ao-sensei tidak berpikir bahwa kaporit yang terbau bisa menyebabkan
keracunan? Atau gas metana yang bisa saja muncul dari lubang kolam renang itu
bisa membunuh seorang Kiyozumi Miki? Oh, lupakan barusan, aku hanya memunculkan
teori kimia yang terbesit.
Chiyo tersenyum lalu kemudian mohon diri. Aku
membalas senyumnya. Antara lega dan kecewa karena Chiyo bukan orang keras
kepala yang akan bersikeras membantuku.
“Yosh! Kolam renang tidak akan bersih kalau
aku hanya berdiam diri,” aku melintingkan lengan-lengan bajuku. Dan mulai masuk
kolam renang yang telah dikosongkan. Kuras, sikat, kuras, sikat, gosok,
ku...waktunya istirahat!
Aku terduduk di kursi dekat kolam renang yang
ditutupi oleh pralon yang teduh. Musim panas kenapa datang secepat ini?
Menyebalkan sekali. “Eh?” aku menatap heran popsicle
vannila yang tengah disodorkan kepadaku oleh seseorang dari belakang.
“Kau baru mengkuras sepuluh menit dan sudah
ambil istirahat? Atlit apa kau ini?” aku berjengit mendengar katanya. Aku
berbalik dan mendapati seseorang pemuda berambut coklat yang telah menatapku
aneh. Aku hanya mendecih.
“Kau lagi. Kau lagi. Tuan-sok-pangeran,” aku
menekankan setiap perkataanku sambil memutar mataku bosan.
Dia hanya tertawa ringan lalu duduk di
sebelahku,”Begitukah seorang perempuan memperlakukan pacarnya?” dia mulai
menggigit popsiclenya. Aku hanya
menatapnya sambil manyun.”Kau tidak mau? Banyak gadis di Anjou High yang
menginginkan sepotong popsicle yang
sama denganku,” dia memasang senyum sejuta volt beradiasi berkilo-kilo meter
yang dapat meluluh lantahkan gadis-gadis di sekitarnya.
“Be-berikan saja pada mereka. Baka!” aku manyun untuk yang kesekian
kalinya. Kalau sudah begini, menguras kolam renang berpuluh-puluh—bukan,
beratus-ratus lebih baik. Aku mulai menguras lagi dengan muka dongkol. Dan
masih dapat kudengar pemuda itu masih tertawa. Cakep sih iya, tapi kalau ketawa
malu-maluin. Dialah Yamada Tatsuya, cowok paling ganteng, paling pintar, paling
sempurna, paling bla bla bla.
“Kau ini selalu saja lucu saat cemburu ya.
Dasar Tsundere,” dia tiba-tiba berada
disampingku, membantuku untuk menguras kolam renang.
Aku mendengus, “Kau tak perlu repot-repot.
Ao-sensei akan memarahimu kalau kau membantuku,” Tatsuya hanya terkekeh. Aku
memerah, “Bu-bukan berarti aku khawatir de-denganmu! Aku hanya tak ingin kau
membantuku. Aku bisa tanpa bantuanmu.” aku meralat kataku.
Tatsuya tertawa makin lebar,”Miki-chan,
berhentilah bersikap tsundere seperti
itu. Aku jadi ingin memakanmu kalau kau begini,” dia masih saja tertawa.
Aku memerah,”Me—memakan?”
Tatsuya menatapku,”Eh? Kenapa merah begitu?”
lalu selanjutnya dia tertawa kembali. ”Miki-chan mikir jorok ya? Haha,” dia
menduga sambil terpingkal. Aku hanya menggembungkan pipiku tak suka. Tatsuya
bodoh. Bodoh. Bodoh. Aku menulikan pendengaranku dari suara tawanya yang
malu-maluin itu dan terus menguras. Hingga sebuah kecupan mampir di pipiku. “Omae no koto
suki da,” ujarnya.
Aku menoleh kearahnya dengan muka yang
sepernuhnya memerah,”Ba-Baka!” Dan
dia hanya tersenyum sambil memelukku. Tatsuya seperti ini memang selalu bisa
meredam amarahku—ya, aku tidak sepenuhnya marah sih. Karena bagaimanapun aku
adalah gadis paling beruntung yang dapat memiliki seorang Yamada Tatsuya.
“Eh, 3 Agustus kau ada acara? Bagaimana kalau
ke Okazaki
Hanabitaikai?”
Tatsuya, kau tahu jawabnya kan? Aku pastilah
bodoh jika menolak ajakanmu.
*
Putri
dan pangeran akhirnya menikah dan hidup bahagia hingga suatu hari Pangeran
dihadapkan akan keharusan untuk bertempur di medan perang. Putri mencegahnya
namun Pangeran hanya tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari
kelingking sang putri.
“Yubikiri genman~ uso tsuitara, hari sen bon nomasu,
yubi kitta,” Pangeran menyanyikan sebuah lagu. Dan malam itu, adalah malam
terakhir sang Putri melihat wajah Pangeran
*
“Ayo, cepatlah Tatsuya. Hanabinya mau dimulai,” aku berjalan
menaiki tangga untuk sampai di depan kastil Okazaki. Tempat itu adalah tempat
yang paling indah untuk melihat hanabi pada saat acara seperti ini. Dia
menengok kebelakang dan mendapati Tatsuya yang terdiam. “Doushita no?” tanyaku.
“Uhm, tidak. Aku hanya
berpikir apakah kau mengenakan celana dalam,” dia berujar santai sambil
memasang pose sok-berpikir. Aku terperanjat dengan muka merah sekaligus kaget
dengan pertanyaannya. “Logikanya, dengan pakaian yukata seketat itu bukankah akan tercetak motif seperti—“ Tatsuya
menggambarkan motif g-string di
udara.
“Baka! Baka Tatsuya!” aku
memukulnya tepat di kepalanya. “Dasar mesum!” Lalu cepat-cepat menuju keatas
tanpa menghiraukan tertawanya yang terpingkal-pingkal.
“Miki-chan~ Miki-chan~
biarkan Tatsu-kun memastikannya~” dia berujar sok imut dibelakang dan dua
bakiak kulemparkan kearahnya sambil misuh misuh gak jelas. Bodoh. Tatsuya
bodoh. Kenapa aku harus mencintai makhluk bodoh sepertinya? Apa aku bilang
men—mencintai? Maksudku itu aku—ah lupakan. Bicara soal Tatsuya, kenapa tiba
tiba suaranya bagai lenyap ditelan bumi? Kalau dia tiba-tiba diam seperti ini,
aku jadi khawatir. Aku kembali menuju tangga untuk memastikan dan Tatsuya—
—tidak ada! Gawat!
“Tatsu-kun?” aku memanggil
namanya. “Tatsu-kun!” aku mulai berteriak. Aku mencoba menghilangkan pikiran
bahwa Tatsuya bisa saja dibawa cahaya asing yang datang dari UFO. Baiklah, aku
harus mengurangi porsi menonton film alien. “Tatsu-kun!” aku berteriak lagi dan
menuruni tangga sambil terus memanggil namanya. Aku bukan seorang pitcher yang melempar bakiak sekeras itu
sampai-sampai Tatsuya jatuh ke bawah kan? Tentu. Saja. Tidak. “Tatsu-kun!
Udahan dong petak umpetnya,” aku berteriak untuk sekian kali. Aku semakin
khawatir setelah sekian lama kupanggil tidak muncul juga.”Tatsu-kun!” aku
berujar ketakutan. Tempat ini adalah tempat rahasia untuk melihat hanabi dan
tidak banyak orang yang tau. Sepi. Gelap. Dan bagaimana kalau—
“KYA!~” aku berteriak ketika
tiba-tiba ada sosok berbalut putih ada di depanku. Aku langsung memukulnya
menggunakan kipas yang kupegang. Dan samar-samar kudengar suara cekikikan yang
begitu kuhafal. “Ta—Tatsu-kun?” aku berasa ingin menangis. Dia hanya melihatku
heran, “Ba-baka!” aku langsung menghambur memeluknya sampai kita jatuh terduduk
di pematang dekat sungai. “Kukira kamu dimakan alien!”
Dia hanya tertawa dan
mengelus lembut puncak kepalaku,”Kalau seperti ini, bagaimana bisa aku
meninggalkanmu,” dia berujar sedih. Aku melepas pelukanku.
“Eh? Kau akan
meninggalkanku?” aku berujar polos. Dia hanya memalingkan wajahnya,
menyembunyikan sinar matanya yang meredup.”Tatsu-kun?” Aku memanggilnya sambil
mencoba menatap wajahnya yang selalu menghindari tatapanku. Suara dentuman
keras di udara menunjukan bahwa pesta hanabi sudah dimulai.”Ha-hanabi,” aku memandang takjub
kearah langit sekilas lalu kuarahkan pandangan pada Tatsuya meminta penjelasan.
“Gomennasai. Aku harus mengikuti Tou-san ke Amerika,” dia akhirnya
berujar. Terdengar jelas dari mulutnya walau beriringan dengan suara keras dari kembang api
yang terus menggema menghias langit musim panas. Aku terhenyak, pikiranku
kosong harus merespon apa. Ini artinya aku dan Tatsuya akan—tak sadari aku
menangis. Aku menutup mulutku untuk meredam tangisku. Tatsuya memang bodoh, aku
akui itu. Tapi, bagaimanapun aku mencintainya. Sungguh! Dan aku tidak mau kita
berakhir seperti ini.
“Demo,” ujarku bergetar. Dia langsung memelukku erat. Aku bersandar
didada bidangnya.”—Tatsu-kun, jangan
pergi,” aku meremas kaus putihnya yang mulai basah karena air mataku.
Dia melepas pelukanku lalu menatapku dengan sebuah senyuman. Aku memerah dan
memalingkan pandanganku, “Jangan menatapku seperti itu. Aku jelek jika
menangis, Baka Tatsu!” aku menggembungkan pipiku sambil mengusap air mataku. Aku
tidak boleh terlihat memalukan seperti ini. Dia memegang tanganku. Aku hanya
melihatnya heran.
“Yubikiri genman~ uso
tsuitara, hari sen bon nomasu, yubi kitta,” nyanyinya. Aku hanya melihatnya
heran saat dia menautkan kelingkingnya denganku.”Ayo bernyanyi, Miki-chan.”
“Yu—Yubikiri genman,” aku
berujar ragu-ragu.” Kau seperti anak kecil, Tatsu-kun,” aku tak menyelesaikan
lagunya. Pemuda berambut coklat itu hanya tertawa.
“Tusuk aku dengan seribu
jarum jika aku melanggar,” dia berujar kembali. Aku hanya menatapnya sedih,”
Yubikiri genman~ uso tsuitara, hari sen bon nomasu, yubi kitta,” dia terus
bernyanyi sambil mengayun-ayunkan kelingking kami yang saling berpautan. Aku
mau tidak mau mengikuti nyanyiannya.
“—yubi kitta,” hingga aku
selesai bernyanyi, dia berhenti lalu tersenyum.
“Aku berjanji Miki-chan, aku
pasti kembali. Dan tempat yang pertama kutuju adalah rumahmu—“ dia berujar
riang. “—janji kelingking,” dia menunjukkan jari kami yang saling terpaut
sambil nyengir lebar. Ya, Tatsuya kadang punya sisi kekanak-kanakan juga, jauh
dari orang yang pikirkan bahwa dia adalah orang yang cool dan jual mahal. Ya, dia—Tatsuya—memang menunjukan siapa dia
sebenarnya hanya padaku. Dan itulah mengapa aku jatuh cinta padanya.
“Ne, Tatsu-kun?” aku
memanggilnya dan dibalas dengan sebuah dehaman. “Bukankan cerita tentang Tenshi no Yubikiri itu akan berakhir
menyedihkan?”
Dia langsung menoleh
kearahku,”Kita tidak akan tahu apa yang mereka lakukan di surga sana, nah?” dia
berujar santai sambil tersenyum. Aku hanya menunduk. “Ne, Miki-chan, kau bukan
putri.”
“Eh?” aku kembali menatapnya
yang masih menikmati kembang api yang lukisan bunga berkanvaskan langit musim
panas yang cerah.
“Dan aku bukan pangeran. Yang
ada hanya kau—Kiyozumi Miki dan aku—Yamada Tatsuya. Kita,” lanjutnya. Dia
menatap kearahku. Dapat kurasakan pipiku memanas saat Tatsuya perlahan
mendekatkan kepalanya kearahku.
Malam itu, langit musim panas
di Okazaki—prefektur Aichi menjadi saksi ciuman kita berdua. Ciuman pertama
dan—kuharap—bukan ciuman perpisahan. Deshou?
*
Hingga suatu saat putri jenuh dan memutuskan untuk mencari
pendamping dengan membuka sebuah sayembara—‘Barang siapa tahu apa yang
dilakukan dengan jari kelingking sang Putri, maka dia berhak menerima cinta
sang Putri.’
Tapi semua peserta yang datang tidak tahu apa yang harus
mereka lakukan dengan jari kelingking sang Putri. Hingga seorang pengemis
datang, dengan pakaian lusuhnya. Pengemis itu lalu menautkan kelingkingnya
dengan kelingking sang putri. Saat itu, putri sadar bahwa itu adalah pangeran.
Pengemis yang ternyata pangeran itu berkata.”Putriku, aku datang memenuhi
janjiku,” lalu sesaat kemudian, pengemis itu menghilang. Putri yang sadar bahwa
Pangeran telah tewas di medan perang merasa tidak dapat hidup tanpanya. Dan
memutuskan untuk bunuh diri.
*
Aku menatap layar handphone flip-flopku sambil memencet-mencet
keyboard melihat oricon chart bulan
itu. “Tabidachi no Haru ga Kita, nee?”
aku bergumam sendiri sambil menuju rak dimana lagu yang dibawakan oleh S/mileage itu berada. Tanganku hampir
saja meraihnya saat seseorang mendahuluiku mengambilnya.
“Hey—aku duluan yang—“ aku
tidak bisa melanjutkan kata-kataku saat kulihat orang yang barusan merebut CD
yang kuincar. “—Tatsu-kun?” aku berujar tak percaya sambil mengucek mataku
berulang kali—untuk memastikan itu benar-benar Tatsuya. Pemuda yang mengenakan
jaket bewarna hijau dengan headset di
lehernya itu hanya tersenyum padaku.
“How are you, Miki-chan?” tanyanya. Aku hanya mendengus, tak suka
dengan dialek Inggrisnya yang nyaris sempurna. Dulu, aku selalu bisa
mengalahkannya dalam bidang Bahasa. Tapi setelah lima tahun aku ditinggalnya ke
Amerika, kurasa aku jauh berada di belakangnya. Oke, tidak penting. Di Jepang
sendiri toh tidak diperlukan
kemampuan Bahasa Inggris. Kami berjalan keluar toko musik dan ikut dalam
keramaian Kota Miwa, distrik Ama—yang masih dalam prefektur Aichi. Aku
bercerita bahwa aku sedang mengejar gelar sarjanaku di Aichi Gakusen University
dan dia bercerita dengan sombongnya bahwa dia sedang menjalani bisnis otomotif
yang diturunkan oleh Otou-sannya
sedang maju pesat di Nagoya. “Ne, Miki-chan. Aku benar-benar memenuhi janjiku, darou?” dia tersenyum sambil terus
berjalan di pedestrian dengan aku
yang berjalan disampingnya.
“Ba—baka,”aku berujar pelan
sambil tersenyum. Legenda tentang Tenshi
no Yubikiri tidak pernah datang ke kehidupan kami dan berakhir dengan
Tatsuya yang memenuhi janjinya.
“—chan! Miki-chan! Awas,” aku
tersadar dari lamunanku. Seseorang mendorongku sampai aku tersungkur. Dan hal
pertama yang kulihat saat aku membuka mataku adalah Tatsuya yang—
“Tatsu-kun! Tat—“ aku
berteriak histeris dan menuju kearahnya. Tidak—kisah kita tidak adak berakhir
seperti legenda itu. Kau yang mengatakannya kan, Tatsu? Jadi buka matamu, Baka.
Atau kutusuk kau dengan seribu jarum.
*
Tepat dua minggu sudah
lamanya pertemuanku dengan Tatsuya dan Tatsuya masih berada di ruangan serba
putih ini. Musim gugur sudah berganti menjadi musim dingin. Aku melihat keluar
jendela, mengamati kerlap-kerlip kota Nagoya di malam hari. Tanganku menengadah
berharap salju pertama jatuh ke tanganku. Salju pertama di musim dingin katanya
bisa mengabulkan segala permintaan kan? Namun, hal itu tidak pernah datang
kepadaku.
“Tatsuya bodoh,” aku
menggenggam tangannya yang dingin lalu meniupnya supaya menghangat. Selang
infus dan oksigen masih berada di tubuhnya serta suara kardiogram yang sangat kubenci memenuhi ruangan.”Kau sendiri yang
bilang sendiri kalau kita tak akan berakhir seperti sang Putri dan Pangeran,”
aku mulai menitikkan air mata. Tidur di dada bidangnya yang naik-turun
perlahan, mendengarnya degup jantungnya yang biasanya akan bergedup lebih
kencang jika aku bersikap manja seperti ini.”Maka dari itu bangun Tatsuya. Atau
jika tidak, mungkin aku juga akan berakhir seperti sang Putri,” aku memejamkan
mataku. Tanganku menggenggam baju pasien Tatsuya erat,”Aku hanya tidak bisa
hidup tanpamu, Tatsu-kun. Aishiteru,” aku berujar lirih. Dan gelap. Dan masih
kurasakan air mataku yang tak bisa berhenti mengalir.
“—Miki-chan,” aku bahkan
berhalusinasi mendengar logat kansai milik
Tatsuya.”Hanya ada Miki-chan dan aku—Yamada Tatsuya.” Ya bahkan suaranya begitu
jelas sekarang. Kami-sama, jika benar ini memang mimpi di tengah malam,
setidaknya biarkan aku—
Kurasakan tanganku kananku
terangkat, aku terperanjat dari tidurku. Aku masih menatap gesture sempurna yang tersenyum itu. “Ada yang ingin kukatakan saat
itu—“ ujarnya. Aku hanya terdiam, membiarkan tangannya yang dingin menyentuh
jemari tanganku.”—Kiyozumi Miki,” dia berujar lalu menyematkan barang itu di
jari manisku. Sebuah cincin bermata ruby.”—menikahlah
denganku.”
Aku terlalu terkejut untuk
merespon tapi bulir-bulir air mata bahagia yang mengalir dari mataku cukup
menggambarkan semuanya. Benar, ini bukan cerita tragis antara Putri dan
Pangeran. Karena kami bukan salah satunya. Hanya ada Kiyozumi Miki dan Yamada
Tatsuya—kita. Selamanya.
.
.
A—antiklimaks ya? Huueh~ gomennasai~ -w-
Ini aku buat ngebut sengebut-ngebutnya. Namanya
aja juga cerpen jadi alurnya rada ngelompat biar gak ada kemelebaran cerita
[wut?!]
Gak kepikiran bikin sequel, setidaknya sampai
saat ini. Tapi aku suka dengan nama Kiyozumi Miki, imut banget denger nya
>.<
Udah segini ada Author’s Notenya, kebanyakan
ntar bisa kembung. Jaa~
