Posted by : panda random
10.2.14
Dan cerita ini aku post jam 2.04 am.
This story belongs to me, please put my trade mark if you wanna copy this. Thanks
SEBUAH CERITA YANG HILANG DARI INGATANNYA
Aku tertegun menatap deretan
huruf yang tertera jelas di layar laptopku. Nama seorang lelaki yang dulu
pernah singgah dihatiku muncul di beranda facebookku. Dulu.
“Jadi dia sudah
jadi cinta lagi ya?” aku berujar entah pada siapa. Hanya suara kipas angin yang
mengisi kekosongan di dalam kamar. Aku hanya terdiam, bingung antara harus
sedih atau bahagia melihatnya yang sudah berhasil moveon. Lalu aku mengasihi diriku sendiri yang kupikir aku sudah bisa terbebas dari bayangannya. Lalu apa arti
dari rasa sakit di dadaku?
Aku mengingat
pertama kali mengenalnya. Sebuah cerita konyol yang mungkin dialami oleh remaja
remaja labil. Awal bertemu di facebook, saling tertarik, dan saling penasaran. Aku
sudah lama mengenalnya hingga takdir membuat sebuah permainan. Aku ingat aku
sedang berada di dalam sebuah perjalanan menuju area pertokoan dan aku singgah
di salah satu toko. Aku sempatkan untuk membalas chat nya yang masuk.
“Kau dimana?”
“Aku sedang di toko dekat toko besi sini. Kau juga sedang
ada di daerah sini kan?”
“Ya.”
Lalu dia tiba-tiba
offline dan suara lonceng toko terdengar. Aku yang memegang satu pak tisu
langsung menatap kearah orang itu. Aku kembali melihat layar handphoneku, dia sudah online. Dan sebuah dentingan pertanda chat masuk mampir ke telingaku.
“Aku melihatmu.”
Aku berkedip, lalu
melihat sosok lelaki di depan pintu dengan nafas pendek-pendek seperti habis
berlari. Dia mengenakan hoodie dengan
celana jeans biru, rambutnya cepak dan
mata indah yang membiusku. Dia mendekatiku, dan—“Hai. Aku melihatmu,”
Saat itu aku sadar.
Mungkin takdir ingin menemukan kita.
Lalu setelah
pertemuan kami, egois mulai menggerogotiku. Aku benar-benar ingin dia hanya
melihatku, tapi semenjak pertemuan itu kurasakan dia mulai menjauh perlahan.
Aku memang seharusnya menghindar dari permainan itu, aku jelek dan aku tahu
itu. Dia pasti menjauh karena itu! Aku marah dengannya—ah tidak—aku tidak
pernah benar-benar marah dengannya, selalu saja ada perasaan yang membuatku
ingin kembali padanya. Tapi hari itu, saat aku mengutarakan rasa sukaku padanya
dia hanya menjawab—
“Aku dulu memang pernah tertarik kepadamu tapi kamu
seperti tidak ada respon dan sekarang.. maaf, aku sudah tidak menyukaimu.
Maaf.”
Aku tidak tahu
perasaanku pagi itu. Marah. Sedih. Kecewa. Dari awal mungkin aku sudah salah
mengartikan perhatiannya itu lebih dari perhatian teman kepada temannya tapi
dia—dia tak seharusnya nya mengakhiri apa yang telah dia mulai. Maksudku, bila
dia memang tidak tertarik padaku, lakukan di awal jangan disaat aku telah
mencintaimu! Brengsek!
Sejak saat itu kami
mulai bermusuhan, saling menyindir ataupun saling menghapus pertemanan dan
saling memblokir. Ya, saat itu aku yakin aku pasti sangat sangat sangat
membencinya sampai alam kubur. Dan kebencianku membuncah saat aku membaca
catatan hidupnya, disana ada namaku dan aku ditulis hanyalah seorang
pengganggu. Aku menangis malam itu dan handphone yang kulempar ke lantai seakan
tak memberi suatu kepedulian. Jadi selama ini, saat saat manis kita—setidaknya
saat aku bukan siapa-siapamu—adalah bohong? Begitu. Mungkin aku mulai sadar
kedudukanku. Aku. Tak. Lebih. Dari. Sekedar. Pengganggu.
Waktu berjalan dan
saat itu aku mulai disibukkan dengan acara festival. Aku perlahan mulai lupa,
setidaknya kesibukan yang memaksaku bangun tengah malam membuatku tak punya
waktu memikirkannya.
“Kau pasti akan datang ke festivalku kan? Maksudku, aku
dipilih jadi panitia, kau tahu?”
“Tentu saja. Aku tak pernah membohongimu. Kau adalah
penyemangatku.”
Ingatan itu datang
lagi, percakapan akan janjinya untuk datang ke festivalku. Kata yang paling
manis yang pernah kubaca, sayang sekali itu tak lebih hanya sebuah ketikan. Tak
bermakna baginya tapi bagiku—ah entahlah. Kesibukan akan festival mulai berceceran,
salahkan saja dia yang membuatku tak fokus! Dan makin tak fokus saat kutahu dia
tak akan datang. Aku mendesah panjang, mensugesti diriku agar bisa melupakannya
dan sugesti itu tak benar berhasil.
Panitia bersorak
saat pohon bambu untuk tanabata berhasil didirikan. Seorang kakak kelas yang
membawa kertas permohonan menuju kearahku, “Kau mau coba?”
Aku mengangguk,
mengambil spidol dan menuliskan sesuatu yang masih sangat kuhafal.
Semoga bunka bisa sukses ^^
—dan tulisan yang
lebih kecil—
..dan semoga kita bisa berdamai ^^
Lihat kan? Bahkan
sekalipun aku ingin membencinya di dalam hatiku aku masih sangat berharap kita
bisa saling memaafkan. Aku bodoh. Apa yang aku harapkan hah?
Akhirnya dia
datang, sebuah titik terang. Aku terus mencoba menghindar darinya tapi sebanyak
empat kali menghindar, aku selalu bertemu dengannya. Bodoh, bagaimana bisa aku
bilang ini jodoh hah? Bahkan aku sangsi dia menyadari keberadaanku. Ah
sudahlah.
Mungkin bisa saja
aku mengatakan bahwa aku telah menyukai orang lain. Namun bila melihat nama itu
lagi, pertahanan itu seakan roboh seketika. Aku masih mengharapnya? Tuhan,
mengapa aku bisa seperti ini? Apa aku sangat mencintainya? Bodoh sekali.
Dan malam itu, awal
yang baru bagi kita. Aku menawarkan sebuah awal yang dimulai dari nol lagi, dan
kita sama sama setuju.
Thanks for confirm. Aku Reza, kamu siapa?
Aku tersenyum dan
sejurus kemudian mengklik tombol kirim. Dan hubungan kami seakan
membaik. Doa di tanabata itu bisa saja benar, tapi bisa saja itu juga sebuah
benang merah yang dirangkai takdir. Kami chat
sampai dini hari pada hari itu, mengulang masa-masa awal saat pertama kita
belum bertemu.
“Aku bingung dulu mengapa kita bisa saling berantem”
“Hahaha. Iya, aku juga.”
Dan percakapan itu
terus berlanjut yang mau tak mau mengusung bibirku melengkung keatas. Aku
merasa sebagai gadis yang paling bahagia saat itu. Sejak kita bilang itu
dimulai dari awal, aku menanamkan diriku bahwa kita hanya bisa sebagai teman.
Aku berusaha sebaik mungkin memenuhi peran sebagai ‘teman’ itu walau terkadang
percikan sakit ada di hatiku saat dia bercerita soal gebetannya masih terasa,
tapi aku mencoba bertahan. Karena selamanya kita hanya akan bisa menjadi teman
kan? Maksudku, aku benar-benar akan menjaga hubungan kita walau hanya sebatas
teman, karena aku tahu aku tak bisa memiliku. Karena kita saling tahu bahwa
keegoisan yang dimunculkan cintaku akan merusak hubungan kita seperti tahun-tahun
lalu. Cukuplah, cukuplah kita menjadi teman asalkan aku bisa terus bersamamu.
Melihat senyummu. Mendengar suaramu. Dan memukulmu pelan sebagai tanda
pertemanan.
Aku—aku berusaha
keras untuk melupakanmu, jadi jangan khawatir. Aku—aku berusaha untuk menerima
status kita yang tak lebih dari seorang teman. Aku—aku akan mencoba untuk
bangkit. Suatu saat aku yakin pasti bisa meninggalkanmu di ujung jalan bersama
orang yang sangat kau cintai itu. Suatu saat aku yakin pasti bisa tersenyum
bahagia merasakan bahagiamu saat kau bersanding di pelaminan bersama orang yang
kau cintai itu. Saat ini memang belum, tapi aku akan berusaha, usaha yang
kuharap bukan usaha nihil yang sebelumnya. Jadi, kamu jangan khawatir.
Dan kembali ke masa
sekarang dimana aku mengetik sembari menyusun kepingan memori yang telah kamu
lupakan. Tidak masalah jika kamu lupa karena kita berhak menghapus kenangan
yang ingin kita lupakan kan? Tapi asal kamu tahu, sepahit apapun kenangan yang
kumiliki bersamamu, aku akan selalu mengenang kenangan ini. Karena kamu, iya
kamu, pernah menjadi orang yang paling sangat berharga bagiku. Dulu. Sekarang.
Dan mungkin.. nanti. Karena apapun kau menyebut hubungan kita, kau akan selalu
menjadi ‘teman’ yang sangat berharga bagiku.
Kamu, ini adalah
sebagian kecil ingatanmu yang masih bisa kuingat—tidak, aku mengingat semuanya,
bahkan saat kisah masa kecilmu yang kutahu, hubungan orang terdekat kita yang
saling mengenal. Takdir seolah menghubungkan kita tapi kenyatannya takdir hanya
menakdirkan kita tak lebih dari seorang teman. Bagiku, cukup, asal aku bisa
tetap menemuimu.
