Recent Blog post
Archive for 2014
Seperti biasa, malam tahun baru
gue habisin di rumah, pesen makanan dari fast restaurant buat dimakan bareng keluarga
di rumah. Jauh dari rencana awal gue yang mau bakaran dan masak spagheti
bareng temen-temen. Iya mau gimana lagi, hari tepat sebelum tahun baru gue
habisin buat sidang umum pertanggungjawaban BEM dan harus buru-buru ngadain
sidang umum DEMA agar gak terjadi vakum power. Sebagai informasi aja nih, gue
adalah salah satu anggota DEMA jadi ya gitu, kaderisasi awal tahun bisa dibilang
sibuk juga walau gak sesibuk proker akhir tahun. Phew.
Malam tahun baru? Yang terbesit
pasti hal-hal yang berbau pesta, ngedugem sampai pagi, hitung mundur, dan
kembang api dan jangan lupa serangkaian acara aneh seperti macet dan kampanye
dadakan. Tapi yaudah gitu doing. Setelahnya gak ada yang menurut gue special
selain kumpul sama orang yang gue sayangin. Gak melulu soal pacar, kumpul
bareng keluarga atau temen aja buat gue lebih dari cukup. Ye, bilang aja lo
jomblo.
Jadi ceritanya, akhir tahun ini
ada beberapa tekanan yang akhirnya membuat gue merenung dan menghabiskan waktu
buat nulis di blog sambil makan martabak manis.
Setelah 6 tahun.
Setelah 6 tahun akhirnya gue
sadar dengan alasan mantan sekaligus cinta pertama gue kenapa doi mutusin gue.
Ceilah. Pernyataan bahwa Cinta Pertama gak pernah berhasil itu terbukti benar.
Dan begonya, alasan itu baru gue sadarin sekarang.
Yang pertama nyadarin alasan
mantan gue adalah seorang teman seangkatan lewat tulisannya. Disana dijelasin
bahwa mungkin seorang manusia hidup berdasar pola yang itu-itu saja. Jika 'seseorang' memilih untuk meninggalkan orang yang dicintainya untuk orang lain
maka untuk selanjutnya orang lain itu juga akan ditinggalkan 'seseorang' itu jika
ada yang lebih darinya. Kejam. Dan dengan dewasanya, mantan gue lebih dahulu
sadar bahwa gue pernah ninggalin seseorang demi dia, dan dia tidak mau tersakiti kedepannya dengan pola hidup gue yang bakal ninggalin dia demi orang yang aji mumpung lebih baik dari dia. Padahal sumpah deh, gue gak gak niat gitu. Tapi ya, hidupku bisa saja berpola seperti itu, aku baru sadar
bahwa ternyata aku orang yang jahat.
Setelah 6 tahun juga akhirnya gue
sadar bahwa cinta itu memang benar-benar gak bisa dipaksakan. Itu mungkin apa
yang mantan gue rasakan. Gue dulu pernah berpikir, dalam hubungan yang singkat
itu, bisa saja dia membuatku sebagai taruhan. Namun, kupikir aku salah. Setelah
6 tahun, akhirnya aku sadar bahwa tidak ada cinta yang benar bisa dipaksakan.
Karma memiliki anomali. Disamping karma itu sebagai pembalasan bukankah itu bisa diartikan sebagai wujud kita balas
dendam? Kau merasa kena karma tapi di pihak lain dia pernah merasakan hal yang
sama sebelumnya. Yang sebelumnya tersakiti dia menjadi menyakiti. Yang
sebelumnya menyakiti kini jadi tersakiti. Anomali. Dan seperti rantai tanpa
anak rantai. Tak berujung.
Aku pernah ditinggal oleh
seseorang demi orang lain karena sebelumnya aku meninggalkan seseorang demi
orang lain pula. Itu bisa dibilang karma. Tapi bagaimana jika kalimatnya
berbeda? Dulu aku seseorang yang dicintai oleh seorang lelaki yang terpaksa
jatuh cinta kepadaku, tapi selanjutnya aku juga merasakan rasanya keterpaksaan
jatuh cinta kepada orang yang berbeda. Yang pada akhirnya aku harus menyakiti orang itu karena aku sadar bahwa cinta tak datang dari sebuah keterpaksaan tanpa ketulusan. Itu namanya juga karma kan? Aku kena
karma untuk bisa menyakiti. Membingungkan.
Kegagalan dan tempat kembali
Aku pernah sekali tidak suka
dengan jurusan kuliahku sekarang dan berpikir untuk mencoba masuk ke jurusan lain di
tahun berikutnya. Kata Pak Mario, "Satu kegagalan tak lantas membuatmu gagal
dalam hidup. Kegagalan adalah pertanda untuk memperbaiki diri. Sikapi kegagalan
dengan baik agar kebaikan yang datang bersama kegagalan itu datang kepadamu." Kata
itu terus terngiang, terlebih kata beliau soal menghabiskan kegagalan semasa
muda, membuatku termotivasi untuk terus mengambil kesempatan yang ada sebaik
mungkin.
Namun, berpuluh halangan kulewati
aku tetap aku tetap gagal dan tetap menetap di jurusanku sekarang.
Satu kegagalan
tak akan membuat hidupmu gagal.
Dan mungkin inilah jalannya, aku tidak perlu
pergi karena aku telah di rumah. Aku tidak perlu mencari lagi karena aku sudah
menemukan yang aku cari selama ini. Rumah, tempat kembali. Dan disanalah
sahabatku berada, tersenyum menyambutku, bercampur emosi antara harus sedih
karena aku gagal atau bahagia karena aku tetap tinggal.
Pada akhirnya, kebaikan
yang datang bersama kegagalan sampai kepadaku.
Mungkin saja bila aku berhasil
masuk ke jurusan lain, tak akan aku temukan orang spesial yang sekarang
mempengaruhi hidupku. Orang yang selalu ada untuk berbagi, tertawa bersama, dan
saling menertawakan kehidupan namun juga terbahak dalam sedu. Bukannya saling
menyembunyikan emosi tapi terkadang bersama mereka adalah sebuah obat sendiri
yang menyembuhkan luka.
Dan mungkin saja bila aku
berhasil masuk ke jurusan lain, tak akan aku temukan seorang kakak tingkat yang
begitu membuatku terlalu kagum. Dengan tugas skripsinya, dia selalu membuatku
terkesan dengan karya sastranya. Satu bukunya yang telah diterbitkan kadang membuatku aku
menatap bukunya sambil melihat tulisan dan tanda tangan yang tertera di dalamnya, yang dengan anehnya seketika itu dapat membuatku jingkrak kegirangan. Sebuah
kalimat sederhana namun seperti membuatku nostalgia saat pertama aku sangat
mengaggumi seseorang. Jantung bergedup, salting, dan tersenyum gaje bila
membayangkan wajahnya. Sepertinya sudah lama sekali sejak aku merasa kasmaran. Walau
hanya bisa melihat senyumnya dari jauh, hal itu entah mengapa membuatku cukup. Hari
yang kelam yang jika melihatnya membuatku merasa cukup dan menjadi diriku lagi. Bagiku
dia lebih seperti charger, pengisi baterai pribadi bila aku merasa gundah
gulana. Ceilah.
Apa ini—ah tidak. Ini Cuma rasa kagum yang berlebihan.
Hai, tadaima.
Aku pulang :)
Hidup
Akhir bulan juga mengajariku arti
hidup. Bahwasana hidup adalah pelajaran. Aku tak akan pernah sama, semua
orangpun juga tak akan pernah sama. Mereka tak selamanya bisa menjadi bayi yang
hanya bisa menangis ataupun anak smp yang alay. Kehidupan memberikan sebuah
pelajaran agar kita berubah, berubah menjadi benih yang kita tanam sebelumnya. Waktu
yang merupakan bagian dari kehidupan yang akan memberi jawaban. Hidup mengharuskan
memilih jalan yang kita hadapi dan waktu yang akan memberikan jawaban benar dan
salahnya. Itulah mengapa penyesalan selalu datang di akhir. Tapi kehidupan
selalu memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak mudah karena waktu
tak bisa dikompromi tapi kehidupan selalu memberi kesempatan.
Ada yang bilang
aku bukanlah orang polos yang dia kenal sewaktu sekolah dulu, aku berubah
menjadi orang jahat yang egois, seorang introvert kesepian yang mencari
perhatian lelaki, tapi selama hidupku aku tidak pernah menyesal memilih mereka. Mereka
yang menemaniku selama ini; keluarga, sahabat, teman, saudara, semuanya, aku
tidak pernah menyesali kehidupanku. Bila dia pikir aku menjadi jahat, biarlah,
karena yang kutahu selama ini, aku tidak pernah memilih mereka yang jahat. Mungkin
mereka yang terlalu baik karena mau menerimaku yang jahat ini sebagai bagian
dari hidup mereka.
Kehidupan orang berbeda, dia yang
menjugdeku tidak pernah tahu aku yang sebenarnya, begitu sebaliknya aku. Jadi aku
lebih baik diam, tak mencampuri lebih lagi urusannya. Semuanya biar pada jalannya,
karena walau aku salah, waktu kan memberi jawaban dan kehidupan akan selalu memberi kesempatan kecuali jika waktu habis dan tak memberi jawaban lagi dan kehidupan
tak lagi memberi kesempatan.
Maaf bila setahun ini aku
memiliki salah dengan kalian.
Semoga 2015 ini serba
sukses dan keberhasilan ada bersamamu.
Aku ikut berdoa dengan kalian
yang membaca ini.:)
Aamiin.
Happy New Year
Hallo Fellas. Sebelum gue mulai, Happy Holy Merry Christmas untuk kalian yang merayakan. Dan Selamat Liburan bagi kalian yang udah liburan. Kalau gue sih belum, gue baru libur setelah tahun baru karena dosen gue ngulur waktu mulu buat ujian. Bzz. Sibuk sih tapi mumpung momennya liburan, akhirnya gue dan keluarga besar gue pergi ke Pacitan yang udah jauh jauh direncanain.
Gue berangkat dari rumah gue sekitar jam 6, kagak pake molor-moloran karena Jetbus juga dateng 10 menit lebih awal. Berangkat dari rumah gue, lanjut menghampiri tante-tante dan eyang uti di depan gang rumah mereka. Yah maklum, gang menuju rumah tante dan eyang uti gue sempit dan gak cukup buat Jetbus. Emang dasarnya tante gue rempong, bawaannya bro kek orang
Tapi serius bawaannya banyak, hampir-hampir bagasi Jetbus gak muat. Yang bikin banyak itu sebenernya adalah makanan, mungkin karena emang eyang uti gue yang keranjingan bikin masakan enak sampai sampai tante-tante gue ini gak berhenti absen makanan.Dari ayam goreng, kerupuk udang, garang asem, semur daging, sampai nasi satu termos gede dan semua itu dikemas dalam porsi gede untuk keluarga besar kami yang beranggota 16 orang ditambah 2 abang supir.
Sebelum lanjut perjalanan, sekitar pukul 08.30, kita berhenti di sebuah hutan
Kita dateng sekitar jam 10 dan langsung menuju Pantai Klayar. Yuhuuu pantai, gue suka banget pantai xD
Walau jalan yang dilewati cukup terjang, berliku, dan sempit akhirnya terbayar juga dengan bersih dan birunya lautan di pantai ini. Untung cuaca hari itu lagi asik-asiknya. Gak hujan, langit bersih, sejuk tapi panas poll, ala pantai lah. Maknyuss dan ajib.
| ini dari atas bukit parkiran :v |
| otw turun haha |
| ini duo dede super rempong -_-' |
| tuh tuh miring tuh |
Ini kali pertama gue dibonceng ATV, jadi rasanya ngeri juga saat si abang lewat pasir. Gue berasa mau jatuh karena ada suatu ketika jalanan berasa miring banget karena pasir dan rasa-rasanya gue mau gelundung aja. Tapi untung nih si abang udah pro jadi untungnya gue gak jadi nekat gelundungan
Sebenernya bisa aja langsung liat cuman kala itu laut lagi pasang jadi area buat liatnya ditutup jadi jalan satu-satunya adalah naik bukit. Gapapa lah, jiwa petualang gitu lhoh.
| ini pemandangan ujung pantai Klayar |
| Noh kita harus mendaki ke atas ntuh. |
| Half way to go de, sabar yaaa |
| Ini masih di tengah jalan dan udah disuguhi gini :') |
WOY KITA UDAH SAMPAI!
SENGAJA DIULANG BIAR HEBOH
Tempat yang asik buat foto-foto ria emang. Mantap dan maknyus. Dan ini lhoh pulau serulingnya ternyata.
| Oh gini toh. |
DAN THIS IS IT!!!! BEACH TIME!!!
*karena banyak foto narsisnya, jadi gue kasih beberapa doang aja ye*
Kita maen seru seruan sampai gue yakin banget kalau wajah ini udah abang ireng kena sinar terik ala paradiso pantai. Kita termainkan ombak, maen paser dan teriak teriak gaje ala anak TK yang kesenengan (?). Haha.
Hari itu gue gak megang HP sama sekali, yang artinya gue benar-benar seneng hari itu. Yay.
SKIP bagian mandi tralala trilili hore dan momen susah saat ngilangin pasir dari rambut :v
Destinasi selanjutnya. GUA GONG
Sampai di lokasi gak butuh waktu lama karena pantai Klayar dan Gua Gong ini kek udah sepaket perjalanan. Sampai sono gue saranin kalau mau ke wisata Guo Gong dari tempat parkir GAUSAH PAKE OJEK!
Karena pengalaman kemaren, kita sempet ketipu tukang ojek. Wisatanya ternyata deket kalau cuma jalan kaki tapi si abang-abang ojeknya bilang jauh, elah ternyata si doi pake jalan muter. Iya pantes lama -_-'
Abang ojek jahat.
Dengan duit Rp 5000,- akhirnya kita cao langsung aja. JANGAN LUPA BAWA SENTER YA. YA. Kalau enggak ya sewa aja, cuma goceng kok nyewanya asal jangan diklepto aja ya senternya. Bisa dikeroyok ntar.
Sepanjang perjalanan, kita disambut oleh penjual ramah yang berjualan baju, topi, makanan, gula jawa dan batu-batu hias. Yang akhirnya bisa gue simpulin bahwa Gua Gong ini khas sama penjual batu akiknya. Iya jelas aja, lha hampir setiap penjual lapaknya asesoris batu semua.
Sebelumnya, kita naik tanggga dulu ya buat menuju pintu masuk guanya.
Terakhir gue ke Gua Gong adalah saat gue kelas 6 SD, makanya gue heran banget yang kala waktu itu Guanya masih biasa banget udah disulap jadi kek gini. Mantap. I did nothing but took many photos sampai Ayah gue bilang "Moto kok moto batu"
Yee, biarin lah yah.
| Masih aja rame :D |
Dan berakhirlah hari itu. Berasa cepet banget, gak mau berakhir. Rasanya hari ini pun pengen bareng bareng kek gini terus karena saat kayak gini adalah momen yang langka buat keluar besar
Moga kita bisa kek gini lagi ya, Yah, Mah, De, Mas, Bul, Eyang Uti.
Menikmati Asiknya ke Pantai Klayar dan Aduhainya Gua Gong
Aku tipe orang yang suka mengamati orang lain, mendengarkan pembicaraan mereka atau bahkan gosip mereka, terkadang aku menanggapinya sedikit banyak tapi bersamaan itu selalu banyak yang aku pikirkan. Aku berujung ke sebuah kesimpulan bahwa mungkin cinta adalah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Ya, aku berpikir demikian. Karena dunia ini pun hancur, melihat di layar televisi konspirasiku selalu mengatakan bahwa selebriti adalah yang mempertaruhkan cintanya agar bisa diliput dan dibayar oleh TV. Namun ternyata aku salah. Benar-benar salah.
Mungkin ini adalah karma dari Tuhan karena aku seenaknya memberi tuduhan kepada cinta bahwa cinta tak lebih dari materiil yang bisa dibeli dengan uang. Tidak, cinta tidak seburuk itu. Aku menyadari kebodohanku, bagaimana bisa-bisanya aku menuduhkan cinta- suatu hal yang murni yang didatangkan dari Tuhan adalah sebuah materiil yang bisa dibeli manusia dengan uang di dunia? Bodoh. Bodoh. Bodoh. Dan benar saja aku mendapat balasannya.
Dan dia datang, mungkin memang dia yang benar-benar aku harapkan dari angan-angan masa kecilku dulu. Kaya. Dan seorang teman. Dan di setiap doa selalu aku selipkan kata, "Oh, Tuhan yang Maha Pemberi Cinta, buatlah aku jatuh cinta." Mungkin itulah jawabnya. Orang tuaku setuju, selalu berceletuk bahwa dia benar-benar yang terbaik untukku. Kaya. Ah iya, kaya. Cinta selalu bisa dibeli dengan uang, pikirku. Ragu, aku merasa hambar.
Dia bukan orang yang aku harapkan selama ini.
"Ah, besok kalau aku sudah besar aku ingin mempunyai pacar yang mempunyai motor bagus, Kak," celetuk adikku suatu hari.
"Dibanding motor, lebih bagus dia memakai mobil," jawabku.
Ah kata itu, dia dapat keduanya. Dia lelaki yang baik, sopan dan rajin serta wajahnya yang enggak malu-maluin diajak jalan. Tubuhnya juga mumpuni untuk membuatku merasa terlindungi. Kami sama-sama sibuk tapi kami selalu ada waktu untuk pergi berdua beberapa kali. Saat itu, mungkin aku senang karena aku merasa dicintai lagi. Suatu saat, lagi-lagi Mama menanyakan hubungan kami, aku mencelos, menolak untuk membuat hubungan yang lebih dari sekedar teman. Mungkin aku membohongi diri sendiri lagi. Ayah ikut menambahi di malam minggu itu, "Ah, menanti calon menantuku," Ayah berkata sambil meminum tehnya. Entah mengapa aku risih dan memilih menghabiskan waktu dengan tidur sepanjang malam minggu.
Aku mulai aneh dengan diriku mengapa aku tidak bisa membuatnya lebih dari sekedar teman. Jahat, memang. Padahal aku seperti merasa sudah dicintai tapi ada suatu hal yang tidak bisa membuatku lebih dari ini. Jahat.
Akhirnya aku sadar bahwa selama ini aku memaksakan diri untuk jatuh cinta. Mungkin aku terlalu ingin jatuh cinta. Namun saat dia ingin lebih serius dengan hubungan ini aku terasa risih, aku merasa tak mampu. Di keduanya dan pada ujungnya kita akan saling menyakiti. Aku yang menyakiti diriku untuk terpaksa jatuh cinta atau nanti dia yang akan sangat tersakiti karena sudah terlalu cinta dan mengetahui kenyataan ini. Aku terlalu bingung hingga kupikir aku harus pergi saja.
"Mah, aku tidak mau jatuh cinta kalau seperti ini. Kenapa, Mah? Karena aji mumpung? Aku tidak mau,Mah."
--aku tidak mau menyakiti siapapun walau nyatanya aku sudah menyakitinya.
Mama kala itu tersenyum, memelukku dan dalam gelap Mama tidak tahu bahwa aku menahan air mataku. Beliau berkata bahwa semuanya akan dikembalikan semuanya padaku. Aku bukan Siti Nurbaya. Aku adalah Aku. Walau Mama tak pernah memaksaku untuk menjalin hubungan namun dengan sangat pengertian Mama berhenti merecokiku lagi. Terima kasih, Mama.
Kali ini aku akan benar-benar mengatakankannya bahwa aku tak lebih menganggapnya sebagai teman. Maaf. Sekali lagi, maaf. Aku memang jahat.
Tuhan akhirnya menunjukan bahwa cinta, anugrah terindah Tuhan bukanlah sesuatu yang bisa dibayar. Tak semudah itu membuat cinta ini tergoda hanya karena barang yang di depan mata.
Dan jawaban tentang doa "Oh, Tuhan yang Maha Pemberi Cinta, buatlah aku jatuh cinta." sudah terjawab. Kenapa aku harus berdoa agar jatuh cinta kalau sesungguhnya saat itu aku sudah jatuh cinta? Dan itulah jawabnya.
Aku-walau mungkin- telah jatuh cinta.
Namun tidak kepadanya.
Maaf.
Galau
Satu post sebelum gue bener-bener jadi mahasiswa super sibuk yang bergelut dengan deadline laporan dan Ujian Kompetensi Dasar. C'mon June~ come faster.
Judul: The Tokyo Zodiac Murders
Penulis: Soji Shimada
Tahun Penerbitan: 1987 (Jepang), 2012 (Indonesia)
Penerbit: Kodansha (Jepang) Gramedia (Indonesia)
Tebal: 354 halaman
Cetakan: Juli 2012 (Cetakan ke 34)
Uhuk. Test satu dua tiga. Aku sayang semuanya. *gampar*
Oke saya awali review ini dengan ringkasan cerita. Buku ini bercerita tentang dugaan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Heikichi Umezawa, seorang seniman eksentrik pada tahunnya. Tertulis di wasiatnya, kalau Heikichi ingin menciptakan sebuah karya seni yang diluar akal manusia yakni seorang dewi bernama Azoth. Disebutkan pula di wasiatnya, untuk membuat Azoth dibutuhkan potongan tubuh enam perawan berbeda astrologi yang kebetulan sanak saudaranya memenuhi persyaratan. Lalu, terjadilah pembunuhan, namun anehnya pembunuhan terjadi beberapa hari setelah Heikichi meninggal. Timbulah suatu pertanyaan besar, apakah Heikichi masih hidup dan kematiannya hanya rekayasa? Atau memang dia sudah terjebak dalam ilmu hitam sehingga bisa melakukan pembunuhan berantai yang sedemikian tragis? (Karena dalam pembuatan dewi Azoth, seperti yang dijelaskan di surat wasiatnya, membutuhkan sebuah ilmu alkimia dan ilmu ghaib yang rumit).
Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog gila yang merangkap sebagai detektif konsultan yang tak resmi mencoba untuk memecahkan kasus pembunuhan yang disebut sebagai Pembunuhan Zodiac Tokyo yang selama empat puluh tahun tidak dapat ditelurusi benang merahnya. Bersama rekannya, Kazumi Ishioka, seorang penggemar cerita detektif yang disebut sebagai Dr Watson ala Kiyoshi, akankah mereka berhasil? Kepo deh, baca aja sendiri :p *author mengganggu! gampar!*
Nah, kira-kira itulah ringkasannya LOL. Aku tidak akan membeberkan lebih banyak dari ini nanti malah spoiler dan gak asik lagi deh. Bahasa dalam buku ini juga bagus, terima kasih untuk penerjemah!~ Bagi gue, buku ini menarik, salah satu buku favorit yang pernah gue baca. Di buku ini, kita ditantang untuk memecahkan sendiri sebuah kasus sebelum kita membaca sampai akhir dan tentu saja ada beberapa data yang membuat kita berasa detektif beneran! And.. that is why I LOVED this book!
Gue sendiri sebenernya bisa nebak siapa pembunuh sebenernya, motif pembunuhnya tapi aku samar soal cara membunuhnya. Tentu saja ini bukan kasus mutilasi biasa, karena seperti yang dituliskan di surat Heikichi sebelumnya, potongan tubuh ini berguna untuk membuat Dewi sempurna bernama Azoth. Jadi, potongan tubuhnya harus diletakkan di unsur kimia yang menaungi mereka. Duh rumit yak? LOL, awalnya gue juga bingung tapi gue mau njelasin sedikit.
Disini, misal.. Tokiko Umezawa (22) adalah anak dari istri pertama Heikichi yang memiliki bintang Aries, bintang Aries adalah zodiac yang memiliki kelebihan di tubuhnya berupa kepala. Sehingga, yang berhak dimutilasi adalah kepala Tokiko. Nah, mayat Tokiko yang termutilasi ini harus dibuang di tambang unsur kimia zodiac yang menaunginya yakni tambang besi.
Nah seperti itulah penjelasan yang berhasil gue tangkep di surat wasiat Heikichi LOL. Selanjutnya, tergantung Anda bagaimana menyelesaikan kasus yang selama empat puluh tahun tidak terpecahkan ini. Hwahahahaha!
Yang pasti, kalian gak bakal nyesel kalau baca buku ini. Endingnya bener-bener gak terduga~ apa hayoooo cari tau aja sendiri LOL *gampar lagi*
Sekarang rate-rate-rate~ jeng jeng nilai buku ini adalah 4/5! Yay! Because I really love this book kyaaa. Satu-satunya kekurangan dalam buku ini adalah saking banyaknya data jadi kita jadi ngeblur sendiri siapa pelaku sebenarnya. Kita pertama menduga si A ternyata yang bunuh lalu muncul clue lain yang merujuk bahwa B lah pembunuhnya. Yaa aku gak bisa bilang ini kekurangan juga sih karena gue sendiri malah mencintai kekurangan ini. Gue suka banget kalau ada buku yang membuat gue ikut andil dalam cerita.
Oke sekian reviewnya (kalau emang ini bisa disebut review LOL). Satu yang gue dapet setelah buku ini adalah, persepsi orang berbeda-beda, kadang apa yang kita cari tepat di depan mata kita, saking dekatnya kita tak bisa melihatnya. Kita sebagai manusia terkadang hanya bisa mengikuti aliran, mengikuti sebuah presepsi yang kita anggap benar sehingga mengkesampingkan presepsi yang murni hasil pemikiran kita. Siapa yang menentang arus.. nah merekalah yang bisa melihatnya.
Terima kasih. Peluk cinta, cium sayang~
[BOOKS] The Tokyo Zodiac Murder
Time Paradox
A litte bit inspirated by :
60 Seconds of Cold November © rully bee
Butterfly Effect
Paradoks—pernyataan yang seolah-olah berlawanan dengan pendapat
umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran
.
12 Januari 2013 – 09.10 AM
Aku melihatnya dari kejauhan. Seorang
gadis berambut pendek di belakang tapi rambut depannya yang panjang menjuntai,
membingkai wajahnya. Dia mengenakan dress
coklat di atas lutut dengan fur kneel
boots yang berwarna putih. Dia sedang berbincang-bincang dengan
teman-temannya layaknya gadis normal lainnya. Layaknya. Namun kupikir tidak
demikian, dia adalah gadis paling aneh diantara gadis-gadis yang pernah
kutemui. Dia berjalan kearahku, melemparkan sebuah senyum lalu pergi berlalu.
Aku hanya menatapnya datar, tak membalas senyumnya apalagi sapaannya. Kupikir
aku tidak menyukainya. Sejak awal memang seharusnya begitu.
Awal pertemuanku terjadi satu hari
sebelumnya, saat aku terpaksa menyelesaikan tugasku sebagai ketua keamanan di
kampus ini. Salahkan saja kampus ini yang membentuk klub semacam itu, apa
gunanya hansip di depan kampus hah?
“..is
falling down. London Brigde is falling down,” aku berjengit ketika
tiba-tiba kudapati suara feminin mampir ke telingaku saat aku melewati lorong
di sekitar fakultas ekonomi. “Berhentilah bernyanyi. Lagu itu mengerikan,”
suara yang masih sama. “Bagaimana kalau lagunya diganti saja?” aku masih
memasang telingaku baik-baik.
Aku berjalan mengendap-endap dan
mencari asal suara. Dengan perlahan aku mengintip lewat jendela.
“Kau punya ide? Bagaimana kalau Twinkle Twinkle Litte Star?” dia berujar
lagi. Aku mengeryitkan dahiku heran. Dia sendiri. Bicara sendiri di bangku
kuliahnya. Rambutnya yang panjang di depan menjuntai hingga menyentuh buku
catatannya. Dia tampak sedang menulis sesuatu dan bersenandung lagu—ah tidak,
lebih tepatnya bergumam tidak jelas. Suaranya jelek dan tak membentuk sebuah
lagu. “Woah, welcome,” dia berujar. Menatap kearahku lalu melontarkan sebuah
senyuman. Aku terlonjak kaget hingga terduduk. Sial, dia tahu keberadaanku.
Aku bangun, sedikit membersihkan
celana jeansku. Mata gadis itu masih
menatapku dengan senyumannya yang masih enggan lepas dari bibirnya. Arah
matanya mengikutiku sampai aku sampai di ruang kelas. “Psikopat,” aku hanya
mendecih.
Dia membulatkan matanya melirik ke
kanan dan ke kiri, ”Apa psiko yang kau maksud itu aku?” dia menunjuk dirinya
sendiri sambil memasang wajah yang tak bisa kudefinisikan. Kaget. Datar. Lucu. Aneh.
Aku hanya memutar bola mataku tak
minat. “Kau gadis aneh. Berbicara dengan tembok, hm?”
Dia hanya tersenyum, merapikan
buku-buku catatannya lalu memasukkannya kedalam tas jinjingnya. Dia meluruskan
kedua tangannya diatas meja lalu meletakkan dagunya di sela-sela tangannya. Dia
menatapku,”Aku lebih suka berbicara dengan kucing sih,” lalu tertawa renyah.
Aku hanya mendecih. Aku benci dengan
hal dengan hal yang tak logis. Dan gadis ini adalah salah satunya. Aku
membencinya. Aku mengebrak meja di depanku, dia langsung terperanjat dan
menatapku bingung. “Bilang ke kucingmu itu, apa dia bisa mengajarimu cara
berdandan!” Satu gebrakan lagi. “Apa dia bisa membuat cantik!” aku berteriak.
Aku lepas kendali, aku hanya tak tahan dengan keanehan ini.
Dia memiringkan kepalanya bingung lalu
tertawa,”Kucingku kan cowok mana dia tahu dengan hal begituan,” dia bicara di
sela-sela tawanya. Dia beranjak dari kursinya lalu menghampiri jendela di
dekatku yang menghadap kearah lapangan. Dia menoleh sebentar kearahku,”Oh. Aku Mia.”
Aku hanya mendecih untuk yang kesekian
kali,”Aku tidak bertanya.”
Dia hanya tersenyum lalu mengalihkan
pandangannya ke bintang-bintang malam itu. Jam sepuluh malam memang waktu yang
tepat untuk bintang-bintang menunjukkan kemilaunya. “Aku tertidur lalu saat
terbangun ternyata udah semalam ini,” dia berujar diselingi tawanya yang
ringan.
“Aku tid—“
“Aku menjawab sebelum kau bertanya.
Aku cuma tidak ingin kau mengira aku belajar di kampus semalam ini—“ dia
menghadap kearahku. “—belajar itu membosankan,” dia menghela nafas panjang.
Menarik. Dia tahu apa yang kupikirkan.
“Lagipula orang mana yang mau belajar
di kampus? Enak juga di apartemen, ditemani dengan kucing—“
“Kau orang anehnya,” aku memotong
kalimatnya. Memasukkan kedua tanganku di saku.
“Eh?” dia berujar bingung. “Aku punya
banyak teman asal kau tahu. Aku tidak seperti gadis kesepian psikopat yang akan
menyayat tangannya seperti yang pikirkan.”
Aku hanya mendecih. “Nah, aku jadi
semakin mencurigaimu.”
Dia membalasku dengan tatapan protes.
“Kau sendiri kenapa belum pulang?”
Aku hanya diam. Tak menyahut
pertanyaannya. Aku seharusnya sudah berada dibawah selimutku asal kau tau.
Tapi, ada perasaan aneh yang membuatku masih bertahan disini. Sebuah
ketertarikan? Gravitasi?
“Oh. Okay. Baiklah kalau tidak mau
menjawab,” gadis itu memutar matanya. Menendang-nendang udara dengan kaki
kanannya. “Sibuk dengan laporan keamanan. Hm, mungkin?”
Aku melotot. Dia mulai bicara sendiri
lagi. Dasar gadis aneh.
“Aku aneh ya?” dia bertanya sambil
memajukan wajahnya di depanku.
Aku menatapnya datar. YA! Kau aneh.
“Tidak,” namun kata barusan yang keluar dari mulutku. Kadang hati tak sesuai
dengan mulut. Aku masih melihat dia yang tersenyum dengan tatapan datarku.
“Sudah malam,” dia memegang bahuku
lalu menepuk-nepuknya pelan. “Sebaiknya kau pulang.”
“Bukan itu seharusnya yang dikatakan
seorang cewek aneh sepertimu kepada seorang cowok,” aku menatapnya datar. Tak
minat.
“Oh. Okay,” dia melepaskan tangannya
dari pundakku, beralih memegang dagunya. “Jangan khawatir. Aku bisa pulang sendiri,”
lanjutnya.
“Aku tidak tertarik mengantarmu,”
ujarku kejam yang hanya dibalas dengan senyumannya. Tidak, aku tidak mulai
tertarik dengan gadis ini kan? Dia berlalu disampingku, mengambil tasnya dan
aku yang hanya bisa melihat punggungnya menjauh.
Dia membalikkan badannya sekilas.
“Daaah!” dia melambaikan tangannya dengan sebuah senyum di bibirnya. Aku hanya
mendecih. Aku benci dengan gadis aneh. Dia sama sekali bukan tipeku. Aku hanya
menyukai gadis normal berdada besar yang manis. Dan dia tidak sedikitpun—atau
bahkan tidak sama sekali—masuk dalam kriteria itu. Cih.
Aku menatap telapak tangan kananku
lalu bergantian menatap lorong yang barusan dilalui gadis itu. Dia sudah
berlalu, tak terjangkau lagi oleh mataku. Aku mengangkat tangan kananku, menggerakkannya
kaku membentuk sebuah lambaian. “Hm. Bye,” aku tersenyum tersendiri, menyadari
keanehan yang barusan kulakukan. Aku benci gadis aneh, itu mantra yang selalu
kuucapkan sejak saat itu. Dan berhenti saat lusanya kudapati kabar kematian
gadis itu. Terbunuh tragis. Oleh pembunuh misterius.
13 Februari 2013 – 03.00 PM
Kematian Mia tidak menjadi hal yang
banyak dibicarakan orang hingga sore ini. Kematian Mia seperti hal yang sudah
wajar—ah, atau mungkin pihak kampus tidak mau membicarakan hal ini lebih
lanjut. Yang kutahu dari koran yang pagi ini kubaca, telah ditemukan gadis
terbunuh di apartemennya dengan darah yang menggenang. Setidaknya itulah yang
ditulis oleh wartawan surat kabar yang hiperbolis, foto tidak cukup menjelaskan
semuanya karena yang kulihat adalah foto tubuh Mia yang tersensor di halaman
hitam putih sebuah koran abal-abal. Tidak minat untuk mencari tahu lebih, aku
meneruskan bacaanku yang sempat tertunda oleh anomali hari ini.
“Tak kusangka Mia akan berakhir
seperti itu,” seorang gadis berkucir pendek itu berujar kepada temannya yang
berambut panjang disebelahnya. Gadis berambut panjang itu mengangguk pelan
sembari menyelipkan rambutkan di belakang telinga. Mereka menuju kearahku lalu
terduduk di bangku.”Dia gadis yang baik dan ceria, kan? Kenapa harus begini?”
lanjut si gadis berkucir pendek.
Mataku terus melihat buku namun
telinga dan pikiranku kutujukan sepenuhnya kepada pembicaraan mereka. Aku
memang tidak minat, aku hanya ingin tahu saja. Masalah?
“Terakhir dia berkata akan lembur
seharian di apartemennya karena tugas yang menumpuk—,“ujar gadis berkucir
pendek itu lagi. Suaranya terdengar gemetar kali ini. “Aku menawarkan bantuan
tapi dia menolak. Dia berkata bahwa—bahwa—,” kata-katanya terhenti, tergantikan
oleh sebuah isakan. Ku meliriknya dan mendapati gadis itu menutup mukanya
dengan kedua tangannya.
Gadis berambut panjang disebelahnya
hanya menatapnya iba dan mengelus pundaknya pelan, berusaha meredam kesedihan
temannya.
“—darahnya. Tidak, dia bukan Mia,”
ujarnya semakin histeris dengan air mata yang terus mengalaris dan
menggeleng-gelengkan kepalanya keras.
Aku mengeryitkan dahi sambil menatap mereka.
“Sudahlah. Jangan bahas soal itu,”
gadis berambut panjang itu ikut menunduk. Lalu menengok ke kanan dan kiri
seakan maling yang ingin mengambil barang curiannya. Aku refleks menatap bukuku
kembali, pura-pura tak mengikuti arah pembicaraan mereka. “Ba—bagaimana
kucingnya?” aku mengeryitkan dahi heran. Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku.
Apa hubungannya seorang kucing dengan kematian Mia? Apa kucing itu lebih
berharga daripada seorang Mia? Tiba-tiba fertigoku seakan mau kumat.
Gadis berkucir pendek itu hanya
mengangguk di sela isakannya.
Gadis berambut panjang itu menghela
nafas lega. Aku langsung menatapnya dan dibalas dengan tatapan menusuknya yang
tiba-tiba. “Menguping kematian adalah hobi yang buruk,” ujarnya sarkasme.
Aku hanya bisa mengutuknya dalam hati.
Yang pertama duduk di bangku ini adalah aku. Dan bukan salahku jika aku tidak
sengaja mendengarkan pembicaraan kalian. Kedua gadis itu akhirnya beranjak dari
bangku setelah melempar tatapan tajam kearahku—terlebih si gadis berambut
panjang yang menjengkelkan itu. Aku hanya menatap mereka datar, menatap
punggung mereka yang menjauh kemudian hilang dalam kerumunan hiruk pikuk
kampus. Aku menatap kembali bukuku, merenungi apa yang barusan mereka katakan.
Dan ujaran yang terus teringang di benakku, sebuah gumaman si rambut panjang
yang cukup bisa kudengar.
“Ya, dia bukan Mia. Lebih tepatnya sudah tidak berbentuk seperti
Mia.”
“Syukurlah. Kucingnya selamat, kuharap ada—“ kata
terakhirnya tak jelas. Apakah sebuah mantra?
Aku langsung mengambil koran abal-abal
pagi ini yang mengulas soal kematian Mia dengan buru-buru. Dan langsung membuka
halaman tiga yang menampakkan foto tubuhnya yang disensor dan dibelakangnya
kudapati tatapan mata yang menyala oleh—
—seekor kucing. Ku tidak mengerti
pasti warna kucing itu karena berita Mia ada di halaman koran hitam putih. Ku
amati terus foto kucing itu, tertangkap oleh kamera yang memantulkan warna
matanya sehingga tampak menyala dalam kegelapan.
Satu kedipan, aku makin terus menamati
foto itu. Tidak ada yang salah.
Dua kedipan. Aku tidak mengerti kucing
ini bisa lebih berharga dari Mia.
Tiga kedipan. Aku terperanjat, foto
kucing itu menghilang. Aku menatap lebih dekat lagi, memajukan koran itu hingga
sepuluh centimenter di depanku untuk memastikan bahwa sedari tadi aku tidak
berhalusinasi melihat foto kucing. Sial, apa ini koran abal-abal tapi
mengandung magic seperti yang aku
lihat di film karya J.K Rowling?
Aku masih dalam kekagetanku. Hari ini
benar-benar sangat melelahkan dan penuh dengan ketidak logisan. Aku menghela
nafas panjang dan menatap langit sore yang mulai berubah jingga. Sakit.
Kudapati sesuatu di dadaku sesak, aku meremas dada kiriku. Dan perlahan aku
terpejam, merasakan sebuah linangan air yang turun di pipiku. Sakit. Kepalaku sakit.
Aku ingin istirahat. Sejenak menikmati
kesendirian yang memuakkan ini.
03 Maret 2010 – 10.55 AM
“Hey, my bro,” seseorang merangkul pundakku dari
belakang. Aku hanya menatapnya sekilas, dia adalah Albert. Cowok yang aku
ketahui sebagai seorang sahabat semenjak aku melangkahkan kakiku ke kampus ini.
Aku terus berjalan, menghiraukan keberadaannya. Dia mendengus,”Ck. Andromeda
Polaris, setidaknya balaslah sapaan sahabatmu yang paling ganteng ini,” dia
memutar matanya bosan lalu melepas rangkulannya.
Aku menatapnya sekilas,”Hey Albert.”
Albert hanya berdeham lalu tersenyum
lebar dan beralih ke i-pod putih kesayangannya.
“Kau tahu bagaimana Mia terbunuh?”
Albert menghentikan aktivitas memasang
headphonenya dan melihatku heran. “Hm? Mia?” dia memasang pose berpikir—sok
seperti Sherlock Holmes yang sedang berpikir, hanya saja Albert berotak kosong.
“Aku bahkan baru mendengar namanya,” lanjutnya lalu nyengir lebar. Jawaban yang
begitu mengecewakan.
Berganti aku yang terkejut,”Bukankah
kau satu klub dengannya di klub bandmu?” Aku menatap Albert dengan sejuta tanya
yang juga dibalas dengan tatapan sama darinya. “Mia. Mia Funchsia.”
Albert melihatku dengan heran sambil
menggelengkan kepalanya pelan, “Andro, kau tidak apa-apa? Kau demam?” Pemuda
berambut raven itu mengeryitkan dahi,”Tidak ada anggota klub yang bernama Mia.”
Aku langsung menatapkan punggungku di
tembok terdekat. Tidak. Tidak mungkin kematiannya terhapus. Aku melihat wajah
Albert yang beberapa meter di depanku, ada raut kekhawatiran disana. Matanya
memancarkan iba dan sedikit keprihatinan bahwa sahabatnya mungkin saja
menderita penyakit yang sama seperti pasien rumah sakit jiwa. Pandanganku
buram—tidak, ini bukan fertigo. Aku melihat jam digital yang melingkar di
tangan kiriku. Aku terhenyak.
3 Maret 2010!
Kakiku gemetar saat aku menghampiri
Albert. Dia yang beberapa meter didepanku ikut menghampiriku saat dilihatnya
aku yang limbung. “Andro, kau tidak ap—“
‘BRUK’ seseorang tiba-tiba menabrakku.
Aku jatuh terduduk dan memijit kepalaku. Sakit. Kulihat sekilas Albert
menghampiriku dan membantuku berdiri namun pandanganku kutujukan terhadap orang
yang menabrakku barusan. Seorang gadis berambut pendek, dengan kacamata tebal,
kemeja floral panjang yang dikancing
penuh dan rok chiffon semata kakinya.
Satu kesan yang kudapat, dia gadis yang cupu. Gadis itu kemudian menunduk,
memunguti buku-bukunya yang bercecer.
“Ma—maaf,” ujarnya pelan.
Aku tak acuh tapi mengambil bukunya
yang terlempar cukup jauh. Sayup-sayup kudengar suara Albert yang berbasa-basi
dengan menjelaskan bahwa temannya yang satu ini—aku—sedang mempunyai hobi baru
yaitu mengalamun. Aku tak mau ambil pusing dengan perkataannya barusan, aku
sudah pusing dan tak mau tambah pusing lagi. “Ini,” ujarku sembari menyerahkan
dua bukunya.
“Terima ka—,” ujarnya pelan, sangat
pelan hingga kalimat akhirnya tak bisa kudengar dengan jelas. Namun aku tahu
bahwa dia bermaksud berterima kasih kepadaku. Aku hanya mengangguk. Dia
akhirnya mau menatap mataku setelah sekian lama menunduk dan melontarkan
senyuman.
Aku mematung. Lalu dia berlalu disampingku.
Mata itu, mata yang sama. Aku menggenggam pergelangan tangannya, mencegahnya
untuk pergi dan menyeretnya kembali hingga kini dia didepanku. “Mi—Mia?” gadis
itu terlihat terkejut. Mungkin memang aku benar menyebut namanya.
Albert bingung dengan situasi yang
terjadi sekarang. Dia hanya melihat antara aku dan Mia secara bergantian.
“He—hei. Apa yang—“
Kalimatnya tak selesai. Aku hanya
fokus dengan gadis yang di depanku sekarang. Aku menyeretnya, menghiraukan
panggilan Albert dan juga menghiraukan rintihan Mia yang kudengar beberapa
kali. Gadis itu sedikit berlari untuk mengimbangi langkahku yang lebar.
Berulang kali dia juga meronta agar aku melepaskannya. Tidak. Kau tidak bisa,
Mia. Aku tidak peduli, aku hanya ingin memperjelas ketidak jelasan ini. Bagaimana
bisa aku terlempar ke masa lalu dan bagaimana bisa aku bertemu denganmu di
tahun 2010. Sial, ini membingungkanku.
Aku sampai di gedung belakang sekolah
yang sepi. Aku langsung mendorong gadis itu sampai punggungnya menatap tembok
dengan cat yang sudah mengelupas. Wajahnya merah dan nafasnya terengah-engah.
Aku meletakkan kedua tanganku disampingnya, memenjarakannya. Sekarang, tidak
ada tempat lari lagi. “A—apa yang ka—kakak—“
Ucapannya terhenti ketika perlahan
kulepas kacamatanya dengan tangan kananku. Dia berusaha mencegahnya namun
kiriku dengan sigap menggenggam kedua tangan mungilnya dan menaruhnya di atas
kepalanya. Cih, aku terlihat seperti orang yang akan memerkosa anak orang. Tapi
tentu saja tidak, aku seharusnya tidak tertarik dengan gadis ini. Seharusnya.
Namun kadang takdir berkata lain. Aku berhasil melepas kacamatanya dan kini
matanya menatapku dengan ketakutan yang luar biasa. Jangan begitu, aku juga
membenci dengan hal yang kulakukan sekarang. “Ternyata kau memang Mia,” aku
menunduk. Dadaku naik turun, meraup oksigen sebanyak yang aku bisa karena
berulang kali aku tercekat oleh kekagetan yang disebabkan oleh gadis di depanku
ini. Aku menatapnya kembali dan kudapati dia yang menangis. Apa dia benar
berpikir aku akan memerkosanya?
Aku tersenyum, menghapus air matanya.
“Kau gadis aneh. Jika aku jadi kau, aku akan berteriak atau setidaknya akan
menendang selangkangku.”
Dia menatapku sambil sedikit terisak,”Ka—kau
ingin aku melakukannya?”
Aku merenggangkan cengkraman tangan
kiriku. Gadis itu langsung mengelus pergelangan tangannya lalu melontarkan
sebuah senyuman.
“Hanya saja aku tahu kalau kakak tidak
berniat apa-apa, makanya—“
Dia terhenti saat kedua tanganku
kembali berada di samping kanan-kirinya. Nafasnya sudah teratur, dapat kudengar
itu. Bau samponya, aroma jeruk—persis seperti anak kecil. Aku terkekeh. Kembali
mengingat pertemuan pertama kami di tahun 2013, dia tetap aneh bahkan di tahun
2010. Selalu saja bisa melihat apa yang dipikirkan orang lain. Itu aneh kan?
Gadis itu hanya memasang tampang
bingung, menatap ke tangan kanan dan kiriku secara bergantian. “Oh. Bagaimana
kakak bisa tahu—AHH!” dia tiba-tiba berteriak bersamaan dengan kepalaku yang
memanas. Sakit. Sakit sekali. Pandanganku memburam, dapat kulihat gadis itu
menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membulat layaknya orang syok.
Seluruh badanku seperti kehilangan fungsinya. Aku memegang bagian belakang
kepalaku.
Darah. Darah mengguyur kepalaku? Atau
apa? Aku tersungkur kesamping. Waktuku seperti tak lama lagi. Pandanganku
menggelap setelah sebelumnya indra perasaku merasakan dingin di pipiku, lalu
disusul oleh tatapan mata kuning-biru yang dimiliki seekor kucing hitam.
Seekor kucing..mungkin itu kuncinya.
Dan kali ini aku sepenuhnya terpejam.
Andromeda Polaris termakan omongannya. Andromeda Polaris akan masuk di koran
abal-abal dengan penulis berita yang hiperbolis. Andromeda Polaris mati
tertembak peluru nyasar.
to be continued. .
[curhatan si author moody]
Ku beritahu sebuah rahasia, jadi semua cerpen disini adalah cerpen-cerpen yang sudah tertimbun cukup lama di kotak dokumenku LOL. Seperti karya ini juga, seingatku cerpen ini aku buat saat aku masih semester 1 (sekarang aku semester 2) LOL xDD
Sebenarnya, aku suka cerpen ini, aku suka tokoh Mia dan Andro yang berjalan-jalan di benakku. Dan tahu kenyataan bahwa Andromeda adalah nama seorang dewi sedikit membuat shock, tapi entah mengapa aku suka karakter cowok disini yang memiliki nama Andromeda (cowok normal, tentu saja)
Kerangkanya jadi rada ngeblur, maklum lah author moody seperti saya cuma nulis waktu mood aja #plakjder. Cukup, jangan tampar aku lagi! Aku akan berusaha membangun tubuh cerita ini lagi, jadi doakan saja supaya aku bisa menemukan insprirasi yang bagus ke depannya. HAHAHA!
Oke. Cukup sekian. Terima kasih. Muah. Peluk sayang, cium cinta. #dihajarhabishabisan









