Recent Blog post

Archive for Februari 2014



Time Paradox

A litte bit inspirated by :
60 Seconds of Cold November © rully bee
Butterfly Effect


Paradoks—pernyataan yang seolah-olah berlawanan dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran

.
12 Januari 2013 – 09.10 AM

Aku melihatnya dari kejauhan. Seorang gadis berambut pendek di belakang tapi rambut depannya yang panjang menjuntai, membingkai wajahnya. Dia mengenakan dress coklat di atas lutut dengan fur kneel boots yang berwarna putih. Dia sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya layaknya gadis normal lainnya. Layaknya. Namun kupikir tidak demikian, dia adalah gadis paling aneh diantara gadis-gadis yang pernah kutemui. Dia berjalan kearahku, melemparkan sebuah senyum lalu pergi berlalu. Aku hanya menatapnya datar, tak membalas senyumnya apalagi sapaannya. Kupikir aku tidak menyukainya. Sejak awal memang seharusnya begitu.

Awal pertemuanku terjadi satu hari sebelumnya, saat aku terpaksa menyelesaikan tugasku sebagai ketua keamanan di kampus ini. Salahkan saja kampus ini yang membentuk klub semacam itu, apa gunanya hansip di depan kampus hah?

..is falling down. London Brigde is falling down,” aku berjengit ketika tiba-tiba kudapati suara feminin mampir ke telingaku saat aku melewati lorong di sekitar fakultas ekonomi. “Berhentilah bernyanyi. Lagu itu mengerikan,” suara yang masih sama. “Bagaimana kalau lagunya diganti saja?” aku masih memasang telingaku baik-baik.

Aku berjalan mengendap-endap dan mencari asal suara. Dengan perlahan aku mengintip lewat jendela.

“Kau punya ide? Bagaimana kalau Twinkle Twinkle Litte Star?” dia berujar lagi. Aku mengeryitkan dahiku heran. Dia sendiri. Bicara sendiri di bangku kuliahnya. Rambutnya yang panjang di depan menjuntai hingga menyentuh buku catatannya. Dia tampak sedang menulis sesuatu dan bersenandung lagu—ah tidak, lebih tepatnya bergumam tidak jelas. Suaranya jelek dan tak membentuk sebuah lagu. “Woah, welcome,” dia berujar. Menatap kearahku lalu melontarkan sebuah senyuman. Aku terlonjak kaget hingga terduduk. Sial, dia tahu keberadaanku.

Aku bangun, sedikit membersihkan celana jeansku. Mata gadis itu masih menatapku dengan senyumannya yang masih enggan lepas dari bibirnya. Arah matanya mengikutiku sampai aku sampai di ruang kelas. “Psikopat,” aku hanya mendecih.

Dia membulatkan matanya melirik ke kanan dan ke kiri, ”Apa psiko yang kau maksud itu aku?” dia menunjuk dirinya sendiri sambil memasang wajah yang tak bisa kudefinisikan. Kaget. Datar. Lucu. Aneh.
Aku hanya memutar bola mataku tak minat. “Kau gadis aneh. Berbicara dengan tembok, hm?”

Dia hanya tersenyum, merapikan buku-buku catatannya lalu memasukkannya kedalam tas jinjingnya. Dia meluruskan kedua tangannya diatas meja lalu meletakkan dagunya di sela-sela tangannya. Dia menatapku,”Aku lebih suka berbicara dengan kucing sih,” lalu tertawa renyah.

Aku hanya mendecih. Aku benci dengan hal dengan hal yang tak logis. Dan gadis ini adalah salah satunya. Aku membencinya. Aku mengebrak meja di depanku, dia langsung terperanjat dan menatapku bingung. “Bilang ke kucingmu itu, apa dia bisa mengajarimu cara berdandan!” Satu gebrakan lagi. “Apa dia bisa membuat cantik!” aku berteriak. Aku lepas kendali, aku hanya tak tahan dengan keanehan ini.

Dia memiringkan kepalanya bingung lalu tertawa,”Kucingku kan cowok mana dia tahu dengan hal begituan,” dia bicara di sela-sela tawanya. Dia beranjak dari kursinya lalu menghampiri jendela di dekatku yang menghadap kearah lapangan. Dia menoleh sebentar kearahku,”Oh. Aku Mia.”

Aku hanya mendecih untuk yang kesekian kali,”Aku tidak bertanya.”

Dia hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke bintang-bintang malam itu. Jam sepuluh malam memang waktu yang tepat untuk bintang-bintang menunjukkan kemilaunya. “Aku tertidur lalu saat terbangun ternyata udah semalam ini,” dia berujar diselingi tawanya yang ringan.

“Aku tid—“

“Aku menjawab sebelum kau bertanya. Aku cuma tidak ingin kau mengira aku belajar di kampus semalam ini—“ dia menghadap kearahku. “—belajar itu membosankan,” dia menghela nafas panjang.

Menarik. Dia tahu apa yang kupikirkan.

“Lagipula orang mana yang mau belajar di kampus? Enak juga di apartemen, ditemani dengan kucing—“

“Kau orang anehnya,” aku memotong kalimatnya. Memasukkan kedua tanganku di saku.

“Eh?” dia berujar bingung. “Aku punya banyak teman asal kau tahu. Aku tidak seperti gadis kesepian psikopat yang akan menyayat tangannya seperti yang pikirkan.”

Aku hanya mendecih. “Nah, aku jadi semakin mencurigaimu.”

Dia membalasku dengan tatapan protes. “Kau sendiri kenapa belum pulang?”

Aku hanya diam. Tak menyahut pertanyaannya. Aku seharusnya sudah berada dibawah selimutku asal kau tau. Tapi, ada perasaan aneh yang membuatku masih bertahan disini. Sebuah ketertarikan? Gravitasi?

“Oh. Okay. Baiklah kalau tidak mau menjawab,” gadis itu memutar matanya. Menendang-nendang udara dengan kaki kanannya. “Sibuk dengan laporan keamanan. Hm, mungkin?”

Aku melotot. Dia mulai bicara sendiri lagi. Dasar gadis aneh.

“Aku aneh ya?” dia bertanya sambil memajukan wajahnya di depanku.

Aku menatapnya datar. YA! Kau aneh. “Tidak,” namun kata barusan yang keluar dari mulutku. Kadang hati tak sesuai dengan mulut. Aku masih melihat dia yang tersenyum dengan tatapan datarku.

“Sudah malam,” dia memegang bahuku lalu menepuk-nepuknya pelan. “Sebaiknya kau pulang.”

“Bukan itu seharusnya yang dikatakan seorang cewek aneh sepertimu kepada seorang cowok,” aku menatapnya datar. Tak minat.

“Oh. Okay,” dia melepaskan tangannya dari pundakku, beralih memegang dagunya. “Jangan khawatir. Aku bisa pulang sendiri,” lanjutnya.

“Aku tidak tertarik mengantarmu,” ujarku kejam yang hanya dibalas dengan senyumannya. Tidak, aku tidak mulai tertarik dengan gadis ini kan? Dia berlalu disampingku, mengambil tasnya dan aku yang hanya bisa melihat punggungnya menjauh.

Dia membalikkan badannya sekilas. “Daaah!” dia melambaikan tangannya dengan sebuah senyum di bibirnya. Aku hanya mendecih. Aku benci dengan gadis aneh. Dia sama sekali bukan tipeku. Aku hanya menyukai gadis normal berdada besar yang manis. Dan dia tidak sedikitpun—atau bahkan tidak sama sekali—masuk dalam kriteria itu. Cih.

Aku menatap telapak tangan kananku lalu bergantian menatap lorong yang barusan dilalui gadis itu. Dia sudah berlalu, tak terjangkau lagi oleh mataku. Aku mengangkat tangan kananku, menggerakkannya kaku membentuk sebuah lambaian. “Hm. Bye,” aku tersenyum tersendiri, menyadari keanehan yang barusan kulakukan. Aku benci gadis aneh, itu mantra yang selalu kuucapkan sejak saat itu. Dan berhenti saat lusanya kudapati kabar kematian gadis itu. Terbunuh tragis. Oleh pembunuh misterius.



13 Februari 2013 – 03.00 PM

Kematian Mia tidak menjadi hal yang banyak dibicarakan orang hingga sore ini. Kematian Mia seperti hal yang sudah wajar—ah, atau mungkin pihak kampus tidak mau membicarakan hal ini lebih lanjut. Yang kutahu dari koran yang pagi ini kubaca, telah ditemukan gadis terbunuh di apartemennya dengan darah yang menggenang. Setidaknya itulah yang ditulis oleh wartawan surat kabar yang hiperbolis, foto tidak cukup menjelaskan semuanya karena yang kulihat adalah foto tubuh Mia yang tersensor di halaman hitam putih sebuah koran abal-abal. Tidak minat untuk mencari tahu lebih, aku meneruskan bacaanku yang sempat tertunda oleh anomali hari ini.

“Tak kusangka Mia akan berakhir seperti itu,” seorang gadis berkucir pendek itu berujar kepada temannya yang berambut panjang disebelahnya. Gadis berambut panjang itu mengangguk pelan sembari menyelipkan rambutkan di belakang telinga. Mereka menuju kearahku lalu terduduk di bangku.”Dia gadis yang baik dan ceria, kan? Kenapa harus begini?” lanjut si gadis berkucir pendek.

Mataku terus melihat buku namun telinga dan pikiranku kutujukan sepenuhnya kepada pembicaraan mereka. Aku memang tidak minat, aku hanya ingin tahu saja. Masalah?

“Terakhir dia berkata akan lembur seharian di apartemennya karena tugas yang menumpuk—,“ujar gadis berkucir pendek itu lagi. Suaranya terdengar gemetar kali ini. “Aku menawarkan bantuan tapi dia menolak. Dia berkata bahwa—bahwa—,” kata-katanya terhenti, tergantikan oleh sebuah isakan. Ku meliriknya dan mendapati gadis itu menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Gadis berambut panjang disebelahnya hanya menatapnya iba dan mengelus pundaknya pelan, berusaha meredam kesedihan temannya.

“—darahnya. Tidak, dia bukan Mia,” ujarnya semakin histeris dengan air mata yang terus mengalaris dan menggeleng-gelengkan kepalanya keras.  Aku mengeryitkan dahi sambil menatap mereka.

“Sudahlah. Jangan bahas soal itu,” gadis berambut panjang itu ikut menunduk. Lalu menengok ke kanan dan kiri seakan maling yang ingin mengambil barang curiannya. Aku refleks menatap bukuku kembali, pura-pura tak mengikuti arah pembicaraan mereka. “Ba—bagaimana kucingnya?” aku mengeryitkan dahi heran. Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku. Apa hubungannya seorang kucing dengan kematian Mia? Apa kucing itu lebih berharga daripada seorang Mia? Tiba-tiba fertigoku seakan mau kumat.

Gadis berkucir pendek itu hanya mengangguk di sela isakannya.

Gadis berambut panjang itu menghela nafas lega. Aku langsung menatapnya dan dibalas dengan tatapan menusuknya yang tiba-tiba. “Menguping kematian adalah hobi yang buruk,” ujarnya sarkasme.

Aku hanya bisa mengutuknya dalam hati. Yang pertama duduk di bangku ini adalah aku. Dan bukan salahku jika aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kalian. Kedua gadis itu akhirnya beranjak dari bangku setelah melempar tatapan tajam kearahku—terlebih si gadis berambut panjang yang menjengkelkan itu. Aku hanya menatap mereka datar, menatap punggung mereka yang menjauh kemudian hilang dalam kerumunan hiruk pikuk kampus. Aku menatap kembali bukuku, merenungi apa yang barusan mereka katakan. Dan ujaran yang terus teringang di benakku, sebuah gumaman si rambut panjang yang cukup bisa kudengar.

“Ya, dia bukan Mia. Lebih tepatnya sudah tidak berbentuk seperti Mia.”

“Syukurlah. Kucingnya selamat, kuharap ada—“ kata terakhirnya tak jelas. Apakah sebuah mantra?
Aku langsung mengambil koran abal-abal pagi ini yang mengulas soal kematian Mia dengan buru-buru. Dan langsung membuka halaman tiga yang menampakkan foto tubuhnya yang disensor dan dibelakangnya kudapati tatapan mata yang menyala oleh—

—seekor kucing. Ku tidak mengerti pasti warna kucing itu karena berita Mia ada di halaman koran hitam putih. Ku amati terus foto kucing itu, tertangkap oleh kamera yang memantulkan warna matanya sehingga tampak menyala dalam kegelapan.

Satu kedipan, aku makin terus menamati foto itu. Tidak ada yang salah.

Dua kedipan. Aku tidak mengerti kucing ini bisa lebih berharga dari Mia.

Tiga kedipan. Aku terperanjat, foto kucing itu menghilang. Aku menatap lebih dekat lagi, memajukan koran itu hingga sepuluh centimenter di depanku untuk memastikan bahwa sedari tadi aku tidak berhalusinasi melihat foto kucing. Sial, apa ini koran abal-abal tapi mengandung magic seperti yang aku lihat di film karya J.K Rowling?

Aku masih dalam kekagetanku. Hari ini benar-benar sangat melelahkan dan penuh dengan ketidak logisan. Aku menghela nafas panjang dan menatap langit sore yang mulai berubah jingga. Sakit. Kudapati sesuatu di dadaku sesak, aku meremas dada kiriku. Dan perlahan aku terpejam, merasakan sebuah linangan air yang turun di  pipiku. Sakit. Kepalaku sakit.

Aku ingin istirahat. Sejenak menikmati kesendirian yang memuakkan ini.


03 Maret 2010 – 10.55 AM

“Hey, my bro,” seseorang merangkul pundakku dari belakang. Aku hanya menatapnya sekilas, dia adalah Albert. Cowok yang aku ketahui sebagai seorang sahabat semenjak aku melangkahkan kakiku ke kampus ini. Aku terus berjalan, menghiraukan keberadaannya. Dia mendengus,”Ck. Andromeda Polaris, setidaknya balaslah sapaan sahabatmu yang paling ganteng ini,” dia memutar matanya bosan lalu melepas rangkulannya.
Aku menatapnya sekilas,”Hey Albert.”

Albert hanya berdeham lalu tersenyum lebar dan beralih ke i-pod putih kesayangannya.

“Kau tahu bagaimana Mia terbunuh?”

Albert menghentikan aktivitas memasang headphonenya dan melihatku heran. “Hm? Mia?” dia memasang pose berpikir—sok seperti Sherlock Holmes yang sedang berpikir, hanya saja Albert berotak kosong. “Aku bahkan baru mendengar namanya,” lanjutnya lalu nyengir lebar. Jawaban yang begitu mengecewakan.

Berganti aku yang terkejut,”Bukankah kau satu klub dengannya di klub bandmu?” Aku menatap Albert dengan sejuta tanya yang juga dibalas dengan tatapan sama darinya. “Mia. Mia Funchsia.”

Albert melihatku dengan heran sambil menggelengkan kepalanya pelan, “Andro, kau tidak apa-apa? Kau demam?” Pemuda berambut raven itu mengeryitkan dahi,”Tidak ada anggota klub yang bernama Mia.”

Aku langsung menatapkan punggungku di tembok terdekat. Tidak. Tidak mungkin kematiannya terhapus. Aku melihat wajah Albert yang beberapa meter di depanku, ada raut kekhawatiran disana. Matanya memancarkan iba dan sedikit keprihatinan bahwa sahabatnya mungkin saja menderita penyakit yang sama seperti pasien rumah sakit jiwa. Pandanganku buram—tidak, ini bukan fertigo. Aku melihat jam digital yang melingkar di tangan kiriku. Aku terhenyak.

3 Maret 2010!

Kakiku gemetar saat aku menghampiri Albert. Dia yang beberapa meter didepanku ikut menghampiriku saat dilihatnya aku yang limbung. “Andro, kau tidak ap—“

‘BRUK’ seseorang tiba-tiba menabrakku. Aku jatuh terduduk dan memijit kepalaku. Sakit. Kulihat sekilas Albert menghampiriku dan membantuku berdiri namun pandanganku kutujukan terhadap orang yang menabrakku barusan. Seorang gadis berambut pendek, dengan kacamata tebal, kemeja floral panjang yang dikancing penuh dan rok chiffon semata kakinya. Satu kesan yang kudapat, dia gadis yang cupu. Gadis itu kemudian menunduk, memunguti buku-bukunya yang bercecer.

“Ma—maaf,” ujarnya pelan.

Aku tak acuh tapi mengambil bukunya yang terlempar cukup jauh. Sayup-sayup kudengar suara Albert yang berbasa-basi dengan menjelaskan bahwa temannya yang satu ini—aku—sedang mempunyai hobi baru yaitu mengalamun. Aku tak mau ambil pusing dengan perkataannya barusan, aku sudah pusing dan tak mau tambah pusing lagi. “Ini,” ujarku sembari menyerahkan dua bukunya.

“Terima ka—,” ujarnya pelan, sangat pelan hingga kalimat akhirnya tak bisa kudengar dengan jelas. Namun aku tahu bahwa dia bermaksud berterima kasih kepadaku. Aku hanya mengangguk. Dia akhirnya mau menatap mataku setelah sekian lama menunduk dan melontarkan senyuman.

Aku mematung. Lalu dia berlalu disampingku. Mata itu, mata yang sama. Aku menggenggam pergelangan tangannya, mencegahnya untuk pergi dan menyeretnya kembali hingga kini dia didepanku. “Mi—Mia?” gadis itu terlihat terkejut. Mungkin memang aku benar menyebut namanya.

Albert bingung dengan situasi yang terjadi sekarang. Dia hanya melihat antara aku dan Mia secara bergantian. “He—hei. Apa yang—“

Kalimatnya tak selesai. Aku hanya fokus dengan gadis yang di depanku sekarang. Aku menyeretnya, menghiraukan panggilan Albert dan juga menghiraukan rintihan Mia yang kudengar beberapa kali. Gadis itu sedikit berlari untuk mengimbangi langkahku yang lebar. Berulang kali dia juga meronta agar aku melepaskannya. Tidak. Kau tidak bisa, Mia. Aku tidak peduli, aku hanya ingin memperjelas ketidak jelasan ini. Bagaimana bisa aku terlempar ke masa lalu dan bagaimana bisa aku bertemu denganmu di tahun 2010. Sial, ini membingungkanku.

Aku sampai di gedung belakang sekolah yang sepi. Aku langsung mendorong gadis itu sampai punggungnya menatap tembok dengan cat yang sudah mengelupas. Wajahnya merah dan nafasnya terengah-engah. Aku meletakkan kedua tanganku disampingnya, memenjarakannya. Sekarang, tidak ada tempat lari lagi. “A—apa yang ka—kakak—“

Ucapannya terhenti ketika perlahan kulepas kacamatanya dengan tangan kananku. Dia berusaha mencegahnya namun kiriku dengan sigap menggenggam kedua tangan mungilnya dan menaruhnya di atas kepalanya. Cih, aku terlihat seperti orang yang akan memerkosa anak orang. Tapi tentu saja tidak, aku seharusnya tidak tertarik dengan gadis ini. Seharusnya. Namun kadang takdir berkata lain. Aku berhasil melepas kacamatanya dan kini matanya menatapku dengan ketakutan yang luar biasa. Jangan begitu, aku juga membenci dengan hal yang kulakukan sekarang. “Ternyata kau memang Mia,” aku menunduk. Dadaku naik turun, meraup oksigen sebanyak yang aku bisa karena berulang kali aku tercekat oleh kekagetan yang disebabkan oleh gadis di depanku ini. Aku menatapnya kembali dan kudapati dia yang menangis. Apa dia benar berpikir aku akan memerkosanya?

Aku tersenyum, menghapus air matanya. “Kau gadis aneh. Jika aku jadi kau, aku akan berteriak atau setidaknya akan menendang selangkangku.”

Dia menatapku sambil sedikit terisak,”Ka—kau ingin aku melakukannya?”

Aku merenggangkan cengkraman tangan kiriku. Gadis itu langsung mengelus pergelangan tangannya lalu melontarkan sebuah senyuman.

“Hanya saja aku tahu kalau kakak tidak berniat apa-apa, makanya—“

Dia terhenti saat kedua tanganku kembali berada di samping kanan-kirinya. Nafasnya sudah teratur, dapat kudengar itu. Bau samponya, aroma jeruk—persis seperti anak kecil. Aku terkekeh. Kembali mengingat pertemuan pertama kami di tahun 2013, dia tetap aneh bahkan di tahun 2010. Selalu saja bisa melihat apa yang dipikirkan orang lain. Itu aneh kan?

Gadis itu hanya memasang tampang bingung, menatap ke tangan kanan dan kiriku secara bergantian. “Oh. Bagaimana kakak bisa tahu—AHH!” dia tiba-tiba berteriak bersamaan dengan kepalaku yang memanas. Sakit. Sakit sekali. Pandanganku memburam, dapat kulihat gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membulat layaknya orang syok. Seluruh badanku seperti kehilangan fungsinya. Aku memegang bagian belakang kepalaku.

Darah. Darah mengguyur kepalaku? Atau apa? Aku tersungkur kesamping. Waktuku seperti tak lama lagi. Pandanganku menggelap setelah sebelumnya indra perasaku merasakan dingin di pipiku, lalu disusul oleh tatapan mata kuning-biru yang dimiliki seekor kucing hitam.

Seekor kucing..mungkin itu kuncinya.

Dan kali ini aku sepenuhnya terpejam. Andromeda Polaris termakan omongannya. Andromeda Polaris akan masuk di koran abal-abal dengan penulis berita yang hiperbolis. Andromeda Polaris mati tertembak peluru nyasar.

to be continued. .


[curhatan si author moody]

Ku beritahu sebuah rahasia, jadi semua cerpen disini adalah cerpen-cerpen yang sudah tertimbun cukup lama di kotak dokumenku LOL. Seperti karya ini juga, seingatku cerpen ini aku buat saat aku masih semester 1 (sekarang aku semester 2) LOL xDD

Sebenarnya, aku suka cerpen ini, aku suka tokoh Mia dan Andro yang berjalan-jalan di benakku. Dan tahu kenyataan bahwa Andromeda adalah nama seorang dewi sedikit membuat shock, tapi entah mengapa aku suka karakter cowok disini yang memiliki nama Andromeda (cowok normal, tentu saja)

Kerangkanya jadi rada ngeblur, maklum lah author moody seperti saya cuma nulis waktu mood aja #plakjder. Cukup, jangan tampar aku lagi! Aku akan berusaha membangun tubuh cerita ini lagi, jadi doakan saja supaya aku bisa menemukan insprirasi yang bagus ke depannya. HAHAHA!

Oke. Cukup sekian. Terima kasih. Muah. Peluk sayang, cium cinta. #dihajarhabishabisan

[CERBUNG] TIME PARADOX

By : panda random
28.2.14
1

Gak asing pasti sama gambar diatas, yep benar sekali! Onion Rings! Makanan ringan ini sering ditemui di restoran junkie atau mungkin cafe dengan porsi sedikit orz. Tapi sekarang kalian bisa membuat sendiri. Gak perlu repot. Gak perlu kecewa atas porsi sedikit (karena kalian bisa buat banyak dan makan sepuasnya!). Dan tentu saja ada kebangga sendiri karena bisa masak hwehe.

Jadi.. kemarin, tepatnya tanggal 11 Februari aku iseng-iseng di dapur buat bikin makanan unyu ini. Hwehe. Jujur aja, aku pertama makan onion ring yaa waktu aku masak ini pertama kali. Yum! :3

Oke, mungkin gue kampungan atau gimana tapi pertama lihat ini, gue pikir adalah sejenis cumi atau seafood eh tenyata cuma bawang bombay. Duh, dungu. Nah, berhubung masakanku kemarin berhasil, aku mau kasih resepnya. Bukan resep original dari ku sih tapi hasil modifikasi dari beberapa sumber. Rasanya? Dijamin enak kok, dengan syarat kamu berbakat masak dulu kayak gue. Eh hwehe, jangan lempar saya dengan pisau!


  • Bahan :
    • 1 buah bawang bombay besar
    • 2 sachet tepung serbaguna 80gr
    • 1 sdm tepung beras
    • 1 sdt baking powder
    • garam secukupnya
    • 1 telur ayam
    • +/- 200 ml susu cair (bukan kental manis lho yaa)
    • 200 gr tepung roti
    • Minyak goreng

  • Langkah-langkah :
    1. Potong bawang bombay kira-kira 2,5 cm, pisahkan menjadi cincin-cincin. Dalam hal ini, aku rada kesulitan, jadi pake hati saja hwehe. Jika terpaksa putus jangan dibuang, tetap lanjut ke step selanjutnya, malah jadi onion stick ntar yang rasanya sama :D
    2. Rendam dalam air es kurang lebih selama 15-20 menit. Ini bertujuan biar bau bawangnya gak nyengat.. kurasa.
    3. Sembari menunggu, campur tepung terigu serba guna dua sachet tadi dengan 1 sdm tepung beras, 1 sdt baking powder, dan garam secukupnya (aku sih masukin 1 sdt garam saja).
    4. Kemudian, kocok lepas telur ayam lalu tuangkan susu cair perlahan, kocok lagi sampai berbusa (?) eh sampai kira kira tercampur.
    5. Siapkan tepung roti.
    6. Oke, semua bahan udah siap dan pastikan 20 menit sudah berlalu. Kita akan mulai membumbui cincin-cincinnya, hwehe. Lakukan seperti ini :
      • Tiriskan bawang dari air es
      • Masukan ke dalam tepung sambil ditekan tekan agar semua tepung menempel di bawang bombay
      • Masukan ke dalam telur
      • Dandani dengan tepung roti
      • Lakukan sampai bawangnya selesai
    7. Sudah hampir jadi, tinggal goreng saja. Pastikan minyaknya banyak yaa, maksud saya waktu digoreng nanti bawang pastikan tercelup semua dengan minyak.
    8. Goreng sampai kuning kecoklatan, jangan sampai gosong, bolak balik onion supaya warnanya semakin cantik.
    9. Sip. Onion Rings siap disajikan!
gambar ilustrasi, buatan saya terlihat lebih renyah. haha


TIPS :
  • Supaya Onion Ring tetap renyah, taruh Onion Ring yang baru saja diangkat dari penggorengan ke wadah yang sudah dilembari tisu makan/kertas minyak, tisu makan/kertas minyak disini berfungsi untuk menyerap minyak. Selain itu, jangan ditumpuk dengan Onion Ring lainnya karena Onion Ring di bawahnya akan terlumuri minyak (mengurangi kerenyahan)
  • Tambahkan bumbu perasa seperti bumbu balado, BBQ, atau sesuai selera. Namun tidak diharuskan, Onion Ring sudah enak dari sononya. Hwehe. Pake saus dan mayonaisse juga bisa menjadi alternatif.
  • Telur yang bersisa tidak perlu dibuang, tambahkan sedikit tepung terigu serbaguna lalu goreng. Memang butuh kesabaran saat menggorengnya, tapi kalau berhasil, sisa telur ini punya tekstur lembut yang lumer di mulut. Yum! :3
Nah~ sekian resep dari saya. Semoga berhasil dan selamat memasak.

Onion Ring, YUM!

By : panda random
12.2.14
2

[NOT] Tenshi no Yubikiri’s Story

-sedikit pemanasan fluff sebelum valentine-
.
.

Dahulu kala, ada seseorang putri yang sangat cantik dan menjadi pujaan banyak pangeran diseluruh dunia. Hingga tiba saatnya putri itu mencari pendamping hidupnya, dia mengadakan sebuah sayembara. Sayembara yang diikuti banyak pangeran meliputi berbagai tes penguji maut yang kini hanya menyisakan lima orang pangeran. Dan tahap terakhirnya—

“Barang siapa bisa menebak jari apa yang disembunyikan sang putri, maka ia berhak mendapatkan sang putri,” sang penyuruh kerajaan berkata dengan gulungan kertas di depannya dan putri berkimono di belakangnya.

Empat pangeran menjawab dan sekarang tiba giliran pangeran kelima. Pangeran itu menunjukkan jari kelingkingnya. Mata manik sang putri melebar lalu sedetik kemudian dia tersenyum. Dia berjalan menuju kearah pangeran dan keduanya saling menunjukan jari kelingkingnya.
*
“Kiyozumi Miki?” Ao-sensei memanggil dari depan kelas, aku terperanjat. Pandanganku yang sedari tadi terarah ke lapangan tidak mengerti apapun yang tengah dibicarakan oleh guru Kimiaku satu itu—fusi, fisi, radioaktif atau apapun itu.

“Ha-Hai,” aku berdiri dari tempat dudukku. Menatap Masaki Yumi yang duduk di meja sebelahku dengan tatapan khawatiryang hanya dibalasnya dengan sebuah gelengan kecil. Matilah saya. Kupikir hukuman untuk membersihkan kolam renang hari ini sudah ada didepan mata. Dan benar saja, disinilah aku sekarang, dengan tangan kiri memegang ember dan tangan kiri yang memegang pel.

Gomennasai, Kiyozumi-san,” ujar seorang gadis berkacamata berkucir ponytail. Dia adalah Chiyo—ketua kelasku. “Ao-sensei tidak mengijinkan kami membantumu,” dia membungkuk sedalam-dalamnya.

Aku hanya tertawa dipaksakan,”Nah, daijoubu desu, Chiyo-san. Apa gunanya latihan beladiriku kalau aku hanya akan mati karena menguras kolam renang?” aku berusaha tak membuatnya sungkan sambil tertawa garing. Walau harus melakukan sedikit—coret—banyak kebohongan. Maksudku, musim panas telah tiba dan aku harus menguras kolam renang super gede ini sendirian? Guru kimia memang mengerikan. Apa Ao-sensei tidak berpikir bahwa kaporit yang terbau bisa menyebabkan keracunan? Atau gas metana yang bisa saja muncul dari lubang kolam renang itu bisa membunuh seorang Kiyozumi Miki? Oh, lupakan barusan, aku hanya memunculkan teori kimia yang terbesit.

Chiyo tersenyum lalu kemudian mohon diri. Aku membalas senyumnya. Antara lega dan kecewa karena Chiyo bukan orang keras kepala yang akan bersikeras membantuku.

“Yosh! Kolam renang tidak akan bersih kalau aku hanya berdiam diri,” aku melintingkan lengan-lengan bajuku. Dan mulai masuk kolam renang yang telah dikosongkan. Kuras, sikat, kuras, sikat, gosok, ku...waktunya istirahat!

Aku terduduk di kursi dekat kolam renang yang ditutupi oleh pralon yang teduh. Musim panas kenapa datang secepat ini? Menyebalkan sekali. “Eh?” aku menatap heran popsicle vannila yang tengah disodorkan kepadaku oleh seseorang dari belakang.

“Kau baru mengkuras sepuluh menit dan sudah ambil istirahat? Atlit apa kau ini?” aku berjengit mendengar katanya. Aku berbalik dan mendapati seseorang pemuda berambut coklat yang telah menatapku aneh. Aku hanya mendecih.

“Kau lagi. Kau lagi. Tuan-sok-pangeran,” aku menekankan setiap perkataanku sambil memutar mataku bosan.

Dia hanya tertawa ringan lalu duduk di sebelahku,”Begitukah seorang perempuan memperlakukan pacarnya?” dia mulai menggigit popsiclenya. Aku hanya menatapnya sambil manyun.”Kau tidak mau? Banyak gadis di Anjou High yang menginginkan sepotong popsicle yang sama denganku,” dia memasang senyum sejuta volt beradiasi berkilo-kilo meter yang dapat meluluh lantahkan gadis-gadis di sekitarnya.

“Be-berikan saja pada mereka. Baka!” aku manyun untuk yang kesekian kalinya. Kalau sudah begini, menguras kolam renang berpuluh-puluh—bukan, beratus-ratus lebih baik. Aku mulai menguras lagi dengan muka dongkol. Dan masih dapat kudengar pemuda itu masih tertawa. Cakep sih iya, tapi kalau ketawa malu-maluin. Dialah Yamada Tatsuya, cowok paling ganteng, paling pintar, paling sempurna, paling bla bla bla.

“Kau ini selalu saja lucu saat cemburu ya. Dasar Tsundere,” dia tiba-tiba berada disampingku, membantuku untuk menguras kolam renang.

Aku mendengus, “Kau tak perlu repot-repot. Ao-sensei akan memarahimu kalau kau membantuku,” Tatsuya hanya terkekeh. Aku memerah, “Bu-bukan berarti aku khawatir de-denganmu! Aku hanya tak ingin kau membantuku. Aku bisa tanpa bantuanmu.” aku meralat kataku.

Tatsuya tertawa makin lebar,”Miki-chan, berhentilah bersikap tsundere seperti itu. Aku jadi ingin memakanmu kalau kau begini,” dia masih saja tertawa.

Aku memerah,”Me—memakan?”

Tatsuya menatapku,”Eh? Kenapa merah begitu?” lalu selanjutnya dia tertawa kembali. ”Miki-chan mikir jorok ya? Haha,” dia menduga sambil terpingkal. Aku hanya menggembungkan pipiku tak suka. Tatsuya bodoh. Bodoh. Bodoh. Aku menulikan pendengaranku dari suara tawanya yang malu-maluin itu dan terus menguras. Hingga sebuah kecupan mampir di pipiku. “Omae no koto suki da,” ujarnya.

Aku menoleh kearahnya dengan muka yang sepernuhnya memerah,”Ba-Baka!” Dan dia hanya tersenyum sambil memelukku. Tatsuya seperti ini memang selalu bisa meredam amarahku—ya, aku tidak sepenuhnya marah sih. Karena bagaimanapun aku adalah gadis paling beruntung yang dapat memiliki seorang Yamada Tatsuya.

“Eh, 3 Agustus kau ada acara? Bagaimana kalau ke  Okazaki Hanabitaikai?”

Tatsuya, kau tahu jawabnya kan? Aku pastilah bodoh jika menolak ajakanmu.
*
Putri dan pangeran akhirnya menikah dan hidup bahagia hingga suatu hari Pangeran dihadapkan akan keharusan untuk bertempur di medan perang. Putri mencegahnya namun Pangeran hanya tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking sang putri.

Yubikiri genman~ uso tsuitara, hari sen bon nomasu, yubi kitta,” Pangeran menyanyikan sebuah lagu. Dan malam itu, adalah malam terakhir sang Putri melihat wajah Pangeran
*
“Ayo, cepatlah Tatsuya. Hanabinya mau dimulai,” aku berjalan menaiki tangga untuk sampai di depan kastil Okazaki. Tempat itu adalah tempat yang paling indah untuk melihat hanabi pada saat acara seperti ini. Dia menengok kebelakang dan mendapati Tatsuya yang terdiam. “Doushita no?” tanyaku.

“Uhm, tidak. Aku hanya berpikir apakah kau mengenakan celana dalam,” dia berujar santai sambil memasang pose sok-berpikir. Aku terperanjat dengan muka merah sekaligus kaget dengan pertanyaannya. “Logikanya, dengan pakaian yukata seketat itu bukankah akan tercetak motif seperti—“ Tatsuya menggambarkan motif g-string di udara.

“Baka! Baka Tatsuya!” aku memukulnya tepat di kepalanya. “Dasar mesum!” Lalu cepat-cepat menuju keatas tanpa menghiraukan tertawanya yang terpingkal-pingkal.

“Miki-chan~ Miki-chan~ biarkan Tatsu-kun memastikannya~” dia berujar sok imut dibelakang dan dua bakiak kulemparkan kearahnya sambil misuh misuh gak jelas. Bodoh. Tatsuya bodoh. Kenapa aku harus mencintai makhluk bodoh sepertinya? Apa aku bilang men—mencintai? Maksudku itu aku—ah lupakan. Bicara soal Tatsuya, kenapa tiba tiba suaranya bagai lenyap ditelan bumi? Kalau dia tiba-tiba diam seperti ini, aku jadi khawatir. Aku kembali menuju tangga untuk memastikan dan Tatsuya—

—tidak ada! Gawat!

“Tatsu-kun?” aku memanggil namanya. “Tatsu-kun!” aku mulai berteriak. Aku mencoba menghilangkan pikiran bahwa Tatsuya bisa saja dibawa cahaya asing yang datang dari UFO. Baiklah, aku harus mengurangi porsi menonton film alien. “Tatsu-kun!” aku berteriak lagi dan menuruni tangga sambil terus memanggil namanya. Aku bukan seorang pitcher yang melempar bakiak sekeras itu sampai-sampai Tatsuya jatuh ke bawah kan? Tentu. Saja. Tidak. “Tatsu-kun! Udahan dong petak umpetnya,” aku berteriak untuk sekian kali. Aku semakin khawatir setelah sekian lama kupanggil tidak muncul juga.”Tatsu-kun!” aku berujar ketakutan. Tempat ini adalah tempat rahasia untuk melihat hanabi dan tidak banyak orang yang tau. Sepi. Gelap. Dan bagaimana kalau—

“KYA!~” aku berteriak ketika tiba-tiba ada sosok berbalut putih ada di depanku. Aku langsung memukulnya menggunakan kipas yang kupegang. Dan samar-samar kudengar suara cekikikan yang begitu kuhafal. “Ta—Tatsu-kun?” aku berasa ingin menangis. Dia hanya melihatku heran, “Ba-baka!” aku langsung menghambur memeluknya sampai kita jatuh terduduk di pematang dekat sungai. “Kukira kamu dimakan alien!”

Dia hanya tertawa dan mengelus lembut puncak kepalaku,”Kalau seperti ini, bagaimana bisa aku meninggalkanmu,” dia berujar sedih. Aku melepas pelukanku.

“Eh? Kau akan meninggalkanku?” aku berujar polos. Dia hanya memalingkan wajahnya, menyembunyikan sinar matanya yang meredup.”Tatsu-kun?” Aku memanggilnya sambil mencoba menatap wajahnya yang selalu menghindari tatapanku. Suara dentuman keras di udara menunjukan bahwa pesta hanabi sudah dimulai.”Ha-hanabi,” aku memandang takjub kearah langit sekilas lalu kuarahkan pandangan pada Tatsuya meminta penjelasan.


Gomennasai. Aku harus mengikuti Tou-san ke Amerika,” dia akhirnya berujar. Terdengar jelas dari mulutnya walau beriringan dengan suara keras dari kembang api yang terus menggema menghias langit musim panas. Aku terhenyak, pikiranku kosong harus merespon apa. Ini artinya aku dan Tatsuya akan—tak sadari aku menangis. Aku menutup mulutku untuk meredam tangisku. Tatsuya memang bodoh, aku akui itu. Tapi, bagaimanapun aku mencintainya. Sungguh! Dan aku tidak mau kita berakhir seperti ini.

Demo,” ujarku bergetar. Dia langsung memelukku erat. Aku bersandar didada bidangnya.”—Tatsu-kun, jangan  pergi,” aku meremas kaus putihnya yang mulai basah karena air mataku. Dia melepas pelukanku lalu menatapku dengan sebuah senyuman. Aku memerah dan memalingkan pandanganku, “Jangan menatapku seperti itu. Aku jelek jika menangis, Baka Tatsu!” aku menggembungkan pipiku sambil mengusap air mataku. Aku tidak boleh terlihat memalukan seperti ini. Dia memegang tanganku. Aku hanya melihatnya heran.

“Yubikiri genman~ uso tsuitara, hari sen bon nomasu, yubi kitta,” nyanyinya. Aku hanya melihatnya heran saat dia menautkan kelingkingnya denganku.”Ayo bernyanyi, Miki-chan.”

“Yu—Yubikiri genman,” aku berujar ragu-ragu.” Kau seperti anak kecil, Tatsu-kun,” aku tak menyelesaikan lagunya. Pemuda berambut coklat itu hanya tertawa.

“Tusuk aku dengan seribu jarum jika aku melanggar,” dia berujar kembali. Aku hanya menatapnya sedih,” Yubikiri genman~ uso tsuitara, hari sen bon nomasu, yubi kitta,” dia terus bernyanyi sambil mengayun-ayunkan kelingking kami yang saling berpautan. Aku mau tidak mau mengikuti nyanyiannya.

“—yubi kitta,” hingga aku selesai bernyanyi, dia berhenti lalu tersenyum.

“Aku berjanji Miki-chan, aku pasti kembali. Dan tempat yang pertama kutuju adalah rumahmu—“ dia berujar riang. “—janji kelingking,” dia menunjukkan jari kami yang saling terpaut sambil nyengir lebar. Ya, Tatsuya kadang punya sisi kekanak-kanakan juga, jauh dari orang yang pikirkan bahwa dia adalah orang yang cool dan jual mahal. Ya, dia—Tatsuya—memang menunjukan siapa dia sebenarnya hanya padaku. Dan itulah mengapa aku jatuh cinta padanya.

“Ne, Tatsu-kun?” aku memanggilnya dan dibalas dengan sebuah dehaman. “Bukankan cerita tentang Tenshi no Yubikiri itu akan berakhir menyedihkan?”

Dia langsung menoleh kearahku,”Kita tidak akan tahu apa yang mereka lakukan di surga sana, nah?” dia berujar santai sambil tersenyum. Aku hanya menunduk. “Ne, Miki-chan, kau bukan putri.”

“Eh?” aku kembali menatapnya yang masih menikmati kembang api yang lukisan bunga berkanvaskan langit musim panas yang cerah.

“Dan aku bukan pangeran. Yang ada hanya kau—Kiyozumi Miki dan aku—Yamada Tatsuya. Kita,” lanjutnya. Dia menatap kearahku. Dapat kurasakan pipiku memanas saat Tatsuya perlahan mendekatkan kepalanya kearahku.

Malam itu, langit musim panas di Okazaki—prefektur Aichi menjadi saksi ciuman kita berdua. Ciuman pertama dan—kuharap—bukan ciuman perpisahan. Deshou?
*
Hingga suatu saat putri jenuh dan memutuskan untuk mencari pendamping dengan membuka sebuah sayembara—‘Barang siapa tahu apa yang dilakukan dengan jari kelingking sang Putri, maka dia berhak menerima cinta sang Putri.’

Tapi semua peserta yang datang tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan jari kelingking sang Putri. Hingga seorang pengemis datang, dengan pakaian lusuhnya. Pengemis itu lalu menautkan kelingkingnya dengan kelingking sang putri. Saat itu, putri sadar bahwa itu adalah pangeran. Pengemis yang ternyata pangeran itu berkata.”Putriku, aku datang memenuhi janjiku,” lalu sesaat kemudian, pengemis itu menghilang. Putri yang sadar bahwa Pangeran telah tewas di medan perang merasa tidak dapat hidup tanpanya. Dan memutuskan untuk bunuh diri.
*
Aku menatap layar handphone flip-flopku sambil memencet-mencet keyboard melihat oricon chart bulan itu. “Tabidachi no Haru ga Kita, nee?” aku bergumam sendiri sambil menuju rak dimana lagu yang dibawakan oleh S/mileage itu berada. Tanganku hampir saja meraihnya saat seseorang mendahuluiku mengambilnya.

“Hey—aku duluan yang—“ aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku saat kulihat orang yang barusan merebut CD yang kuincar. “—Tatsu-kun?” aku berujar tak percaya sambil mengucek mataku berulang kali—untuk memastikan itu benar-benar Tatsuya. Pemuda yang mengenakan jaket bewarna hijau dengan headset di lehernya itu hanya tersenyum padaku.

How are you, Miki-chan?” tanyanya. Aku hanya mendengus, tak suka dengan dialek Inggrisnya yang nyaris sempurna. Dulu, aku selalu bisa mengalahkannya dalam bidang Bahasa. Tapi setelah lima tahun aku ditinggalnya ke Amerika, kurasa aku jauh berada di belakangnya. Oke, tidak penting. Di Jepang sendiri toh tidak diperlukan kemampuan Bahasa Inggris. Kami berjalan keluar toko musik dan ikut dalam keramaian Kota Miwa, distrik Ama—yang masih dalam prefektur Aichi. Aku bercerita bahwa aku sedang mengejar gelar sarjanaku di Aichi Gakusen University dan dia bercerita dengan sombongnya bahwa dia sedang menjalani bisnis otomotif yang diturunkan oleh Otou-sannya sedang maju pesat di Nagoya. “Ne, Miki-chan. Aku benar-benar memenuhi janjiku, darou?” dia tersenyum sambil terus berjalan di pedestrian dengan aku yang berjalan disampingnya.

“Ba—baka,”aku berujar pelan sambil tersenyum. Legenda tentang Tenshi no Yubikiri tidak pernah datang ke kehidupan kami dan berakhir dengan Tatsuya yang memenuhi janjinya.
“—chan! Miki-chan! Awas,” aku tersadar dari lamunanku. Seseorang mendorongku sampai aku tersungkur. Dan hal pertama yang kulihat saat aku membuka mataku adalah Tatsuya yang—
“Tatsu-kun! Tat—“ aku berteriak histeris dan menuju kearahnya. Tidak—kisah kita tidak adak berakhir seperti legenda itu. Kau yang mengatakannya kan, Tatsu? Jadi buka matamu, Baka. Atau kutusuk kau dengan seribu jarum.
*
Tepat dua minggu sudah lamanya pertemuanku dengan Tatsuya dan Tatsuya masih berada di ruangan serba putih ini. Musim gugur sudah berganti menjadi musim dingin. Aku melihat keluar jendela, mengamati kerlap-kerlip kota Nagoya di malam hari. Tanganku menengadah berharap salju pertama jatuh ke tanganku. Salju pertama di musim dingin katanya bisa mengabulkan segala permintaan kan? Namun, hal itu tidak pernah datang kepadaku.

“Tatsuya bodoh,” aku menggenggam tangannya yang dingin lalu meniupnya supaya menghangat. Selang infus dan oksigen masih berada di tubuhnya serta suara kardiogram yang sangat kubenci memenuhi ruangan.”Kau sendiri yang bilang sendiri kalau kita tak akan berakhir seperti sang Putri dan Pangeran,” aku mulai menitikkan air mata. Tidur di dada bidangnya yang naik-turun perlahan, mendengarnya degup jantungnya yang biasanya akan bergedup lebih kencang jika aku bersikap manja seperti ini.”Maka dari itu bangun Tatsuya. Atau jika tidak, mungkin aku juga akan berakhir seperti sang Putri,” aku memejamkan mataku. Tanganku menggenggam baju pasien Tatsuya erat,”Aku hanya tidak bisa hidup tanpamu, Tatsu-kun. Aishiteru,” aku berujar lirih. Dan gelap. Dan masih kurasakan air mataku yang tak bisa berhenti mengalir.

“—Miki-chan,” aku bahkan berhalusinasi mendengar logat kansai milik Tatsuya.”Hanya ada Miki-chan dan aku—Yamada Tatsuya.” Ya bahkan suaranya begitu jelas sekarang. Kami-sama, jika benar ini memang mimpi di tengah malam, setidaknya biarkan aku—

Kurasakan tanganku kananku terangkat, aku terperanjat dari tidurku. Aku masih menatap gesture sempurna yang tersenyum itu. “Ada yang ingin kukatakan saat itu—“ ujarnya. Aku hanya terdiam, membiarkan tangannya yang dingin menyentuh jemari tanganku.”—Kiyozumi Miki,” dia berujar lalu menyematkan barang itu di jari manisku. Sebuah cincin bermata ruby.”—menikahlah denganku.”

Aku terlalu terkejut untuk merespon tapi bulir-bulir air mata bahagia yang mengalir dari mataku cukup menggambarkan semuanya. Benar, ini bukan cerita tragis antara Putri dan Pangeran. Karena kami bukan salah satunya. Hanya ada Kiyozumi Miki dan Yamada Tatsuya—kita. Selamanya.
.
.
A—antiklimaks ya? Huueh~ gomennasai~ -w-
Ini aku buat ngebut sengebut-ngebutnya. Namanya aja juga cerpen jadi alurnya rada ngelompat biar gak ada kemelebaran cerita [wut?!]
Gak kepikiran bikin sequel, setidaknya sampai saat ini. Tapi aku suka dengan nama Kiyozumi Miki, imut banget denger nya >.<
Udah segini ada Author’s Notenya, kebanyakan ntar bisa kembung. Jaa~

[CERPEN] NOT TENSHI NO YUBIKIRI'S STORY

By : panda random 0

Dan cerita ini aku post jam 2.04 am.
This story belongs to me, please put my trade mark if you wanna copy this. Thanks


SEBUAH CERITA YANG HILANG DARI INGATANNYA

Aku tertegun menatap deretan huruf yang tertera jelas di layar laptopku. Nama seorang lelaki yang dulu pernah singgah dihatiku muncul di beranda facebookku. Dulu.

“Jadi dia sudah jadi cinta lagi ya?” aku berujar entah pada siapa. Hanya suara kipas angin yang mengisi kekosongan di dalam kamar. Aku hanya terdiam, bingung antara harus sedih atau bahagia melihatnya yang sudah berhasil moveon. Lalu aku mengasihi diriku sendiri yang kupikir aku sudah bisa terbebas dari bayangannya. Lalu apa arti dari rasa sakit di dadaku?

Aku mengingat pertama kali mengenalnya. Sebuah cerita konyol yang mungkin dialami oleh remaja remaja labil. Awal bertemu di facebook, saling tertarik, dan saling penasaran. Aku sudah lama mengenalnya hingga takdir membuat sebuah permainan. Aku ingat aku sedang berada di dalam sebuah perjalanan menuju area pertokoan dan aku singgah di salah satu toko. Aku sempatkan untuk membalas chat nya yang masuk.

“Kau dimana?”

“Aku sedang di toko dekat toko besi sini. Kau juga sedang ada di daerah sini kan?”

“Ya.”

Lalu dia tiba-tiba offline dan suara lonceng toko terdengar. Aku yang memegang satu pak tisu langsung menatap kearah orang itu. Aku kembali melihat layar handphoneku, dia sudah online. Dan sebuah dentingan pertanda chat masuk mampir ke telingaku.

“Aku melihatmu.”

Aku berkedip, lalu melihat sosok lelaki di depan pintu dengan nafas pendek-pendek seperti habis berlari. Dia mengenakan hoodie dengan celana jeans biru, rambutnya cepak dan mata indah yang membiusku. Dia mendekatiku, dan—“Hai. Aku melihatmu,”

Saat itu aku sadar. Mungkin takdir ingin menemukan kita.

Lalu setelah pertemuan kami, egois mulai menggerogotiku. Aku benar-benar ingin dia hanya melihatku, tapi semenjak pertemuan itu kurasakan dia mulai menjauh perlahan. Aku memang seharusnya menghindar dari permainan itu, aku jelek dan aku tahu itu. Dia pasti menjauh karena itu! Aku marah dengannya—ah tidak—aku tidak pernah benar-benar marah dengannya, selalu saja ada perasaan yang membuatku ingin kembali padanya. Tapi hari itu, saat aku mengutarakan rasa sukaku padanya dia hanya menjawab—

“Aku dulu memang pernah tertarik kepadamu tapi kamu seperti tidak ada respon dan sekarang.. maaf, aku sudah tidak menyukaimu. Maaf.”

Aku tidak tahu perasaanku pagi itu. Marah. Sedih. Kecewa. Dari awal mungkin aku sudah salah mengartikan perhatiannya itu lebih dari perhatian teman kepada temannya tapi dia—dia tak seharusnya nya mengakhiri apa yang telah dia mulai. Maksudku, bila dia memang tidak tertarik padaku, lakukan di awal jangan disaat aku telah mencintaimu! Brengsek!

Sejak saat itu kami mulai bermusuhan, saling menyindir ataupun saling menghapus pertemanan dan saling memblokir. Ya, saat itu aku yakin aku pasti sangat sangat sangat membencinya sampai alam kubur. Dan kebencianku membuncah saat aku membaca catatan hidupnya, disana ada namaku dan aku ditulis hanyalah seorang pengganggu. Aku menangis malam itu dan handphone yang kulempar ke lantai seakan tak memberi suatu kepedulian. Jadi selama ini, saat saat manis kita—setidaknya saat aku bukan siapa-siapamu—adalah bohong? Begitu. Mungkin aku mulai sadar kedudukanku. Aku. Tak. Lebih. Dari. Sekedar. Pengganggu.
Waktu berjalan dan saat itu aku mulai disibukkan dengan acara festival. Aku perlahan mulai lupa, setidaknya kesibukan yang memaksaku bangun tengah malam membuatku tak punya waktu memikirkannya.

“Kau pasti akan datang ke festivalku kan? Maksudku, aku dipilih jadi panitia, kau tahu?”

“Tentu saja. Aku tak pernah membohongimu. Kau adalah penyemangatku.”

Ingatan itu datang lagi, percakapan akan janjinya untuk datang ke festivalku. Kata yang paling manis yang pernah kubaca, sayang sekali itu tak lebih hanya sebuah ketikan. Tak bermakna baginya tapi bagiku—ah entahlah. Kesibukan akan festival mulai berceceran, salahkan saja dia yang membuatku tak fokus! Dan makin tak fokus saat kutahu dia tak akan datang. Aku mendesah panjang, mensugesti diriku agar bisa melupakannya dan sugesti itu tak benar berhasil.

Panitia bersorak saat pohon bambu untuk tanabata berhasil didirikan. Seorang kakak kelas yang membawa kertas permohonan menuju kearahku, “Kau mau coba?”

Aku mengangguk, mengambil spidol dan menuliskan sesuatu yang masih sangat kuhafal.

Semoga bunka bisa sukses ^^

—dan tulisan yang lebih kecil—

..dan semoga kita bisa berdamai ^^

Lihat kan? Bahkan sekalipun aku ingin membencinya di dalam hatiku aku masih sangat berharap kita bisa saling memaafkan. Aku bodoh. Apa yang aku harapkan hah?

Akhirnya dia datang, sebuah titik terang. Aku terus mencoba menghindar darinya tapi sebanyak empat kali menghindar, aku selalu bertemu dengannya. Bodoh, bagaimana bisa aku bilang ini jodoh hah? Bahkan aku sangsi dia menyadari keberadaanku. Ah sudahlah.

Mungkin bisa saja aku mengatakan bahwa aku telah menyukai orang lain. Namun bila melihat nama itu lagi, pertahanan itu seakan roboh seketika. Aku masih mengharapnya? Tuhan, mengapa aku bisa seperti ini? Apa aku sangat mencintainya? Bodoh sekali.

Dan malam itu, awal yang baru bagi kita. Aku menawarkan sebuah awal yang dimulai dari nol lagi, dan kita sama sama setuju.

Thanks for confirm. Aku Reza, kamu siapa?

Aku tersenyum dan sejurus kemudian mengklik tombol kirim. Dan hubungan kami seakan membaik. Doa di tanabata itu bisa saja benar, tapi bisa saja itu juga sebuah benang merah yang dirangkai takdir. Kami chat sampai dini hari pada hari itu, mengulang masa-masa awal saat pertama kita belum bertemu.

“Aku bingung dulu mengapa kita bisa saling berantem”

“Hahaha. Iya, aku juga.”

Dan percakapan itu terus berlanjut yang mau tak mau mengusung bibirku melengkung keatas. Aku merasa sebagai gadis yang paling bahagia saat itu. Sejak kita bilang itu dimulai dari awal, aku menanamkan diriku bahwa kita hanya bisa sebagai teman. Aku berusaha sebaik mungkin memenuhi peran sebagai ‘teman’ itu walau terkadang percikan sakit ada di hatiku saat dia bercerita soal gebetannya masih terasa, tapi aku mencoba bertahan. Karena selamanya kita hanya akan bisa menjadi teman kan? Maksudku, aku benar-benar akan menjaga hubungan kita walau hanya sebatas teman, karena aku tahu aku tak bisa memiliku. Karena kita saling tahu bahwa keegoisan yang dimunculkan cintaku akan merusak hubungan kita seperti tahun-tahun lalu. Cukuplah, cukuplah kita menjadi teman asalkan aku bisa terus bersamamu. Melihat senyummu. Mendengar suaramu. Dan memukulmu pelan sebagai tanda pertemanan.

Aku—aku berusaha keras untuk melupakanmu, jadi jangan khawatir. Aku—aku berusaha untuk menerima status kita yang tak lebih dari seorang teman. Aku—aku akan mencoba untuk bangkit. Suatu saat aku yakin pasti bisa meninggalkanmu di ujung jalan bersama orang yang sangat kau cintai itu. Suatu saat aku yakin pasti bisa tersenyum bahagia merasakan bahagiamu saat kau bersanding di pelaminan bersama orang yang kau cintai itu. Saat ini memang belum, tapi aku akan berusaha, usaha yang kuharap bukan usaha nihil yang sebelumnya. Jadi, kamu jangan khawatir.

Dan kembali ke masa sekarang dimana aku mengetik sembari menyusun kepingan memori yang telah kamu lupakan. Tidak masalah jika kamu lupa karena kita berhak menghapus kenangan yang ingin kita lupakan kan? Tapi asal kamu tahu, sepahit apapun kenangan yang kumiliki bersamamu, aku akan selalu mengenang kenangan ini. Karena kamu, iya kamu, pernah menjadi orang yang paling sangat berharga bagiku. Dulu. Sekarang. Dan mungkin.. nanti. Karena apapun kau menyebut hubungan kita, kau akan selalu menjadi ‘teman’ yang sangat berharga bagiku.

Kamu, ini adalah sebagian kecil ingatanmu yang masih bisa kuingat—tidak, aku mengingat semuanya, bahkan saat kisah masa kecilmu yang kutahu, hubungan orang terdekat kita yang saling mengenal. Takdir seolah menghubungkan kita tapi kenyatannya takdir hanya menakdirkan kita tak lebih dari seorang teman. Bagiku, cukup, asal aku bisa tetap menemuimu.

[CERPEN] SEBUAH CERITA YANG HILANG DARI INGATANNYA

By : panda random
10.2.14
0

- Copyright © 2013 My Journe(y)al - Gumi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -