Recent Blog post
Archive for Februari 2014
Time Paradox
A litte bit inspirated by :
60 Seconds of Cold November © rully bee
Butterfly Effect
Paradoks—pernyataan yang seolah-olah berlawanan dengan pendapat
umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran
.
12 Januari 2013 – 09.10 AM
Aku melihatnya dari kejauhan. Seorang
gadis berambut pendek di belakang tapi rambut depannya yang panjang menjuntai,
membingkai wajahnya. Dia mengenakan dress
coklat di atas lutut dengan fur kneel
boots yang berwarna putih. Dia sedang berbincang-bincang dengan
teman-temannya layaknya gadis normal lainnya. Layaknya. Namun kupikir tidak
demikian, dia adalah gadis paling aneh diantara gadis-gadis yang pernah
kutemui. Dia berjalan kearahku, melemparkan sebuah senyum lalu pergi berlalu.
Aku hanya menatapnya datar, tak membalas senyumnya apalagi sapaannya. Kupikir
aku tidak menyukainya. Sejak awal memang seharusnya begitu.
Awal pertemuanku terjadi satu hari
sebelumnya, saat aku terpaksa menyelesaikan tugasku sebagai ketua keamanan di
kampus ini. Salahkan saja kampus ini yang membentuk klub semacam itu, apa
gunanya hansip di depan kampus hah?
“..is
falling down. London Brigde is falling down,” aku berjengit ketika
tiba-tiba kudapati suara feminin mampir ke telingaku saat aku melewati lorong
di sekitar fakultas ekonomi. “Berhentilah bernyanyi. Lagu itu mengerikan,”
suara yang masih sama. “Bagaimana kalau lagunya diganti saja?” aku masih
memasang telingaku baik-baik.
Aku berjalan mengendap-endap dan
mencari asal suara. Dengan perlahan aku mengintip lewat jendela.
“Kau punya ide? Bagaimana kalau Twinkle Twinkle Litte Star?” dia berujar
lagi. Aku mengeryitkan dahiku heran. Dia sendiri. Bicara sendiri di bangku
kuliahnya. Rambutnya yang panjang di depan menjuntai hingga menyentuh buku
catatannya. Dia tampak sedang menulis sesuatu dan bersenandung lagu—ah tidak,
lebih tepatnya bergumam tidak jelas. Suaranya jelek dan tak membentuk sebuah
lagu. “Woah, welcome,” dia berujar. Menatap kearahku lalu melontarkan sebuah
senyuman. Aku terlonjak kaget hingga terduduk. Sial, dia tahu keberadaanku.
Aku bangun, sedikit membersihkan
celana jeansku. Mata gadis itu masih
menatapku dengan senyumannya yang masih enggan lepas dari bibirnya. Arah
matanya mengikutiku sampai aku sampai di ruang kelas. “Psikopat,” aku hanya
mendecih.
Dia membulatkan matanya melirik ke
kanan dan ke kiri, ”Apa psiko yang kau maksud itu aku?” dia menunjuk dirinya
sendiri sambil memasang wajah yang tak bisa kudefinisikan. Kaget. Datar. Lucu. Aneh.
Aku hanya memutar bola mataku tak
minat. “Kau gadis aneh. Berbicara dengan tembok, hm?”
Dia hanya tersenyum, merapikan
buku-buku catatannya lalu memasukkannya kedalam tas jinjingnya. Dia meluruskan
kedua tangannya diatas meja lalu meletakkan dagunya di sela-sela tangannya. Dia
menatapku,”Aku lebih suka berbicara dengan kucing sih,” lalu tertawa renyah.
Aku hanya mendecih. Aku benci dengan
hal dengan hal yang tak logis. Dan gadis ini adalah salah satunya. Aku
membencinya. Aku mengebrak meja di depanku, dia langsung terperanjat dan
menatapku bingung. “Bilang ke kucingmu itu, apa dia bisa mengajarimu cara
berdandan!” Satu gebrakan lagi. “Apa dia bisa membuat cantik!” aku berteriak.
Aku lepas kendali, aku hanya tak tahan dengan keanehan ini.
Dia memiringkan kepalanya bingung lalu
tertawa,”Kucingku kan cowok mana dia tahu dengan hal begituan,” dia bicara di
sela-sela tawanya. Dia beranjak dari kursinya lalu menghampiri jendela di
dekatku yang menghadap kearah lapangan. Dia menoleh sebentar kearahku,”Oh. Aku Mia.”
Aku hanya mendecih untuk yang kesekian
kali,”Aku tidak bertanya.”
Dia hanya tersenyum lalu mengalihkan
pandangannya ke bintang-bintang malam itu. Jam sepuluh malam memang waktu yang
tepat untuk bintang-bintang menunjukkan kemilaunya. “Aku tertidur lalu saat
terbangun ternyata udah semalam ini,” dia berujar diselingi tawanya yang
ringan.
“Aku tid—“
“Aku menjawab sebelum kau bertanya.
Aku cuma tidak ingin kau mengira aku belajar di kampus semalam ini—“ dia
menghadap kearahku. “—belajar itu membosankan,” dia menghela nafas panjang.
Menarik. Dia tahu apa yang kupikirkan.
“Lagipula orang mana yang mau belajar
di kampus? Enak juga di apartemen, ditemani dengan kucing—“
“Kau orang anehnya,” aku memotong
kalimatnya. Memasukkan kedua tanganku di saku.
“Eh?” dia berujar bingung. “Aku punya
banyak teman asal kau tahu. Aku tidak seperti gadis kesepian psikopat yang akan
menyayat tangannya seperti yang pikirkan.”
Aku hanya mendecih. “Nah, aku jadi
semakin mencurigaimu.”
Dia membalasku dengan tatapan protes.
“Kau sendiri kenapa belum pulang?”
Aku hanya diam. Tak menyahut
pertanyaannya. Aku seharusnya sudah berada dibawah selimutku asal kau tau.
Tapi, ada perasaan aneh yang membuatku masih bertahan disini. Sebuah
ketertarikan? Gravitasi?
“Oh. Okay. Baiklah kalau tidak mau
menjawab,” gadis itu memutar matanya. Menendang-nendang udara dengan kaki
kanannya. “Sibuk dengan laporan keamanan. Hm, mungkin?”
Aku melotot. Dia mulai bicara sendiri
lagi. Dasar gadis aneh.
“Aku aneh ya?” dia bertanya sambil
memajukan wajahnya di depanku.
Aku menatapnya datar. YA! Kau aneh.
“Tidak,” namun kata barusan yang keluar dari mulutku. Kadang hati tak sesuai
dengan mulut. Aku masih melihat dia yang tersenyum dengan tatapan datarku.
“Sudah malam,” dia memegang bahuku
lalu menepuk-nepuknya pelan. “Sebaiknya kau pulang.”
“Bukan itu seharusnya yang dikatakan
seorang cewek aneh sepertimu kepada seorang cowok,” aku menatapnya datar. Tak
minat.
“Oh. Okay,” dia melepaskan tangannya
dari pundakku, beralih memegang dagunya. “Jangan khawatir. Aku bisa pulang sendiri,”
lanjutnya.
“Aku tidak tertarik mengantarmu,”
ujarku kejam yang hanya dibalas dengan senyumannya. Tidak, aku tidak mulai
tertarik dengan gadis ini kan? Dia berlalu disampingku, mengambil tasnya dan
aku yang hanya bisa melihat punggungnya menjauh.
Dia membalikkan badannya sekilas.
“Daaah!” dia melambaikan tangannya dengan sebuah senyum di bibirnya. Aku hanya
mendecih. Aku benci dengan gadis aneh. Dia sama sekali bukan tipeku. Aku hanya
menyukai gadis normal berdada besar yang manis. Dan dia tidak sedikitpun—atau
bahkan tidak sama sekali—masuk dalam kriteria itu. Cih.
Aku menatap telapak tangan kananku
lalu bergantian menatap lorong yang barusan dilalui gadis itu. Dia sudah
berlalu, tak terjangkau lagi oleh mataku. Aku mengangkat tangan kananku, menggerakkannya
kaku membentuk sebuah lambaian. “Hm. Bye,” aku tersenyum tersendiri, menyadari
keanehan yang barusan kulakukan. Aku benci gadis aneh, itu mantra yang selalu
kuucapkan sejak saat itu. Dan berhenti saat lusanya kudapati kabar kematian
gadis itu. Terbunuh tragis. Oleh pembunuh misterius.
13 Februari 2013 – 03.00 PM
Kematian Mia tidak menjadi hal yang
banyak dibicarakan orang hingga sore ini. Kematian Mia seperti hal yang sudah
wajar—ah, atau mungkin pihak kampus tidak mau membicarakan hal ini lebih
lanjut. Yang kutahu dari koran yang pagi ini kubaca, telah ditemukan gadis
terbunuh di apartemennya dengan darah yang menggenang. Setidaknya itulah yang
ditulis oleh wartawan surat kabar yang hiperbolis, foto tidak cukup menjelaskan
semuanya karena yang kulihat adalah foto tubuh Mia yang tersensor di halaman
hitam putih sebuah koran abal-abal. Tidak minat untuk mencari tahu lebih, aku
meneruskan bacaanku yang sempat tertunda oleh anomali hari ini.
“Tak kusangka Mia akan berakhir
seperti itu,” seorang gadis berkucir pendek itu berujar kepada temannya yang
berambut panjang disebelahnya. Gadis berambut panjang itu mengangguk pelan
sembari menyelipkan rambutkan di belakang telinga. Mereka menuju kearahku lalu
terduduk di bangku.”Dia gadis yang baik dan ceria, kan? Kenapa harus begini?”
lanjut si gadis berkucir pendek.
Mataku terus melihat buku namun
telinga dan pikiranku kutujukan sepenuhnya kepada pembicaraan mereka. Aku
memang tidak minat, aku hanya ingin tahu saja. Masalah?
“Terakhir dia berkata akan lembur
seharian di apartemennya karena tugas yang menumpuk—,“ujar gadis berkucir
pendek itu lagi. Suaranya terdengar gemetar kali ini. “Aku menawarkan bantuan
tapi dia menolak. Dia berkata bahwa—bahwa—,” kata-katanya terhenti, tergantikan
oleh sebuah isakan. Ku meliriknya dan mendapati gadis itu menutup mukanya
dengan kedua tangannya.
Gadis berambut panjang disebelahnya
hanya menatapnya iba dan mengelus pundaknya pelan, berusaha meredam kesedihan
temannya.
“—darahnya. Tidak, dia bukan Mia,”
ujarnya semakin histeris dengan air mata yang terus mengalaris dan
menggeleng-gelengkan kepalanya keras.
Aku mengeryitkan dahi sambil menatap mereka.
“Sudahlah. Jangan bahas soal itu,”
gadis berambut panjang itu ikut menunduk. Lalu menengok ke kanan dan kiri
seakan maling yang ingin mengambil barang curiannya. Aku refleks menatap bukuku
kembali, pura-pura tak mengikuti arah pembicaraan mereka. “Ba—bagaimana
kucingnya?” aku mengeryitkan dahi heran. Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku.
Apa hubungannya seorang kucing dengan kematian Mia? Apa kucing itu lebih
berharga daripada seorang Mia? Tiba-tiba fertigoku seakan mau kumat.
Gadis berkucir pendek itu hanya
mengangguk di sela isakannya.
Gadis berambut panjang itu menghela
nafas lega. Aku langsung menatapnya dan dibalas dengan tatapan menusuknya yang
tiba-tiba. “Menguping kematian adalah hobi yang buruk,” ujarnya sarkasme.
Aku hanya bisa mengutuknya dalam hati.
Yang pertama duduk di bangku ini adalah aku. Dan bukan salahku jika aku tidak
sengaja mendengarkan pembicaraan kalian. Kedua gadis itu akhirnya beranjak dari
bangku setelah melempar tatapan tajam kearahku—terlebih si gadis berambut
panjang yang menjengkelkan itu. Aku hanya menatap mereka datar, menatap
punggung mereka yang menjauh kemudian hilang dalam kerumunan hiruk pikuk
kampus. Aku menatap kembali bukuku, merenungi apa yang barusan mereka katakan.
Dan ujaran yang terus teringang di benakku, sebuah gumaman si rambut panjang
yang cukup bisa kudengar.
“Ya, dia bukan Mia. Lebih tepatnya sudah tidak berbentuk seperti
Mia.”
“Syukurlah. Kucingnya selamat, kuharap ada—“ kata
terakhirnya tak jelas. Apakah sebuah mantra?
Aku langsung mengambil koran abal-abal
pagi ini yang mengulas soal kematian Mia dengan buru-buru. Dan langsung membuka
halaman tiga yang menampakkan foto tubuhnya yang disensor dan dibelakangnya
kudapati tatapan mata yang menyala oleh—
—seekor kucing. Ku tidak mengerti
pasti warna kucing itu karena berita Mia ada di halaman koran hitam putih. Ku
amati terus foto kucing itu, tertangkap oleh kamera yang memantulkan warna
matanya sehingga tampak menyala dalam kegelapan.
Satu kedipan, aku makin terus menamati
foto itu. Tidak ada yang salah.
Dua kedipan. Aku tidak mengerti kucing
ini bisa lebih berharga dari Mia.
Tiga kedipan. Aku terperanjat, foto
kucing itu menghilang. Aku menatap lebih dekat lagi, memajukan koran itu hingga
sepuluh centimenter di depanku untuk memastikan bahwa sedari tadi aku tidak
berhalusinasi melihat foto kucing. Sial, apa ini koran abal-abal tapi
mengandung magic seperti yang aku
lihat di film karya J.K Rowling?
Aku masih dalam kekagetanku. Hari ini
benar-benar sangat melelahkan dan penuh dengan ketidak logisan. Aku menghela
nafas panjang dan menatap langit sore yang mulai berubah jingga. Sakit.
Kudapati sesuatu di dadaku sesak, aku meremas dada kiriku. Dan perlahan aku
terpejam, merasakan sebuah linangan air yang turun di pipiku. Sakit. Kepalaku sakit.
Aku ingin istirahat. Sejenak menikmati
kesendirian yang memuakkan ini.
03 Maret 2010 – 10.55 AM
“Hey, my bro,” seseorang merangkul pundakku dari
belakang. Aku hanya menatapnya sekilas, dia adalah Albert. Cowok yang aku
ketahui sebagai seorang sahabat semenjak aku melangkahkan kakiku ke kampus ini.
Aku terus berjalan, menghiraukan keberadaannya. Dia mendengus,”Ck. Andromeda
Polaris, setidaknya balaslah sapaan sahabatmu yang paling ganteng ini,” dia
memutar matanya bosan lalu melepas rangkulannya.
Aku menatapnya sekilas,”Hey Albert.”
Albert hanya berdeham lalu tersenyum
lebar dan beralih ke i-pod putih kesayangannya.
“Kau tahu bagaimana Mia terbunuh?”
Albert menghentikan aktivitas memasang
headphonenya dan melihatku heran. “Hm? Mia?” dia memasang pose berpikir—sok
seperti Sherlock Holmes yang sedang berpikir, hanya saja Albert berotak kosong.
“Aku bahkan baru mendengar namanya,” lanjutnya lalu nyengir lebar. Jawaban yang
begitu mengecewakan.
Berganti aku yang terkejut,”Bukankah
kau satu klub dengannya di klub bandmu?” Aku menatap Albert dengan sejuta tanya
yang juga dibalas dengan tatapan sama darinya. “Mia. Mia Funchsia.”
Albert melihatku dengan heran sambil
menggelengkan kepalanya pelan, “Andro, kau tidak apa-apa? Kau demam?” Pemuda
berambut raven itu mengeryitkan dahi,”Tidak ada anggota klub yang bernama Mia.”
Aku langsung menatapkan punggungku di
tembok terdekat. Tidak. Tidak mungkin kematiannya terhapus. Aku melihat wajah
Albert yang beberapa meter di depanku, ada raut kekhawatiran disana. Matanya
memancarkan iba dan sedikit keprihatinan bahwa sahabatnya mungkin saja
menderita penyakit yang sama seperti pasien rumah sakit jiwa. Pandanganku
buram—tidak, ini bukan fertigo. Aku melihat jam digital yang melingkar di
tangan kiriku. Aku terhenyak.
3 Maret 2010!
Kakiku gemetar saat aku menghampiri
Albert. Dia yang beberapa meter didepanku ikut menghampiriku saat dilihatnya
aku yang limbung. “Andro, kau tidak ap—“
‘BRUK’ seseorang tiba-tiba menabrakku.
Aku jatuh terduduk dan memijit kepalaku. Sakit. Kulihat sekilas Albert
menghampiriku dan membantuku berdiri namun pandanganku kutujukan terhadap orang
yang menabrakku barusan. Seorang gadis berambut pendek, dengan kacamata tebal,
kemeja floral panjang yang dikancing
penuh dan rok chiffon semata kakinya.
Satu kesan yang kudapat, dia gadis yang cupu. Gadis itu kemudian menunduk,
memunguti buku-bukunya yang bercecer.
“Ma—maaf,” ujarnya pelan.
Aku tak acuh tapi mengambil bukunya
yang terlempar cukup jauh. Sayup-sayup kudengar suara Albert yang berbasa-basi
dengan menjelaskan bahwa temannya yang satu ini—aku—sedang mempunyai hobi baru
yaitu mengalamun. Aku tak mau ambil pusing dengan perkataannya barusan, aku
sudah pusing dan tak mau tambah pusing lagi. “Ini,” ujarku sembari menyerahkan
dua bukunya.
“Terima ka—,” ujarnya pelan, sangat
pelan hingga kalimat akhirnya tak bisa kudengar dengan jelas. Namun aku tahu
bahwa dia bermaksud berterima kasih kepadaku. Aku hanya mengangguk. Dia
akhirnya mau menatap mataku setelah sekian lama menunduk dan melontarkan
senyuman.
Aku mematung. Lalu dia berlalu disampingku.
Mata itu, mata yang sama. Aku menggenggam pergelangan tangannya, mencegahnya
untuk pergi dan menyeretnya kembali hingga kini dia didepanku. “Mi—Mia?” gadis
itu terlihat terkejut. Mungkin memang aku benar menyebut namanya.
Albert bingung dengan situasi yang
terjadi sekarang. Dia hanya melihat antara aku dan Mia secara bergantian.
“He—hei. Apa yang—“
Kalimatnya tak selesai. Aku hanya
fokus dengan gadis yang di depanku sekarang. Aku menyeretnya, menghiraukan
panggilan Albert dan juga menghiraukan rintihan Mia yang kudengar beberapa
kali. Gadis itu sedikit berlari untuk mengimbangi langkahku yang lebar.
Berulang kali dia juga meronta agar aku melepaskannya. Tidak. Kau tidak bisa,
Mia. Aku tidak peduli, aku hanya ingin memperjelas ketidak jelasan ini. Bagaimana
bisa aku terlempar ke masa lalu dan bagaimana bisa aku bertemu denganmu di
tahun 2010. Sial, ini membingungkanku.
Aku sampai di gedung belakang sekolah
yang sepi. Aku langsung mendorong gadis itu sampai punggungnya menatap tembok
dengan cat yang sudah mengelupas. Wajahnya merah dan nafasnya terengah-engah.
Aku meletakkan kedua tanganku disampingnya, memenjarakannya. Sekarang, tidak
ada tempat lari lagi. “A—apa yang ka—kakak—“
Ucapannya terhenti ketika perlahan
kulepas kacamatanya dengan tangan kananku. Dia berusaha mencegahnya namun
kiriku dengan sigap menggenggam kedua tangan mungilnya dan menaruhnya di atas
kepalanya. Cih, aku terlihat seperti orang yang akan memerkosa anak orang. Tapi
tentu saja tidak, aku seharusnya tidak tertarik dengan gadis ini. Seharusnya.
Namun kadang takdir berkata lain. Aku berhasil melepas kacamatanya dan kini
matanya menatapku dengan ketakutan yang luar biasa. Jangan begitu, aku juga
membenci dengan hal yang kulakukan sekarang. “Ternyata kau memang Mia,” aku
menunduk. Dadaku naik turun, meraup oksigen sebanyak yang aku bisa karena
berulang kali aku tercekat oleh kekagetan yang disebabkan oleh gadis di depanku
ini. Aku menatapnya kembali dan kudapati dia yang menangis. Apa dia benar
berpikir aku akan memerkosanya?
Aku tersenyum, menghapus air matanya.
“Kau gadis aneh. Jika aku jadi kau, aku akan berteriak atau setidaknya akan
menendang selangkangku.”
Dia menatapku sambil sedikit terisak,”Ka—kau
ingin aku melakukannya?”
Aku merenggangkan cengkraman tangan
kiriku. Gadis itu langsung mengelus pergelangan tangannya lalu melontarkan
sebuah senyuman.
“Hanya saja aku tahu kalau kakak tidak
berniat apa-apa, makanya—“
Dia terhenti saat kedua tanganku
kembali berada di samping kanan-kirinya. Nafasnya sudah teratur, dapat kudengar
itu. Bau samponya, aroma jeruk—persis seperti anak kecil. Aku terkekeh. Kembali
mengingat pertemuan pertama kami di tahun 2013, dia tetap aneh bahkan di tahun
2010. Selalu saja bisa melihat apa yang dipikirkan orang lain. Itu aneh kan?
Gadis itu hanya memasang tampang
bingung, menatap ke tangan kanan dan kiriku secara bergantian. “Oh. Bagaimana
kakak bisa tahu—AHH!” dia tiba-tiba berteriak bersamaan dengan kepalaku yang
memanas. Sakit. Sakit sekali. Pandanganku memburam, dapat kulihat gadis itu
menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membulat layaknya orang syok.
Seluruh badanku seperti kehilangan fungsinya. Aku memegang bagian belakang
kepalaku.
Darah. Darah mengguyur kepalaku? Atau
apa? Aku tersungkur kesamping. Waktuku seperti tak lama lagi. Pandanganku
menggelap setelah sebelumnya indra perasaku merasakan dingin di pipiku, lalu
disusul oleh tatapan mata kuning-biru yang dimiliki seekor kucing hitam.
Seekor kucing..mungkin itu kuncinya.
Dan kali ini aku sepenuhnya terpejam.
Andromeda Polaris termakan omongannya. Andromeda Polaris akan masuk di koran
abal-abal dengan penulis berita yang hiperbolis. Andromeda Polaris mati
tertembak peluru nyasar.
to be continued. .
[curhatan si author moody]
Ku beritahu sebuah rahasia, jadi semua cerpen disini adalah cerpen-cerpen yang sudah tertimbun cukup lama di kotak dokumenku LOL. Seperti karya ini juga, seingatku cerpen ini aku buat saat aku masih semester 1 (sekarang aku semester 2) LOL xDD
Sebenarnya, aku suka cerpen ini, aku suka tokoh Mia dan Andro yang berjalan-jalan di benakku. Dan tahu kenyataan bahwa Andromeda adalah nama seorang dewi sedikit membuat shock, tapi entah mengapa aku suka karakter cowok disini yang memiliki nama Andromeda (cowok normal, tentu saja)
Kerangkanya jadi rada ngeblur, maklum lah author moody seperti saya cuma nulis waktu mood aja #plakjder. Cukup, jangan tampar aku lagi! Aku akan berusaha membangun tubuh cerita ini lagi, jadi doakan saja supaya aku bisa menemukan insprirasi yang bagus ke depannya. HAHAHA!
Oke. Cukup sekian. Terima kasih. Muah. Peluk sayang, cium cinta. #dihajarhabishabisan
[CERBUNG] TIME PARADOX
Gak asing pasti sama gambar diatas, yep benar sekali! Onion Rings! Makanan ringan ini sering ditemui di restoran junkie atau mungkin cafe dengan porsi sedikit orz. Tapi sekarang kalian bisa membuat sendiri. Gak perlu repot. Gak perlu kecewa atas porsi sedikit (karena kalian bisa buat banyak dan makan sepuasnya!). Dan tentu saja ada kebangga sendiri karena bisa masak hwehe.
Jadi.. kemarin, tepatnya tanggal 11 Februari aku iseng-iseng di dapur buat bikin makanan unyu ini. Hwehe. Jujur aja, aku pertama makan onion ring yaa waktu aku masak ini pertama kali. Yum! :3
Oke, mungkin gue kampungan atau gimana tapi pertama lihat ini, gue pikir adalah sejenis cumi atau seafood eh tenyata cuma bawang bombay. Duh, dungu. Nah, berhubung masakanku kemarin berhasil, aku mau kasih resepnya. Bukan resep original dari ku sih tapi hasil modifikasi dari beberapa sumber. Rasanya? Dijamin enak kok, dengan syarat kamu berbakat masak dulu
- Bahan :
- 1 buah bawang bombay besar
- 2 sachet tepung serbaguna 80gr
- 1 sdm tepung beras
- 1 sdt baking powder
- garam secukupnya
- 1 telur ayam
- +/- 200 ml susu cair (bukan kental manis lho yaa)
- 200 gr tepung roti
- Minyak goreng
- Langkah-langkah :
- Potong bawang bombay kira-kira 2,5 cm, pisahkan menjadi cincin-cincin. Dalam hal ini, aku rada kesulitan, jadi pake hati saja hwehe. Jika terpaksa putus jangan dibuang, tetap lanjut ke step selanjutnya, malah jadi onion stick ntar yang rasanya sama :D
- Rendam dalam air es kurang lebih selama 15-20 menit. Ini bertujuan biar bau bawangnya gak nyengat.. kurasa.
- Sembari menunggu, campur tepung terigu serba guna dua sachet tadi dengan 1 sdm tepung beras, 1 sdt baking powder, dan garam secukupnya (aku sih masukin 1 sdt garam saja).
- Kemudian, kocok lepas telur ayam lalu tuangkan susu cair perlahan, kocok lagi sampai berbusa (?) eh sampai kira kira tercampur.
- Siapkan tepung roti.
- Oke, semua bahan udah siap dan pastikan 20 menit sudah berlalu. Kita akan mulai membumbui cincin-cincinnya, hwehe. Lakukan seperti ini :
- Tiriskan bawang dari air es
- Masukan ke dalam tepung sambil ditekan tekan agar semua tepung menempel di bawang bombay
- Masukan ke dalam telur
- Dandani dengan tepung roti
- Lakukan sampai bawangnya selesai
- Sudah hampir jadi, tinggal goreng saja. Pastikan minyaknya banyak yaa, maksud saya waktu digoreng nanti bawang pastikan tercelup semua dengan minyak.
- Goreng sampai kuning kecoklatan, jangan sampai gosong, bolak balik onion supaya warnanya semakin cantik.
- Sip. Onion Rings siap disajikan!
![]() |
| gambar ilustrasi, |
- Supaya Onion Ring tetap renyah, taruh Onion Ring yang baru saja diangkat dari penggorengan ke wadah yang sudah dilembari tisu makan/kertas minyak, tisu makan/kertas minyak disini berfungsi untuk menyerap minyak. Selain itu, jangan ditumpuk dengan Onion Ring lainnya karena Onion Ring di bawahnya akan terlumuri minyak (mengurangi kerenyahan)
- Tambahkan bumbu perasa seperti bumbu balado, BBQ, atau sesuai selera. Namun tidak diharuskan, Onion Ring sudah enak dari sononya. Hwehe. Pake saus dan mayonaisse juga bisa menjadi alternatif.
- Telur yang bersisa tidak perlu dibuang, tambahkan sedikit tepung terigu serbaguna lalu goreng. Memang butuh kesabaran saat menggorengnya, tapi kalau berhasil, sisa telur ini punya tekstur lembut yang lumer di mulut. Yum! :3
Nah~ sekian resep dari saya. Semoga berhasil dan selamat memasak.
Onion Ring, YUM!
[NOT] Tenshi no Yubikiri’s Story
-sedikit pemanasan fluff sebelum valentine-
.
.
Dahulu
kala, ada seseorang putri yang sangat cantik dan menjadi pujaan banyak pangeran
diseluruh dunia. Hingga tiba saatnya putri itu mencari pendamping hidupnya, dia
mengadakan sebuah sayembara. Sayembara yang diikuti banyak pangeran meliputi
berbagai tes penguji maut yang kini hanya menyisakan lima orang pangeran. Dan
tahap terakhirnya—
“Barang
siapa bisa menebak jari apa yang disembunyikan sang putri, maka ia berhak
mendapatkan sang putri,” sang penyuruh kerajaan berkata dengan gulungan kertas
di depannya dan putri berkimono di belakangnya.
Empat
pangeran menjawab dan sekarang tiba giliran pangeran kelima. Pangeran itu
menunjukkan jari kelingkingnya. Mata manik sang putri melebar lalu sedetik
kemudian dia tersenyum. Dia berjalan menuju kearah pangeran dan keduanya saling
menunjukan jari kelingkingnya.
*
“Kiyozumi Miki?” Ao-sensei memanggil dari
depan kelas, aku terperanjat. Pandanganku yang sedari tadi terarah ke lapangan
tidak mengerti apapun yang tengah dibicarakan oleh guru Kimiaku satu itu—fusi,
fisi, radioaktif atau apapun itu.
“Ha-Hai,” aku berdiri dari tempat dudukku.
Menatap Masaki Yumi yang duduk di meja sebelahku dengan tatapan khawatir—yang hanya dibalasnya dengan sebuah gelengan
kecil. Matilah saya. Kupikir hukuman untuk membersihkan kolam renang hari ini sudah
ada didepan mata. Dan benar saja, disinilah aku sekarang, dengan tangan kiri
memegang ember dan tangan kiri yang memegang pel.
“Gomennasai,
Kiyozumi-san,” ujar seorang gadis berkacamata berkucir ponytail. Dia adalah
Chiyo—ketua kelasku. “Ao-sensei tidak mengijinkan kami membantumu,” dia
membungkuk sedalam-dalamnya.
Aku hanya tertawa dipaksakan,”Nah, daijoubu desu, Chiyo-san. Apa gunanya
latihan beladiriku kalau aku hanya akan mati karena menguras kolam renang?” aku
berusaha tak membuatnya sungkan sambil tertawa garing. Walau harus melakukan
sedikit—coret—banyak kebohongan. Maksudku, musim panas telah tiba dan aku harus
menguras kolam renang super gede ini sendirian? Guru kimia memang mengerikan.
Apa Ao-sensei tidak berpikir bahwa kaporit yang terbau bisa menyebabkan
keracunan? Atau gas metana yang bisa saja muncul dari lubang kolam renang itu
bisa membunuh seorang Kiyozumi Miki? Oh, lupakan barusan, aku hanya memunculkan
teori kimia yang terbesit.
Chiyo tersenyum lalu kemudian mohon diri. Aku
membalas senyumnya. Antara lega dan kecewa karena Chiyo bukan orang keras
kepala yang akan bersikeras membantuku.
“Yosh! Kolam renang tidak akan bersih kalau
aku hanya berdiam diri,” aku melintingkan lengan-lengan bajuku. Dan mulai masuk
kolam renang yang telah dikosongkan. Kuras, sikat, kuras, sikat, gosok,
ku...waktunya istirahat!
Aku terduduk di kursi dekat kolam renang yang
ditutupi oleh pralon yang teduh. Musim panas kenapa datang secepat ini?
Menyebalkan sekali. “Eh?” aku menatap heran popsicle
vannila yang tengah disodorkan kepadaku oleh seseorang dari belakang.
“Kau baru mengkuras sepuluh menit dan sudah
ambil istirahat? Atlit apa kau ini?” aku berjengit mendengar katanya. Aku
berbalik dan mendapati seseorang pemuda berambut coklat yang telah menatapku
aneh. Aku hanya mendecih.
“Kau lagi. Kau lagi. Tuan-sok-pangeran,” aku
menekankan setiap perkataanku sambil memutar mataku bosan.
Dia hanya tertawa ringan lalu duduk di
sebelahku,”Begitukah seorang perempuan memperlakukan pacarnya?” dia mulai
menggigit popsiclenya. Aku hanya
menatapnya sambil manyun.”Kau tidak mau? Banyak gadis di Anjou High yang
menginginkan sepotong popsicle yang
sama denganku,” dia memasang senyum sejuta volt beradiasi berkilo-kilo meter
yang dapat meluluh lantahkan gadis-gadis di sekitarnya.
“Be-berikan saja pada mereka. Baka!” aku manyun untuk yang kesekian
kalinya. Kalau sudah begini, menguras kolam renang berpuluh-puluh—bukan,
beratus-ratus lebih baik. Aku mulai menguras lagi dengan muka dongkol. Dan
masih dapat kudengar pemuda itu masih tertawa. Cakep sih iya, tapi kalau ketawa
malu-maluin. Dialah Yamada Tatsuya, cowok paling ganteng, paling pintar, paling
sempurna, paling bla bla bla.
“Kau ini selalu saja lucu saat cemburu ya.
Dasar Tsundere,” dia tiba-tiba berada
disampingku, membantuku untuk menguras kolam renang.
Aku mendengus, “Kau tak perlu repot-repot.
Ao-sensei akan memarahimu kalau kau membantuku,” Tatsuya hanya terkekeh. Aku
memerah, “Bu-bukan berarti aku khawatir de-denganmu! Aku hanya tak ingin kau
membantuku. Aku bisa tanpa bantuanmu.” aku meralat kataku.
Tatsuya tertawa makin lebar,”Miki-chan,
berhentilah bersikap tsundere seperti
itu. Aku jadi ingin memakanmu kalau kau begini,” dia masih saja tertawa.
Aku memerah,”Me—memakan?”
Tatsuya menatapku,”Eh? Kenapa merah begitu?”
lalu selanjutnya dia tertawa kembali. ”Miki-chan mikir jorok ya? Haha,” dia
menduga sambil terpingkal. Aku hanya menggembungkan pipiku tak suka. Tatsuya
bodoh. Bodoh. Bodoh. Aku menulikan pendengaranku dari suara tawanya yang
malu-maluin itu dan terus menguras. Hingga sebuah kecupan mampir di pipiku. “Omae no koto
suki da,” ujarnya.
Aku menoleh kearahnya dengan muka yang
sepernuhnya memerah,”Ba-Baka!” Dan
dia hanya tersenyum sambil memelukku. Tatsuya seperti ini memang selalu bisa
meredam amarahku—ya, aku tidak sepenuhnya marah sih. Karena bagaimanapun aku
adalah gadis paling beruntung yang dapat memiliki seorang Yamada Tatsuya.
“Eh, 3 Agustus kau ada acara? Bagaimana kalau
ke Okazaki
Hanabitaikai?”
Tatsuya, kau tahu jawabnya kan? Aku pastilah
bodoh jika menolak ajakanmu.
*
Putri
dan pangeran akhirnya menikah dan hidup bahagia hingga suatu hari Pangeran
dihadapkan akan keharusan untuk bertempur di medan perang. Putri mencegahnya
namun Pangeran hanya tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari
kelingking sang putri.
“Yubikiri genman~ uso tsuitara, hari sen bon nomasu,
yubi kitta,” Pangeran menyanyikan sebuah lagu. Dan malam itu, adalah malam
terakhir sang Putri melihat wajah Pangeran
*
“Ayo, cepatlah Tatsuya. Hanabinya mau dimulai,” aku berjalan
menaiki tangga untuk sampai di depan kastil Okazaki. Tempat itu adalah tempat
yang paling indah untuk melihat hanabi pada saat acara seperti ini. Dia
menengok kebelakang dan mendapati Tatsuya yang terdiam. “Doushita no?” tanyaku.
“Uhm, tidak. Aku hanya
berpikir apakah kau mengenakan celana dalam,” dia berujar santai sambil
memasang pose sok-berpikir. Aku terperanjat dengan muka merah sekaligus kaget
dengan pertanyaannya. “Logikanya, dengan pakaian yukata seketat itu bukankah akan tercetak motif seperti—“ Tatsuya
menggambarkan motif g-string di
udara.
“Baka! Baka Tatsuya!” aku
memukulnya tepat di kepalanya. “Dasar mesum!” Lalu cepat-cepat menuju keatas
tanpa menghiraukan tertawanya yang terpingkal-pingkal.
“Miki-chan~ Miki-chan~
biarkan Tatsu-kun memastikannya~” dia berujar sok imut dibelakang dan dua
bakiak kulemparkan kearahnya sambil misuh misuh gak jelas. Bodoh. Tatsuya
bodoh. Kenapa aku harus mencintai makhluk bodoh sepertinya? Apa aku bilang
men—mencintai? Maksudku itu aku—ah lupakan. Bicara soal Tatsuya, kenapa tiba
tiba suaranya bagai lenyap ditelan bumi? Kalau dia tiba-tiba diam seperti ini,
aku jadi khawatir. Aku kembali menuju tangga untuk memastikan dan Tatsuya—
—tidak ada! Gawat!
“Tatsu-kun?” aku memanggil
namanya. “Tatsu-kun!” aku mulai berteriak. Aku mencoba menghilangkan pikiran
bahwa Tatsuya bisa saja dibawa cahaya asing yang datang dari UFO. Baiklah, aku
harus mengurangi porsi menonton film alien. “Tatsu-kun!” aku berteriak lagi dan
menuruni tangga sambil terus memanggil namanya. Aku bukan seorang pitcher yang melempar bakiak sekeras itu
sampai-sampai Tatsuya jatuh ke bawah kan? Tentu. Saja. Tidak. “Tatsu-kun!
Udahan dong petak umpetnya,” aku berteriak untuk sekian kali. Aku semakin
khawatir setelah sekian lama kupanggil tidak muncul juga.”Tatsu-kun!” aku
berujar ketakutan. Tempat ini adalah tempat rahasia untuk melihat hanabi dan
tidak banyak orang yang tau. Sepi. Gelap. Dan bagaimana kalau—
“KYA!~” aku berteriak ketika
tiba-tiba ada sosok berbalut putih ada di depanku. Aku langsung memukulnya
menggunakan kipas yang kupegang. Dan samar-samar kudengar suara cekikikan yang
begitu kuhafal. “Ta—Tatsu-kun?” aku berasa ingin menangis. Dia hanya melihatku
heran, “Ba-baka!” aku langsung menghambur memeluknya sampai kita jatuh terduduk
di pematang dekat sungai. “Kukira kamu dimakan alien!”
Dia hanya tertawa dan
mengelus lembut puncak kepalaku,”Kalau seperti ini, bagaimana bisa aku
meninggalkanmu,” dia berujar sedih. Aku melepas pelukanku.
“Eh? Kau akan
meninggalkanku?” aku berujar polos. Dia hanya memalingkan wajahnya,
menyembunyikan sinar matanya yang meredup.”Tatsu-kun?” Aku memanggilnya sambil
mencoba menatap wajahnya yang selalu menghindari tatapanku. Suara dentuman
keras di udara menunjukan bahwa pesta hanabi sudah dimulai.”Ha-hanabi,” aku memandang takjub
kearah langit sekilas lalu kuarahkan pandangan pada Tatsuya meminta penjelasan.
“Gomennasai. Aku harus mengikuti Tou-san ke Amerika,” dia akhirnya
berujar. Terdengar jelas dari mulutnya walau beriringan dengan suara keras dari kembang api
yang terus menggema menghias langit musim panas. Aku terhenyak, pikiranku
kosong harus merespon apa. Ini artinya aku dan Tatsuya akan—tak sadari aku
menangis. Aku menutup mulutku untuk meredam tangisku. Tatsuya memang bodoh, aku
akui itu. Tapi, bagaimanapun aku mencintainya. Sungguh! Dan aku tidak mau kita
berakhir seperti ini.
“Demo,” ujarku bergetar. Dia langsung memelukku erat. Aku bersandar
didada bidangnya.”—Tatsu-kun, jangan
pergi,” aku meremas kaus putihnya yang mulai basah karena air mataku.
Dia melepas pelukanku lalu menatapku dengan sebuah senyuman. Aku memerah dan
memalingkan pandanganku, “Jangan menatapku seperti itu. Aku jelek jika
menangis, Baka Tatsu!” aku menggembungkan pipiku sambil mengusap air mataku. Aku
tidak boleh terlihat memalukan seperti ini. Dia memegang tanganku. Aku hanya
melihatnya heran.
“Yubikiri genman~ uso
tsuitara, hari sen bon nomasu, yubi kitta,” nyanyinya. Aku hanya melihatnya
heran saat dia menautkan kelingkingnya denganku.”Ayo bernyanyi, Miki-chan.”
“Yu—Yubikiri genman,” aku
berujar ragu-ragu.” Kau seperti anak kecil, Tatsu-kun,” aku tak menyelesaikan
lagunya. Pemuda berambut coklat itu hanya tertawa.
“Tusuk aku dengan seribu
jarum jika aku melanggar,” dia berujar kembali. Aku hanya menatapnya sedih,”
Yubikiri genman~ uso tsuitara, hari sen bon nomasu, yubi kitta,” dia terus
bernyanyi sambil mengayun-ayunkan kelingking kami yang saling berpautan. Aku
mau tidak mau mengikuti nyanyiannya.
“—yubi kitta,” hingga aku
selesai bernyanyi, dia berhenti lalu tersenyum.
“Aku berjanji Miki-chan, aku
pasti kembali. Dan tempat yang pertama kutuju adalah rumahmu—“ dia berujar
riang. “—janji kelingking,” dia menunjukkan jari kami yang saling terpaut
sambil nyengir lebar. Ya, Tatsuya kadang punya sisi kekanak-kanakan juga, jauh
dari orang yang pikirkan bahwa dia adalah orang yang cool dan jual mahal. Ya, dia—Tatsuya—memang menunjukan siapa dia
sebenarnya hanya padaku. Dan itulah mengapa aku jatuh cinta padanya.
“Ne, Tatsu-kun?” aku
memanggilnya dan dibalas dengan sebuah dehaman. “Bukankan cerita tentang Tenshi no Yubikiri itu akan berakhir
menyedihkan?”
Dia langsung menoleh
kearahku,”Kita tidak akan tahu apa yang mereka lakukan di surga sana, nah?” dia
berujar santai sambil tersenyum. Aku hanya menunduk. “Ne, Miki-chan, kau bukan
putri.”
“Eh?” aku kembali menatapnya
yang masih menikmati kembang api yang lukisan bunga berkanvaskan langit musim
panas yang cerah.
“Dan aku bukan pangeran. Yang
ada hanya kau—Kiyozumi Miki dan aku—Yamada Tatsuya. Kita,” lanjutnya. Dia
menatap kearahku. Dapat kurasakan pipiku memanas saat Tatsuya perlahan
mendekatkan kepalanya kearahku.
Malam itu, langit musim panas
di Okazaki—prefektur Aichi menjadi saksi ciuman kita berdua. Ciuman pertama
dan—kuharap—bukan ciuman perpisahan. Deshou?
*
Hingga suatu saat putri jenuh dan memutuskan untuk mencari
pendamping dengan membuka sebuah sayembara—‘Barang siapa tahu apa yang
dilakukan dengan jari kelingking sang Putri, maka dia berhak menerima cinta
sang Putri.’
Tapi semua peserta yang datang tidak tahu apa yang harus
mereka lakukan dengan jari kelingking sang Putri. Hingga seorang pengemis
datang, dengan pakaian lusuhnya. Pengemis itu lalu menautkan kelingkingnya
dengan kelingking sang putri. Saat itu, putri sadar bahwa itu adalah pangeran.
Pengemis yang ternyata pangeran itu berkata.”Putriku, aku datang memenuhi
janjiku,” lalu sesaat kemudian, pengemis itu menghilang. Putri yang sadar bahwa
Pangeran telah tewas di medan perang merasa tidak dapat hidup tanpanya. Dan
memutuskan untuk bunuh diri.
*
Aku menatap layar handphone flip-flopku sambil memencet-mencet
keyboard melihat oricon chart bulan
itu. “Tabidachi no Haru ga Kita, nee?”
aku bergumam sendiri sambil menuju rak dimana lagu yang dibawakan oleh S/mileage itu berada. Tanganku hampir
saja meraihnya saat seseorang mendahuluiku mengambilnya.
“Hey—aku duluan yang—“ aku
tidak bisa melanjutkan kata-kataku saat kulihat orang yang barusan merebut CD
yang kuincar. “—Tatsu-kun?” aku berujar tak percaya sambil mengucek mataku
berulang kali—untuk memastikan itu benar-benar Tatsuya. Pemuda yang mengenakan
jaket bewarna hijau dengan headset di
lehernya itu hanya tersenyum padaku.
“How are you, Miki-chan?” tanyanya. Aku hanya mendengus, tak suka
dengan dialek Inggrisnya yang nyaris sempurna. Dulu, aku selalu bisa
mengalahkannya dalam bidang Bahasa. Tapi setelah lima tahun aku ditinggalnya ke
Amerika, kurasa aku jauh berada di belakangnya. Oke, tidak penting. Di Jepang
sendiri toh tidak diperlukan
kemampuan Bahasa Inggris. Kami berjalan keluar toko musik dan ikut dalam
keramaian Kota Miwa, distrik Ama—yang masih dalam prefektur Aichi. Aku
bercerita bahwa aku sedang mengejar gelar sarjanaku di Aichi Gakusen University
dan dia bercerita dengan sombongnya bahwa dia sedang menjalani bisnis otomotif
yang diturunkan oleh Otou-sannya
sedang maju pesat di Nagoya. “Ne, Miki-chan. Aku benar-benar memenuhi janjiku, darou?” dia tersenyum sambil terus
berjalan di pedestrian dengan aku
yang berjalan disampingnya.
“Ba—baka,”aku berujar pelan
sambil tersenyum. Legenda tentang Tenshi
no Yubikiri tidak pernah datang ke kehidupan kami dan berakhir dengan
Tatsuya yang memenuhi janjinya.
“—chan! Miki-chan! Awas,” aku
tersadar dari lamunanku. Seseorang mendorongku sampai aku tersungkur. Dan hal
pertama yang kulihat saat aku membuka mataku adalah Tatsuya yang—
“Tatsu-kun! Tat—“ aku
berteriak histeris dan menuju kearahnya. Tidak—kisah kita tidak adak berakhir
seperti legenda itu. Kau yang mengatakannya kan, Tatsu? Jadi buka matamu, Baka.
Atau kutusuk kau dengan seribu jarum.
*
Tepat dua minggu sudah
lamanya pertemuanku dengan Tatsuya dan Tatsuya masih berada di ruangan serba
putih ini. Musim gugur sudah berganti menjadi musim dingin. Aku melihat keluar
jendela, mengamati kerlap-kerlip kota Nagoya di malam hari. Tanganku menengadah
berharap salju pertama jatuh ke tanganku. Salju pertama di musim dingin katanya
bisa mengabulkan segala permintaan kan? Namun, hal itu tidak pernah datang
kepadaku.
“Tatsuya bodoh,” aku
menggenggam tangannya yang dingin lalu meniupnya supaya menghangat. Selang
infus dan oksigen masih berada di tubuhnya serta suara kardiogram yang sangat kubenci memenuhi ruangan.”Kau sendiri yang
bilang sendiri kalau kita tak akan berakhir seperti sang Putri dan Pangeran,”
aku mulai menitikkan air mata. Tidur di dada bidangnya yang naik-turun
perlahan, mendengarnya degup jantungnya yang biasanya akan bergedup lebih
kencang jika aku bersikap manja seperti ini.”Maka dari itu bangun Tatsuya. Atau
jika tidak, mungkin aku juga akan berakhir seperti sang Putri,” aku memejamkan
mataku. Tanganku menggenggam baju pasien Tatsuya erat,”Aku hanya tidak bisa
hidup tanpamu, Tatsu-kun. Aishiteru,” aku berujar lirih. Dan gelap. Dan masih
kurasakan air mataku yang tak bisa berhenti mengalir.
“—Miki-chan,” aku bahkan
berhalusinasi mendengar logat kansai milik
Tatsuya.”Hanya ada Miki-chan dan aku—Yamada Tatsuya.” Ya bahkan suaranya begitu
jelas sekarang. Kami-sama, jika benar ini memang mimpi di tengah malam,
setidaknya biarkan aku—
Kurasakan tanganku kananku
terangkat, aku terperanjat dari tidurku. Aku masih menatap gesture sempurna yang tersenyum itu. “Ada yang ingin kukatakan saat
itu—“ ujarnya. Aku hanya terdiam, membiarkan tangannya yang dingin menyentuh
jemari tanganku.”—Kiyozumi Miki,” dia berujar lalu menyematkan barang itu di
jari manisku. Sebuah cincin bermata ruby.”—menikahlah
denganku.”
Aku terlalu terkejut untuk
merespon tapi bulir-bulir air mata bahagia yang mengalir dari mataku cukup
menggambarkan semuanya. Benar, ini bukan cerita tragis antara Putri dan
Pangeran. Karena kami bukan salah satunya. Hanya ada Kiyozumi Miki dan Yamada
Tatsuya—kita. Selamanya.
.
.
A—antiklimaks ya? Huueh~ gomennasai~ -w-
Ini aku buat ngebut sengebut-ngebutnya. Namanya
aja juga cerpen jadi alurnya rada ngelompat biar gak ada kemelebaran cerita
[wut?!]
Gak kepikiran bikin sequel, setidaknya sampai
saat ini. Tapi aku suka dengan nama Kiyozumi Miki, imut banget denger nya
>.<
Udah segini ada Author’s Notenya, kebanyakan
ntar bisa kembung. Jaa~
[CERPEN] NOT TENSHI NO YUBIKIRI'S STORY
Dan cerita ini aku post jam 2.04 am.
This story belongs to me, please put my trade mark if you wanna copy this. Thanks
SEBUAH CERITA YANG HILANG DARI INGATANNYA
Aku tertegun menatap deretan
huruf yang tertera jelas di layar laptopku. Nama seorang lelaki yang dulu
pernah singgah dihatiku muncul di beranda facebookku. Dulu.
“Jadi dia sudah
jadi cinta lagi ya?” aku berujar entah pada siapa. Hanya suara kipas angin yang
mengisi kekosongan di dalam kamar. Aku hanya terdiam, bingung antara harus
sedih atau bahagia melihatnya yang sudah berhasil moveon. Lalu aku mengasihi diriku sendiri yang kupikir aku sudah bisa terbebas dari bayangannya. Lalu apa arti
dari rasa sakit di dadaku?
Aku mengingat
pertama kali mengenalnya. Sebuah cerita konyol yang mungkin dialami oleh remaja
remaja labil. Awal bertemu di facebook, saling tertarik, dan saling penasaran. Aku
sudah lama mengenalnya hingga takdir membuat sebuah permainan. Aku ingat aku
sedang berada di dalam sebuah perjalanan menuju area pertokoan dan aku singgah
di salah satu toko. Aku sempatkan untuk membalas chat nya yang masuk.
“Kau dimana?”
“Aku sedang di toko dekat toko besi sini. Kau juga sedang
ada di daerah sini kan?”
“Ya.”
Lalu dia tiba-tiba
offline dan suara lonceng toko terdengar. Aku yang memegang satu pak tisu
langsung menatap kearah orang itu. Aku kembali melihat layar handphoneku, dia sudah online. Dan sebuah dentingan pertanda chat masuk mampir ke telingaku.
“Aku melihatmu.”
Aku berkedip, lalu
melihat sosok lelaki di depan pintu dengan nafas pendek-pendek seperti habis
berlari. Dia mengenakan hoodie dengan
celana jeans biru, rambutnya cepak dan
mata indah yang membiusku. Dia mendekatiku, dan—“Hai. Aku melihatmu,”
Saat itu aku sadar.
Mungkin takdir ingin menemukan kita.
Lalu setelah
pertemuan kami, egois mulai menggerogotiku. Aku benar-benar ingin dia hanya
melihatku, tapi semenjak pertemuan itu kurasakan dia mulai menjauh perlahan.
Aku memang seharusnya menghindar dari permainan itu, aku jelek dan aku tahu
itu. Dia pasti menjauh karena itu! Aku marah dengannya—ah tidak—aku tidak
pernah benar-benar marah dengannya, selalu saja ada perasaan yang membuatku
ingin kembali padanya. Tapi hari itu, saat aku mengutarakan rasa sukaku padanya
dia hanya menjawab—
“Aku dulu memang pernah tertarik kepadamu tapi kamu
seperti tidak ada respon dan sekarang.. maaf, aku sudah tidak menyukaimu.
Maaf.”
Aku tidak tahu
perasaanku pagi itu. Marah. Sedih. Kecewa. Dari awal mungkin aku sudah salah
mengartikan perhatiannya itu lebih dari perhatian teman kepada temannya tapi
dia—dia tak seharusnya nya mengakhiri apa yang telah dia mulai. Maksudku, bila
dia memang tidak tertarik padaku, lakukan di awal jangan disaat aku telah
mencintaimu! Brengsek!
Sejak saat itu kami
mulai bermusuhan, saling menyindir ataupun saling menghapus pertemanan dan
saling memblokir. Ya, saat itu aku yakin aku pasti sangat sangat sangat
membencinya sampai alam kubur. Dan kebencianku membuncah saat aku membaca
catatan hidupnya, disana ada namaku dan aku ditulis hanyalah seorang
pengganggu. Aku menangis malam itu dan handphone yang kulempar ke lantai seakan
tak memberi suatu kepedulian. Jadi selama ini, saat saat manis kita—setidaknya
saat aku bukan siapa-siapamu—adalah bohong? Begitu. Mungkin aku mulai sadar
kedudukanku. Aku. Tak. Lebih. Dari. Sekedar. Pengganggu.
Waktu berjalan dan
saat itu aku mulai disibukkan dengan acara festival. Aku perlahan mulai lupa,
setidaknya kesibukan yang memaksaku bangun tengah malam membuatku tak punya
waktu memikirkannya.
“Kau pasti akan datang ke festivalku kan? Maksudku, aku
dipilih jadi panitia, kau tahu?”
“Tentu saja. Aku tak pernah membohongimu. Kau adalah
penyemangatku.”
Ingatan itu datang
lagi, percakapan akan janjinya untuk datang ke festivalku. Kata yang paling
manis yang pernah kubaca, sayang sekali itu tak lebih hanya sebuah ketikan. Tak
bermakna baginya tapi bagiku—ah entahlah. Kesibukan akan festival mulai berceceran,
salahkan saja dia yang membuatku tak fokus! Dan makin tak fokus saat kutahu dia
tak akan datang. Aku mendesah panjang, mensugesti diriku agar bisa melupakannya
dan sugesti itu tak benar berhasil.
Panitia bersorak
saat pohon bambu untuk tanabata berhasil didirikan. Seorang kakak kelas yang
membawa kertas permohonan menuju kearahku, “Kau mau coba?”
Aku mengangguk,
mengambil spidol dan menuliskan sesuatu yang masih sangat kuhafal.
Semoga bunka bisa sukses ^^
—dan tulisan yang
lebih kecil—
..dan semoga kita bisa berdamai ^^
Lihat kan? Bahkan
sekalipun aku ingin membencinya di dalam hatiku aku masih sangat berharap kita
bisa saling memaafkan. Aku bodoh. Apa yang aku harapkan hah?
Akhirnya dia
datang, sebuah titik terang. Aku terus mencoba menghindar darinya tapi sebanyak
empat kali menghindar, aku selalu bertemu dengannya. Bodoh, bagaimana bisa aku
bilang ini jodoh hah? Bahkan aku sangsi dia menyadari keberadaanku. Ah
sudahlah.
Mungkin bisa saja
aku mengatakan bahwa aku telah menyukai orang lain. Namun bila melihat nama itu
lagi, pertahanan itu seakan roboh seketika. Aku masih mengharapnya? Tuhan,
mengapa aku bisa seperti ini? Apa aku sangat mencintainya? Bodoh sekali.
Dan malam itu, awal
yang baru bagi kita. Aku menawarkan sebuah awal yang dimulai dari nol lagi, dan
kita sama sama setuju.
Thanks for confirm. Aku Reza, kamu siapa?
Aku tersenyum dan
sejurus kemudian mengklik tombol kirim. Dan hubungan kami seakan
membaik. Doa di tanabata itu bisa saja benar, tapi bisa saja itu juga sebuah
benang merah yang dirangkai takdir. Kami chat
sampai dini hari pada hari itu, mengulang masa-masa awal saat pertama kita
belum bertemu.
“Aku bingung dulu mengapa kita bisa saling berantem”
“Hahaha. Iya, aku juga.”
Dan percakapan itu
terus berlanjut yang mau tak mau mengusung bibirku melengkung keatas. Aku
merasa sebagai gadis yang paling bahagia saat itu. Sejak kita bilang itu
dimulai dari awal, aku menanamkan diriku bahwa kita hanya bisa sebagai teman.
Aku berusaha sebaik mungkin memenuhi peran sebagai ‘teman’ itu walau terkadang
percikan sakit ada di hatiku saat dia bercerita soal gebetannya masih terasa,
tapi aku mencoba bertahan. Karena selamanya kita hanya akan bisa menjadi teman
kan? Maksudku, aku benar-benar akan menjaga hubungan kita walau hanya sebatas
teman, karena aku tahu aku tak bisa memiliku. Karena kita saling tahu bahwa
keegoisan yang dimunculkan cintaku akan merusak hubungan kita seperti tahun-tahun
lalu. Cukuplah, cukuplah kita menjadi teman asalkan aku bisa terus bersamamu.
Melihat senyummu. Mendengar suaramu. Dan memukulmu pelan sebagai tanda
pertemanan.
Aku—aku berusaha
keras untuk melupakanmu, jadi jangan khawatir. Aku—aku berusaha untuk menerima
status kita yang tak lebih dari seorang teman. Aku—aku akan mencoba untuk
bangkit. Suatu saat aku yakin pasti bisa meninggalkanmu di ujung jalan bersama
orang yang sangat kau cintai itu. Suatu saat aku yakin pasti bisa tersenyum
bahagia merasakan bahagiamu saat kau bersanding di pelaminan bersama orang yang
kau cintai itu. Saat ini memang belum, tapi aku akan berusaha, usaha yang
kuharap bukan usaha nihil yang sebelumnya. Jadi, kamu jangan khawatir.
Dan kembali ke masa
sekarang dimana aku mengetik sembari menyusun kepingan memori yang telah kamu
lupakan. Tidak masalah jika kamu lupa karena kita berhak menghapus kenangan
yang ingin kita lupakan kan? Tapi asal kamu tahu, sepahit apapun kenangan yang
kumiliki bersamamu, aku akan selalu mengenang kenangan ini. Karena kamu, iya
kamu, pernah menjadi orang yang paling sangat berharga bagiku. Dulu. Sekarang.
Dan mungkin.. nanti. Karena apapun kau menyebut hubungan kita, kau akan selalu
menjadi ‘teman’ yang sangat berharga bagiku.
Kamu, ini adalah
sebagian kecil ingatanmu yang masih bisa kuingat—tidak, aku mengingat semuanya,
bahkan saat kisah masa kecilmu yang kutahu, hubungan orang terdekat kita yang
saling mengenal. Takdir seolah menghubungkan kita tapi kenyatannya takdir hanya
menakdirkan kita tak lebih dari seorang teman. Bagiku, cukup, asal aku bisa
tetap menemuimu.




