Recent Blog post

Archive for 2014

Seperti biasa, malam tahun baru gue habisin di rumah, pesen makanan dari fast restaurant buat dimakan bareng keluarga di rumah. Jauh dari rencana awal gue yang mau bakaran dan masak spagheti bareng temen-temen. Iya mau gimana lagi, hari tepat sebelum tahun baru gue habisin buat sidang umum pertanggungjawaban BEM dan harus buru-buru ngadain sidang umum DEMA agar gak terjadi vakum power. Sebagai informasi aja nih, gue adalah salah satu anggota DEMA jadi ya gitu, kaderisasi awal tahun bisa dibilang sibuk juga walau gak sesibuk proker akhir tahun. Phew.

Malam tahun baru? Yang terbesit pasti hal-hal yang berbau pesta, ngedugem sampai pagi, hitung mundur, dan kembang api dan jangan lupa serangkaian acara aneh seperti macet dan kampanye dadakan. Tapi yaudah gitu doing. Setelahnya gak ada yang menurut gue special selain kumpul sama orang yang gue sayangin. Gak melulu soal pacar, kumpul bareng keluarga atau temen aja buat gue lebih dari cukup. Ye, bilang aja lo jomblo.

Jadi ceritanya, akhir tahun ini ada beberapa tekanan yang akhirnya membuat gue merenung dan menghabiskan waktu buat nulis di blog sambil makan martabak manis.

Setelah 6 tahun.

Setelah 6 tahun akhirnya gue sadar dengan alasan mantan sekaligus cinta pertama gue kenapa doi mutusin gue. Ceilah. Pernyataan bahwa Cinta Pertama gak pernah berhasil itu terbukti benar. Dan begonya, alasan itu baru gue sadarin sekarang.

Yang pertama nyadarin alasan mantan gue adalah seorang teman seangkatan lewat tulisannya. Disana dijelasin bahwa mungkin seorang manusia hidup berdasar pola yang itu-itu saja. Jika 'seseorang' memilih untuk meninggalkan orang yang dicintainya untuk orang lain maka untuk selanjutnya orang lain itu juga akan ditinggalkan 'seseorang' itu jika ada yang lebih darinya. Kejam. Dan dengan dewasanya, mantan gue lebih dahulu sadar bahwa gue pernah ninggalin seseorang demi dia, dan dia tidak mau tersakiti kedepannya dengan pola hidup gue yang bakal ninggalin dia demi orang yang aji mumpung lebih baik dari dia. Padahal sumpah deh, gue gak gak niat gitu. Tapi ya, hidupku bisa saja berpola seperti itu, aku baru sadar bahwa ternyata aku orang yang jahat.

Setelah 6 tahun juga akhirnya gue sadar bahwa cinta itu memang benar-benar gak bisa dipaksakan. Itu mungkin apa yang mantan gue rasakan. Gue dulu pernah berpikir, dalam hubungan yang singkat itu, bisa saja dia membuatku sebagai taruhan. Namun, kupikir aku salah. Setelah 6 tahun, akhirnya aku sadar bahwa tidak ada cinta yang benar bisa dipaksakan.

Karma memiliki anomali. Disamping karma itu sebagai pembalasan bukankah itu bisa diartikan sebagai wujud kita balas dendam? Kau merasa kena karma tapi di pihak lain dia pernah merasakan hal yang sama sebelumnya. Yang sebelumnya tersakiti dia menjadi menyakiti. Yang sebelumnya menyakiti kini jadi tersakiti. Anomali. Dan seperti rantai tanpa anak rantai. Tak berujung.

Aku pernah ditinggal oleh seseorang demi orang lain karena sebelumnya aku meninggalkan seseorang demi orang lain pula. Itu bisa dibilang karma. Tapi bagaimana jika kalimatnya berbeda? Dulu aku seseorang yang dicintai oleh seorang lelaki yang terpaksa jatuh cinta kepadaku, tapi selanjutnya aku juga merasakan rasanya keterpaksaan jatuh cinta kepada orang yang berbeda. Yang pada akhirnya aku harus menyakiti orang itu karena aku sadar bahwa cinta tak datang dari sebuah keterpaksaan tanpa ketulusan. Itu namanya juga karma kan? Aku kena karma untuk bisa menyakiti. Membingungkan.

Kegagalan dan tempat kembali

Aku pernah sekali tidak suka dengan jurusan kuliahku sekarang dan berpikir untuk mencoba masuk ke jurusan lain di tahun berikutnya. Kata Pak Mario, "Satu kegagalan tak lantas membuatmu gagal dalam hidup. Kegagalan adalah pertanda untuk memperbaiki diri. Sikapi kegagalan dengan baik agar kebaikan yang datang bersama kegagalan itu datang kepadamu." Kata itu terus terngiang, terlebih kata beliau soal menghabiskan kegagalan semasa muda, membuatku termotivasi untuk terus mengambil kesempatan yang ada sebaik mungkin.

Namun, berpuluh halangan kulewati aku tetap aku tetap gagal dan tetap menetap di jurusanku sekarang. 

Satu kegagalan tak akan membuat hidupmu gagal

Dan mungkin inilah jalannya, aku tidak perlu pergi karena aku telah di rumah. Aku tidak perlu mencari lagi karena aku sudah menemukan yang aku cari selama ini. Rumah, tempat kembali. Dan disanalah sahabatku berada, tersenyum menyambutku, bercampur emosi antara harus sedih karena aku gagal atau bahagia karena aku tetap tinggal. 

Pada akhirnya, kebaikan yang datang bersama kegagalan sampai kepadaku.

Mungkin saja bila aku berhasil masuk ke jurusan lain, tak akan aku temukan orang spesial yang sekarang mempengaruhi hidupku. Orang yang selalu ada untuk berbagi, tertawa bersama, dan saling menertawakan kehidupan namun juga terbahak dalam sedu. Bukannya saling menyembunyikan emosi tapi terkadang bersama mereka adalah sebuah obat sendiri yang menyembuhkan luka.

Dan mungkin saja bila aku berhasil masuk ke jurusan lain, tak akan aku temukan seorang kakak tingkat yang begitu membuatku terlalu kagum. Dengan tugas skripsinya, dia selalu membuatku terkesan dengan karya sastranya. Satu bukunya yang telah diterbitkan kadang membuatku aku menatap bukunya sambil melihat tulisan dan tanda tangan yang tertera di dalamnya, yang dengan anehnya seketika itu dapat membuatku jingkrak kegirangan. Sebuah kalimat sederhana namun seperti membuatku nostalgia saat pertama aku sangat mengaggumi seseorang. Jantung bergedup, salting, dan tersenyum gaje bila membayangkan wajahnya. Sepertinya sudah lama sekali sejak aku merasa kasmaran. Walau hanya bisa melihat senyumnya dari jauh, hal itu entah mengapa membuatku cukup. Hari yang kelam yang jika melihatnya membuatku merasa cukup dan menjadi diriku lagi. Bagiku dia lebih seperti charger, pengisi baterai pribadi bila aku merasa gundah gulana. Ceilah.

Apa ini—ah tidak. Ini Cuma rasa kagum yang berlebihan.

Hai, tadaima.

Aku pulang  :)

Hidup

Akhir bulan juga mengajariku arti hidup. Bahwasana hidup adalah pelajaran. Aku tak akan pernah sama, semua orangpun juga tak akan pernah sama. Mereka tak selamanya bisa menjadi bayi yang hanya bisa menangis ataupun anak smp yang alay. Kehidupan memberikan sebuah pelajaran agar kita berubah, berubah menjadi benih yang kita tanam sebelumnya. Waktu yang merupakan bagian dari kehidupan yang akan memberi jawaban. Hidup mengharuskan memilih jalan yang kita hadapi dan waktu yang akan memberikan jawaban benar dan salahnya. Itulah mengapa penyesalan selalu datang di akhir. Tapi kehidupan selalu memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak mudah karena waktu tak bisa dikompromi tapi kehidupan selalu memberi kesempatan. 

Ada yang bilang aku bukanlah orang polos yang dia kenal sewaktu sekolah dulu, aku berubah menjadi orang jahat yang egois, seorang introvert kesepian yang mencari perhatian lelaki, tapi selama hidupku aku tidak pernah menyesal memilih mereka. Mereka yang menemaniku selama ini; keluarga, sahabat, teman, saudara, semuanya, aku tidak pernah menyesali kehidupanku. Bila dia pikir aku menjadi jahat, biarlah, karena yang kutahu selama ini, aku tidak pernah memilih mereka yang jahat. Mungkin mereka yang terlalu baik karena mau menerimaku yang jahat ini sebagai bagian dari hidup mereka.



Kehidupan orang berbeda, dia yang menjugdeku tidak pernah tahu aku yang sebenarnya, begitu sebaliknya aku. Jadi aku lebih baik diam, tak mencampuri lebih lagi urusannya. Semuanya biar pada jalannya, karena walau aku salah, waktu kan memberi jawaban dan kehidupan akan selalu memberi kesempatan kecuali jika waktu habis dan tak memberi jawaban lagi dan kehidupan tak lagi memberi kesempatan.

Maaf bila setahun ini aku memiliki salah dengan kalian.

Semoga 2015 ini serba sukses dan keberhasilan ada bersamamu.

Aku ikut berdoa dengan kalian yang membaca ini.:)


Aamiin.

Happy New Year

By : panda random
31.12.14
0

Hallo Fellas. Sebelum gue mulai, Happy Holy Merry Christmas untuk kalian yang merayakan. Dan Selamat Liburan bagi kalian yang udah liburan. Kalau gue sih belum, gue baru libur setelah tahun baru karena dosen gue ngulur waktu mulu buat ujian. Bzz. Sibuk sih tapi mumpung momennya liburan, akhirnya gue dan keluarga besar gue pergi ke Pacitan yang udah jauh jauh direncanain.

Gue berangkat dari rumah gue sekitar jam 6, kagak pake molor-moloran karena Jetbus juga dateng 10 menit lebih awal. Berangkat dari rumah gue, lanjut menghampiri tante-tante dan eyang uti di depan gang rumah mereka. Yah maklum, gang menuju rumah tante dan eyang uti gue sempit dan gak cukup buat Jetbus. Emang dasarnya tante gue rempong, bawaannya bro kek orang ngungsi pindah rumah.Eh, haha ampun tante.

Tapi serius bawaannya banyak, hampir-hampir bagasi Jetbus gak muat. Yang bikin banyak itu sebenernya adalah makanan, mungkin karena emang eyang uti gue yang keranjingan bikin masakan enak sampai sampai tante-tante gue ini gak berhenti absen makanan.Dari ayam goreng, kerupuk udang, garang asem, semur daging, sampai nasi satu termos gede dan semua itu dikemas dalam porsi gede untuk keluarga besar kami yang beranggota 16 orang ditambah 2 abang supir. Udah mirip orang mau jualan aja.

Udah komplit semua sekarang kita tinggal cao aja ke pacitan. Di sepanjang perjalanan kita bersuka cita, gosipin sana-sini, dan liat kelucuan dede dede sepupu yang kiyutnya overload. Skip aja bagian ini. HAHAHA.

Sebelum lanjut perjalanan, sekitar pukul 08.30, kita berhenti di sebuah hutan antah berantah di Wonogiri untuk sarapan. Kita gelar tikar dan keluarin seluruh makanan porsi besar dari bagasi. Tuh, udah mirip orang jualan emang hahaha. Tapi disini enaknya adalah kebersamaan dan back-to-nature. Aih, rasanya udah lama banget gue gak begini.





Kita dateng sekitar jam 10 dan langsung menuju Pantai Klayar. Yuhuuu pantai, gue suka banget pantai xD

Walau jalan yang dilewati cukup terjang, berliku, dan sempit akhirnya terbayar juga dengan bersih dan birunya lautan di pantai ini. Untung cuaca hari itu lagi asik-asiknya. Gak hujan, langit bersih, sejuk tapi panas poll, ala pantai lah. Maknyuss dan ajib.


ini dari atas bukit parkiran :v


otw turun haha
Kita gak langsung bisa menikmati pantainya karena saking ramenya, kita parkir di atas bukit dan itu artinya kita harus turun dulu buat ke area pantainya. Sampai di area pantai kita ditawari beberapa abang-abang pengendara ATV. Mereka bilang bahwa mereka bisa nganter kami ke pulau seruling yang pemandangannya aduhai. Dan setelah tawar menawar dan berakhir di Rp 280.000,- akhirnya kita sewa 7 ATV beserta abang pengendara ATVnya buat nganterin kita kesana.

ini duo dede super rempong -_-'

tuh tuh miring tuh

Ini kali pertama gue dibonceng ATV, jadi rasanya ngeri juga saat si abang lewat pasir. Gue berasa mau jatuh karena ada suatu ketika jalanan berasa miring banget karena pasir dan rasa-rasanya gue mau gelundung aja. Tapi untung nih si abang udah pro jadi untungnya gue gak jadi nekat gelundungan sayang kamera gue mah

Nyampe ujung pantai ternyata gak bisa langsung liat pulau serulingnya. Kita harus bersusah payah lagi mendaki menuju atas bukit buat lihatnya. Setdah ah. -_-'

Sebenernya bisa aja langsung liat cuman kala itu laut lagi pasang jadi area buat liatnya ditutup jadi jalan satu-satunya adalah naik bukit. Gapapa lah, jiwa petualang gitu lhoh.

ini pemandangan ujung pantai Klayar

Noh kita harus mendaki ke atas ntuh.
Arena yang dilewati phew becek, becek ala habis hujan. Udah gak keitung lagi gue kepeselet beberapa sampai-sampai kaki udah ketutup tanah basah dan subur gue cuma berharap gak tumbuh toge kedepannya

Tapi asiknya, sepanjang perjalan mata kami gak habis habisnya dicuci karena pemandangannya gak jemu-jemu buat dilihat. Kalau di Bali punya Pantai DreamLand, Pacitan punya pantai Klayar yang indahnya sebelas dua belas.

Half way to go de, sabar yaaa

Ini masih di tengah jalan dan udah disuguhi gini :')
DAN AKHIRNYA SETELAH BERJUANG BECEK-BECEKAN AKHIRNYA KITA SAMPAI!

WOY KITA UDAH SAMPAI!

SENGAJA DIULANG BIAR HEBOH




Tempat yang asik buat foto-foto ria emang. Mantap dan maknyus. Dan ini lhoh pulau serulingnya ternyata.
Oh gini toh.
Katanya disebut pula seruling karena menyembur (?) eh bukan karena emang kayak ditiup kek seruling gitu. Aih entahlah, info lengkapnya kalian cari di wikipedia aja daripada percaya sama gue. Takut ujungnya sesat :v

DAN THIS IS IT!!!! BEACH TIME!!!
*karena banyak foto narsisnya, jadi gue kasih beberapa doang aja ye*





Dan semua capek akhirnya terbayar sudah :')

Kita maen seru seruan sampai gue yakin banget kalau wajah ini udah abang ireng kena sinar terik ala paradiso pantai. Kita termainkan ombak, maen paser dan teriak teriak gaje ala anak TK yang kesenengan (?). Haha.

Hari itu gue gak megang HP sama sekali, yang artinya gue benar-benar seneng hari itu. Yay.

SKIP bagian mandi tralala trilili hore dan momen susah saat ngilangin pasir dari rambut :v

Destinasi selanjutnya. GUA GONG

Sampai di lokasi gak butuh waktu lama karena pantai Klayar dan Gua Gong ini kek udah sepaket perjalanan. Sampai sono gue saranin kalau mau ke wisata Guo Gong dari tempat parkir GAUSAH PAKE OJEK!

Karena pengalaman kemaren, kita sempet ketipu tukang ojek. Wisatanya ternyata deket kalau cuma jalan kaki tapi si abang-abang ojeknya bilang jauh, elah ternyata si doi pake jalan muter. Iya pantes lama -_-'

Abang ojek jahat.

Dengan duit Rp 5000,- akhirnya kita cao langsung aja. JANGAN LUPA BAWA SENTER YA. YA. Kalau enggak ya sewa aja, cuma goceng kok nyewanya asal jangan diklepto aja ya senternya. Bisa dikeroyok ntar.

Sepanjang perjalanan, kita disambut oleh penjual ramah yang berjualan baju, topi, makanan, gula jawa dan batu-batu hias. Yang akhirnya bisa gue simpulin bahwa Gua Gong ini khas sama penjual batu akiknya. Iya jelas aja, lha hampir setiap penjual lapaknya asesoris batu semua.








Sebelumnya, kita naik tanggga dulu ya buat menuju pintu masuk guanya.

Terakhir gue ke Gua Gong adalah saat gue kelas 6 SD, makanya gue heran banget yang kala waktu itu Guanya masih biasa banget udah disulap jadi kek gini. Mantap. I did nothing but took many photos sampai Ayah gue bilang "Moto kok moto batu"

Yee, biarin lah yah.

Masih aja rame :D














Dan berakhirlah hari itu. Berasa cepet banget, gak mau berakhir. Rasanya hari ini pun pengen bareng bareng kek gini terus karena saat kayak gini adalah momen yang langka buat keluar besar yang sebenernya gak terlalu besar sih buat bisa ketawa bareng dan super quality time kayak gini. Mau dikata apa, setelah ini kita bakal sibuk sama kesibukan masing-masing.

Moga kita bisa kek gini lagi ya, Yah, Mah, De, Mas, Bul, Eyang Uti.







Menikmati Asiknya ke Pantai Klayar dan Aduhainya Gua Gong

By : panda random
26.12.14
0


Aku tak bisa mengelak, mungkin aku yang terlalu mudah jatuh cinta atau apa tapi terkadang Tuhan ingin menunjukan anugrahnya dengan memerangkapkanku ke dalam hubungan aku-menyukainya-tapi-hanya-bisa-melihat-dari-jauh.









To be continued.

Lagi galau sih.

I am Secret Admirer Afterall

By : panda random
24.12.14
0
Aku tipe orang yang suka mengamati orang lain, mendengarkan pembicaraan mereka atau bahkan gosip mereka, terkadang aku menanggapinya sedikit banyak tapi bersamaan itu selalu banyak yang aku pikirkan. Aku berujung ke sebuah kesimpulan bahwa mungkin cinta adalah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Ya, aku berpikir demikian. Karena dunia ini pun hancur, melihat di layar televisi konspirasiku selalu mengatakan bahwa selebriti adalah yang mempertaruhkan cintanya agar bisa diliput dan dibayar oleh TV. Namun ternyata aku salah. Benar-benar salah.

Mungkin ini adalah karma dari Tuhan karena aku seenaknya memberi tuduhan kepada cinta bahwa cinta tak lebih dari materiil yang bisa dibeli dengan uang. Tidak, cinta tidak seburuk itu. Aku menyadari kebodohanku, bagaimana bisa-bisanya aku menuduhkan cinta- suatu hal yang murni yang didatangkan dari Tuhan adalah sebuah materiil yang bisa dibeli manusia dengan uang di dunia? Bodoh. Bodoh. Bodoh. Dan benar saja aku mendapat balasannya.

Dan dia datang, mungkin memang dia yang benar-benar aku harapkan dari angan-angan masa kecilku dulu. Kaya. Dan seorang teman. Dan di setiap doa selalu aku selipkan kata, "Oh, Tuhan yang Maha Pemberi Cinta, buatlah aku jatuh cinta." Mungkin itulah jawabnya. Orang tuaku setuju, selalu berceletuk bahwa dia benar-benar yang terbaik untukku. Kaya. Ah iya, kaya. Cinta selalu bisa dibeli dengan uang, pikirku. Ragu, aku merasa hambar.

Dia bukan orang yang aku harapkan selama ini.

"Ah, besok kalau aku sudah besar aku ingin mempunyai pacar yang mempunyai motor bagus, Kak," celetuk adikku suatu hari.

"Dibanding motor, lebih bagus dia memakai mobil," jawabku.

Ah kata itu, dia dapat keduanya. Dia lelaki yang baik, sopan dan rajin serta wajahnya yang enggak malu-maluin diajak jalan. Tubuhnya juga mumpuni untuk membuatku merasa terlindungi. Kami sama-sama sibuk tapi kami selalu ada waktu untuk pergi berdua beberapa kali. Saat itu, mungkin aku senang karena aku merasa dicintai lagi. Suatu saat, lagi-lagi Mama menanyakan hubungan kami, aku mencelos, menolak untuk membuat hubungan yang lebih dari sekedar teman. Mungkin aku membohongi diri sendiri lagi. Ayah ikut menambahi di malam minggu itu, "Ah, menanti calon menantuku," Ayah berkata sambil meminum tehnya. Entah mengapa aku risih dan memilih menghabiskan waktu dengan tidur sepanjang malam minggu.

Aku mulai aneh dengan diriku mengapa aku tidak bisa membuatnya lebih dari sekedar teman. Jahat, memang. Padahal aku seperti merasa sudah dicintai tapi ada suatu hal yang tidak bisa membuatku lebih dari ini. Jahat.

Akhirnya aku sadar bahwa selama ini aku memaksakan diri untuk jatuh cinta. Mungkin aku terlalu ingin jatuh cinta. Namun saat dia ingin lebih serius dengan hubungan ini aku terasa risih, aku merasa tak mampu. Di keduanya dan pada ujungnya kita akan saling menyakiti. Aku yang menyakiti diriku untuk terpaksa jatuh cinta atau nanti dia yang akan sangat tersakiti karena sudah terlalu cinta dan mengetahui kenyataan ini. Aku terlalu bingung hingga kupikir aku harus pergi saja.

"Mah, aku tidak mau jatuh cinta kalau seperti ini. Kenapa, Mah? Karena aji mumpung? Aku tidak mau,Mah."

--aku tidak mau menyakiti siapapun walau nyatanya aku sudah menyakitinya.

Mama kala itu tersenyum, memelukku dan dalam gelap Mama tidak tahu bahwa aku menahan air mataku. Beliau berkata bahwa semuanya akan dikembalikan semuanya padaku. Aku bukan Siti Nurbaya. Aku adalah Aku. Walau Mama tak pernah memaksaku untuk menjalin hubungan namun dengan sangat pengertian Mama berhenti merecokiku lagi. Terima kasih, Mama.

Kali ini aku akan benar-benar mengatakankannya bahwa aku tak lebih menganggapnya sebagai teman. Maaf. Sekali lagi, maaf. Aku memang jahat.

Tuhan akhirnya menunjukan bahwa cinta, anugrah terindah Tuhan bukanlah sesuatu yang bisa dibayar. Tak semudah itu membuat cinta ini tergoda hanya karena barang yang di depan mata.

Dan jawaban tentang doa "Oh, Tuhan yang Maha Pemberi Cinta, buatlah aku jatuh cinta." sudah terjawab. Kenapa aku harus berdoa agar jatuh cinta kalau sesungguhnya saat itu aku sudah jatuh cinta? Dan itulah jawabnya.

Aku-walau mungkin- telah jatuh cinta.

Namun tidak kepadanya.

Maaf.

Galau

By : panda random 0
Satu post sebelum gue bener-bener jadi mahasiswa super sibuk yang bergelut dengan deadline laporan dan Ujian Kompetensi Dasar. C'mon June~ come faster.

 Judul: The Tokyo Zodiac Murders
Penulis: Soji Shimada

Tahun Penerbitan: 1987 (Jepang), 2012 (Indonesia)
Penerbit: Kodansha (Jepang) Gramedia (Indonesia)
Tebal:  354 halaman
Cetakan:  Juli 2012 (Cetakan ke 34)
----------------------------------------------------------------------------------------------

Uhuk. Test satu dua tiga. Aku sayang semuanya. *gampar*

Oke saya awali review ini dengan ringkasan cerita. Buku ini bercerita tentang dugaan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Heikichi Umezawa, seorang seniman eksentrik pada tahunnya. Tertulis di wasiatnya, kalau Heikichi ingin menciptakan sebuah karya seni yang diluar akal manusia yakni seorang dewi bernama Azoth. Disebutkan pula di wasiatnya, untuk membuat Azoth dibutuhkan potongan tubuh enam perawan berbeda astrologi yang kebetulan sanak saudaranya memenuhi persyaratan. Lalu, terjadilah pembunuhan, namun anehnya pembunuhan terjadi beberapa hari setelah Heikichi meninggal. Timbulah suatu pertanyaan besar, apakah Heikichi masih hidup dan kematiannya hanya rekayasa? Atau memang dia sudah terjebak dalam ilmu hitam sehingga bisa melakukan pembunuhan berantai yang sedemikian tragis? (Karena dalam pembuatan dewi Azoth, seperti yang dijelaskan di surat wasiatnya, membutuhkan sebuah ilmu alkimia dan ilmu ghaib yang rumit).

Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog gila yang merangkap sebagai detektif konsultan yang tak resmi mencoba untuk memecahkan kasus pembunuhan yang disebut sebagai Pembunuhan Zodiac Tokyo yang selama empat puluh tahun tidak dapat ditelurusi benang merahnya. Bersama rekannya, Kazumi Ishioka, seorang penggemar cerita detektif yang disebut sebagai Dr Watson ala Kiyoshi, akankah mereka berhasil? Kepo deh, baca aja sendiri :p  *author mengganggu! gampar!*

Nah, kira-kira itulah ringkasannya LOL. Aku tidak akan membeberkan lebih banyak dari ini nanti malah spoiler dan gak asik lagi deh. Bahasa dalam buku ini juga bagus, terima kasih untuk penerjemah!~ Bagi gue, buku ini menarik, salah satu buku favorit yang pernah gue baca. Di buku ini, kita ditantang untuk memecahkan sendiri sebuah kasus sebelum kita membaca sampai akhir dan tentu saja ada beberapa data yang membuat kita berasa detektif beneran! And.. that is why I LOVED this book!

Gue sendiri sebenernya bisa nebak siapa pembunuh sebenernya, motif pembunuhnya tapi aku samar soal cara membunuhnya. Tentu saja ini bukan kasus mutilasi biasa, karena seperti yang dituliskan di surat Heikichi sebelumnya, potongan tubuh ini berguna untuk membuat Dewi sempurna bernama Azoth. Jadi, potongan tubuhnya harus diletakkan di unsur kimia yang menaungi mereka. Duh rumit yak? LOL, awalnya gue juga bingung tapi gue mau njelasin sedikit.

Disini, misal.. Tokiko Umezawa (22) adalah anak dari istri pertama Heikichi yang memiliki bintang Aries, bintang Aries adalah zodiac yang memiliki kelebihan di tubuhnya berupa kepala. Sehingga, yang berhak dimutilasi adalah kepala Tokiko. Nah, mayat Tokiko yang termutilasi ini harus dibuang di tambang unsur kimia zodiac yang menaunginya yakni tambang besi.

Nah seperti itulah penjelasan yang berhasil gue tangkep di surat wasiat Heikichi LOL. Selanjutnya, tergantung Anda bagaimana menyelesaikan kasus yang selama empat puluh tahun tidak terpecahkan ini. Hwahahahaha!

Yang pasti, kalian gak bakal nyesel kalau baca buku ini. Endingnya bener-bener gak terduga~ apa hayoooo cari tau aja sendiri LOL *gampar lagi*

Sekarang rate-rate-rate~ jeng jeng nilai buku ini adalah 4/5! Yay! Because I really love this book kyaaa. Satu-satunya kekurangan dalam buku ini adalah saking banyaknya data jadi kita jadi ngeblur sendiri siapa pelaku sebenarnya. Kita pertama menduga si A ternyata yang bunuh lalu muncul clue lain yang merujuk bahwa B lah pembunuhnya. Yaa aku gak bisa bilang ini kekurangan juga sih karena gue sendiri malah mencintai kekurangan ini. Gue suka banget kalau ada buku yang membuat gue ikut andil dalam cerita.

Oke sekian reviewnya (kalau emang ini bisa disebut review LOL). Satu yang gue dapet setelah buku ini adalah, persepsi orang berbeda-beda, kadang apa yang kita cari tepat di depan mata kita, saking dekatnya kita tak bisa melihatnya. Kita sebagai manusia terkadang hanya bisa mengikuti aliran, mengikuti sebuah presepsi yang kita anggap benar sehingga mengkesampingkan presepsi yang murni hasil pemikiran kita. Siapa yang menentang arus.. nah merekalah yang bisa melihatnya.

Terima kasih. Peluk cinta, cium sayang~

[BOOKS] The Tokyo Zodiac Murder

By : panda random
2.3.14
0


Time Paradox

A litte bit inspirated by :
60 Seconds of Cold November © rully bee
Butterfly Effect


Paradoks—pernyataan yang seolah-olah berlawanan dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran

.
12 Januari 2013 – 09.10 AM

Aku melihatnya dari kejauhan. Seorang gadis berambut pendek di belakang tapi rambut depannya yang panjang menjuntai, membingkai wajahnya. Dia mengenakan dress coklat di atas lutut dengan fur kneel boots yang berwarna putih. Dia sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya layaknya gadis normal lainnya. Layaknya. Namun kupikir tidak demikian, dia adalah gadis paling aneh diantara gadis-gadis yang pernah kutemui. Dia berjalan kearahku, melemparkan sebuah senyum lalu pergi berlalu. Aku hanya menatapnya datar, tak membalas senyumnya apalagi sapaannya. Kupikir aku tidak menyukainya. Sejak awal memang seharusnya begitu.

Awal pertemuanku terjadi satu hari sebelumnya, saat aku terpaksa menyelesaikan tugasku sebagai ketua keamanan di kampus ini. Salahkan saja kampus ini yang membentuk klub semacam itu, apa gunanya hansip di depan kampus hah?

..is falling down. London Brigde is falling down,” aku berjengit ketika tiba-tiba kudapati suara feminin mampir ke telingaku saat aku melewati lorong di sekitar fakultas ekonomi. “Berhentilah bernyanyi. Lagu itu mengerikan,” suara yang masih sama. “Bagaimana kalau lagunya diganti saja?” aku masih memasang telingaku baik-baik.

Aku berjalan mengendap-endap dan mencari asal suara. Dengan perlahan aku mengintip lewat jendela.

“Kau punya ide? Bagaimana kalau Twinkle Twinkle Litte Star?” dia berujar lagi. Aku mengeryitkan dahiku heran. Dia sendiri. Bicara sendiri di bangku kuliahnya. Rambutnya yang panjang di depan menjuntai hingga menyentuh buku catatannya. Dia tampak sedang menulis sesuatu dan bersenandung lagu—ah tidak, lebih tepatnya bergumam tidak jelas. Suaranya jelek dan tak membentuk sebuah lagu. “Woah, welcome,” dia berujar. Menatap kearahku lalu melontarkan sebuah senyuman. Aku terlonjak kaget hingga terduduk. Sial, dia tahu keberadaanku.

Aku bangun, sedikit membersihkan celana jeansku. Mata gadis itu masih menatapku dengan senyumannya yang masih enggan lepas dari bibirnya. Arah matanya mengikutiku sampai aku sampai di ruang kelas. “Psikopat,” aku hanya mendecih.

Dia membulatkan matanya melirik ke kanan dan ke kiri, ”Apa psiko yang kau maksud itu aku?” dia menunjuk dirinya sendiri sambil memasang wajah yang tak bisa kudefinisikan. Kaget. Datar. Lucu. Aneh.
Aku hanya memutar bola mataku tak minat. “Kau gadis aneh. Berbicara dengan tembok, hm?”

Dia hanya tersenyum, merapikan buku-buku catatannya lalu memasukkannya kedalam tas jinjingnya. Dia meluruskan kedua tangannya diatas meja lalu meletakkan dagunya di sela-sela tangannya. Dia menatapku,”Aku lebih suka berbicara dengan kucing sih,” lalu tertawa renyah.

Aku hanya mendecih. Aku benci dengan hal dengan hal yang tak logis. Dan gadis ini adalah salah satunya. Aku membencinya. Aku mengebrak meja di depanku, dia langsung terperanjat dan menatapku bingung. “Bilang ke kucingmu itu, apa dia bisa mengajarimu cara berdandan!” Satu gebrakan lagi. “Apa dia bisa membuat cantik!” aku berteriak. Aku lepas kendali, aku hanya tak tahan dengan keanehan ini.

Dia memiringkan kepalanya bingung lalu tertawa,”Kucingku kan cowok mana dia tahu dengan hal begituan,” dia bicara di sela-sela tawanya. Dia beranjak dari kursinya lalu menghampiri jendela di dekatku yang menghadap kearah lapangan. Dia menoleh sebentar kearahku,”Oh. Aku Mia.”

Aku hanya mendecih untuk yang kesekian kali,”Aku tidak bertanya.”

Dia hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke bintang-bintang malam itu. Jam sepuluh malam memang waktu yang tepat untuk bintang-bintang menunjukkan kemilaunya. “Aku tertidur lalu saat terbangun ternyata udah semalam ini,” dia berujar diselingi tawanya yang ringan.

“Aku tid—“

“Aku menjawab sebelum kau bertanya. Aku cuma tidak ingin kau mengira aku belajar di kampus semalam ini—“ dia menghadap kearahku. “—belajar itu membosankan,” dia menghela nafas panjang.

Menarik. Dia tahu apa yang kupikirkan.

“Lagipula orang mana yang mau belajar di kampus? Enak juga di apartemen, ditemani dengan kucing—“

“Kau orang anehnya,” aku memotong kalimatnya. Memasukkan kedua tanganku di saku.

“Eh?” dia berujar bingung. “Aku punya banyak teman asal kau tahu. Aku tidak seperti gadis kesepian psikopat yang akan menyayat tangannya seperti yang pikirkan.”

Aku hanya mendecih. “Nah, aku jadi semakin mencurigaimu.”

Dia membalasku dengan tatapan protes. “Kau sendiri kenapa belum pulang?”

Aku hanya diam. Tak menyahut pertanyaannya. Aku seharusnya sudah berada dibawah selimutku asal kau tau. Tapi, ada perasaan aneh yang membuatku masih bertahan disini. Sebuah ketertarikan? Gravitasi?

“Oh. Okay. Baiklah kalau tidak mau menjawab,” gadis itu memutar matanya. Menendang-nendang udara dengan kaki kanannya. “Sibuk dengan laporan keamanan. Hm, mungkin?”

Aku melotot. Dia mulai bicara sendiri lagi. Dasar gadis aneh.

“Aku aneh ya?” dia bertanya sambil memajukan wajahnya di depanku.

Aku menatapnya datar. YA! Kau aneh. “Tidak,” namun kata barusan yang keluar dari mulutku. Kadang hati tak sesuai dengan mulut. Aku masih melihat dia yang tersenyum dengan tatapan datarku.

“Sudah malam,” dia memegang bahuku lalu menepuk-nepuknya pelan. “Sebaiknya kau pulang.”

“Bukan itu seharusnya yang dikatakan seorang cewek aneh sepertimu kepada seorang cowok,” aku menatapnya datar. Tak minat.

“Oh. Okay,” dia melepaskan tangannya dari pundakku, beralih memegang dagunya. “Jangan khawatir. Aku bisa pulang sendiri,” lanjutnya.

“Aku tidak tertarik mengantarmu,” ujarku kejam yang hanya dibalas dengan senyumannya. Tidak, aku tidak mulai tertarik dengan gadis ini kan? Dia berlalu disampingku, mengambil tasnya dan aku yang hanya bisa melihat punggungnya menjauh.

Dia membalikkan badannya sekilas. “Daaah!” dia melambaikan tangannya dengan sebuah senyum di bibirnya. Aku hanya mendecih. Aku benci dengan gadis aneh. Dia sama sekali bukan tipeku. Aku hanya menyukai gadis normal berdada besar yang manis. Dan dia tidak sedikitpun—atau bahkan tidak sama sekali—masuk dalam kriteria itu. Cih.

Aku menatap telapak tangan kananku lalu bergantian menatap lorong yang barusan dilalui gadis itu. Dia sudah berlalu, tak terjangkau lagi oleh mataku. Aku mengangkat tangan kananku, menggerakkannya kaku membentuk sebuah lambaian. “Hm. Bye,” aku tersenyum tersendiri, menyadari keanehan yang barusan kulakukan. Aku benci gadis aneh, itu mantra yang selalu kuucapkan sejak saat itu. Dan berhenti saat lusanya kudapati kabar kematian gadis itu. Terbunuh tragis. Oleh pembunuh misterius.



13 Februari 2013 – 03.00 PM

Kematian Mia tidak menjadi hal yang banyak dibicarakan orang hingga sore ini. Kematian Mia seperti hal yang sudah wajar—ah, atau mungkin pihak kampus tidak mau membicarakan hal ini lebih lanjut. Yang kutahu dari koran yang pagi ini kubaca, telah ditemukan gadis terbunuh di apartemennya dengan darah yang menggenang. Setidaknya itulah yang ditulis oleh wartawan surat kabar yang hiperbolis, foto tidak cukup menjelaskan semuanya karena yang kulihat adalah foto tubuh Mia yang tersensor di halaman hitam putih sebuah koran abal-abal. Tidak minat untuk mencari tahu lebih, aku meneruskan bacaanku yang sempat tertunda oleh anomali hari ini.

“Tak kusangka Mia akan berakhir seperti itu,” seorang gadis berkucir pendek itu berujar kepada temannya yang berambut panjang disebelahnya. Gadis berambut panjang itu mengangguk pelan sembari menyelipkan rambutkan di belakang telinga. Mereka menuju kearahku lalu terduduk di bangku.”Dia gadis yang baik dan ceria, kan? Kenapa harus begini?” lanjut si gadis berkucir pendek.

Mataku terus melihat buku namun telinga dan pikiranku kutujukan sepenuhnya kepada pembicaraan mereka. Aku memang tidak minat, aku hanya ingin tahu saja. Masalah?

“Terakhir dia berkata akan lembur seharian di apartemennya karena tugas yang menumpuk—,“ujar gadis berkucir pendek itu lagi. Suaranya terdengar gemetar kali ini. “Aku menawarkan bantuan tapi dia menolak. Dia berkata bahwa—bahwa—,” kata-katanya terhenti, tergantikan oleh sebuah isakan. Ku meliriknya dan mendapati gadis itu menutup mukanya dengan kedua tangannya.

Gadis berambut panjang disebelahnya hanya menatapnya iba dan mengelus pundaknya pelan, berusaha meredam kesedihan temannya.

“—darahnya. Tidak, dia bukan Mia,” ujarnya semakin histeris dengan air mata yang terus mengalaris dan menggeleng-gelengkan kepalanya keras.  Aku mengeryitkan dahi sambil menatap mereka.

“Sudahlah. Jangan bahas soal itu,” gadis berambut panjang itu ikut menunduk. Lalu menengok ke kanan dan kiri seakan maling yang ingin mengambil barang curiannya. Aku refleks menatap bukuku kembali, pura-pura tak mengikuti arah pembicaraan mereka. “Ba—bagaimana kucingnya?” aku mengeryitkan dahi heran. Beribu pertanyaan memenuhi kepalaku. Apa hubungannya seorang kucing dengan kematian Mia? Apa kucing itu lebih berharga daripada seorang Mia? Tiba-tiba fertigoku seakan mau kumat.

Gadis berkucir pendek itu hanya mengangguk di sela isakannya.

Gadis berambut panjang itu menghela nafas lega. Aku langsung menatapnya dan dibalas dengan tatapan menusuknya yang tiba-tiba. “Menguping kematian adalah hobi yang buruk,” ujarnya sarkasme.

Aku hanya bisa mengutuknya dalam hati. Yang pertama duduk di bangku ini adalah aku. Dan bukan salahku jika aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kalian. Kedua gadis itu akhirnya beranjak dari bangku setelah melempar tatapan tajam kearahku—terlebih si gadis berambut panjang yang menjengkelkan itu. Aku hanya menatap mereka datar, menatap punggung mereka yang menjauh kemudian hilang dalam kerumunan hiruk pikuk kampus. Aku menatap kembali bukuku, merenungi apa yang barusan mereka katakan. Dan ujaran yang terus teringang di benakku, sebuah gumaman si rambut panjang yang cukup bisa kudengar.

“Ya, dia bukan Mia. Lebih tepatnya sudah tidak berbentuk seperti Mia.”

“Syukurlah. Kucingnya selamat, kuharap ada—“ kata terakhirnya tak jelas. Apakah sebuah mantra?
Aku langsung mengambil koran abal-abal pagi ini yang mengulas soal kematian Mia dengan buru-buru. Dan langsung membuka halaman tiga yang menampakkan foto tubuhnya yang disensor dan dibelakangnya kudapati tatapan mata yang menyala oleh—

—seekor kucing. Ku tidak mengerti pasti warna kucing itu karena berita Mia ada di halaman koran hitam putih. Ku amati terus foto kucing itu, tertangkap oleh kamera yang memantulkan warna matanya sehingga tampak menyala dalam kegelapan.

Satu kedipan, aku makin terus menamati foto itu. Tidak ada yang salah.

Dua kedipan. Aku tidak mengerti kucing ini bisa lebih berharga dari Mia.

Tiga kedipan. Aku terperanjat, foto kucing itu menghilang. Aku menatap lebih dekat lagi, memajukan koran itu hingga sepuluh centimenter di depanku untuk memastikan bahwa sedari tadi aku tidak berhalusinasi melihat foto kucing. Sial, apa ini koran abal-abal tapi mengandung magic seperti yang aku lihat di film karya J.K Rowling?

Aku masih dalam kekagetanku. Hari ini benar-benar sangat melelahkan dan penuh dengan ketidak logisan. Aku menghela nafas panjang dan menatap langit sore yang mulai berubah jingga. Sakit. Kudapati sesuatu di dadaku sesak, aku meremas dada kiriku. Dan perlahan aku terpejam, merasakan sebuah linangan air yang turun di  pipiku. Sakit. Kepalaku sakit.

Aku ingin istirahat. Sejenak menikmati kesendirian yang memuakkan ini.


03 Maret 2010 – 10.55 AM

“Hey, my bro,” seseorang merangkul pundakku dari belakang. Aku hanya menatapnya sekilas, dia adalah Albert. Cowok yang aku ketahui sebagai seorang sahabat semenjak aku melangkahkan kakiku ke kampus ini. Aku terus berjalan, menghiraukan keberadaannya. Dia mendengus,”Ck. Andromeda Polaris, setidaknya balaslah sapaan sahabatmu yang paling ganteng ini,” dia memutar matanya bosan lalu melepas rangkulannya.
Aku menatapnya sekilas,”Hey Albert.”

Albert hanya berdeham lalu tersenyum lebar dan beralih ke i-pod putih kesayangannya.

“Kau tahu bagaimana Mia terbunuh?”

Albert menghentikan aktivitas memasang headphonenya dan melihatku heran. “Hm? Mia?” dia memasang pose berpikir—sok seperti Sherlock Holmes yang sedang berpikir, hanya saja Albert berotak kosong. “Aku bahkan baru mendengar namanya,” lanjutnya lalu nyengir lebar. Jawaban yang begitu mengecewakan.

Berganti aku yang terkejut,”Bukankah kau satu klub dengannya di klub bandmu?” Aku menatap Albert dengan sejuta tanya yang juga dibalas dengan tatapan sama darinya. “Mia. Mia Funchsia.”

Albert melihatku dengan heran sambil menggelengkan kepalanya pelan, “Andro, kau tidak apa-apa? Kau demam?” Pemuda berambut raven itu mengeryitkan dahi,”Tidak ada anggota klub yang bernama Mia.”

Aku langsung menatapkan punggungku di tembok terdekat. Tidak. Tidak mungkin kematiannya terhapus. Aku melihat wajah Albert yang beberapa meter di depanku, ada raut kekhawatiran disana. Matanya memancarkan iba dan sedikit keprihatinan bahwa sahabatnya mungkin saja menderita penyakit yang sama seperti pasien rumah sakit jiwa. Pandanganku buram—tidak, ini bukan fertigo. Aku melihat jam digital yang melingkar di tangan kiriku. Aku terhenyak.

3 Maret 2010!

Kakiku gemetar saat aku menghampiri Albert. Dia yang beberapa meter didepanku ikut menghampiriku saat dilihatnya aku yang limbung. “Andro, kau tidak ap—“

‘BRUK’ seseorang tiba-tiba menabrakku. Aku jatuh terduduk dan memijit kepalaku. Sakit. Kulihat sekilas Albert menghampiriku dan membantuku berdiri namun pandanganku kutujukan terhadap orang yang menabrakku barusan. Seorang gadis berambut pendek, dengan kacamata tebal, kemeja floral panjang yang dikancing penuh dan rok chiffon semata kakinya. Satu kesan yang kudapat, dia gadis yang cupu. Gadis itu kemudian menunduk, memunguti buku-bukunya yang bercecer.

“Ma—maaf,” ujarnya pelan.

Aku tak acuh tapi mengambil bukunya yang terlempar cukup jauh. Sayup-sayup kudengar suara Albert yang berbasa-basi dengan menjelaskan bahwa temannya yang satu ini—aku—sedang mempunyai hobi baru yaitu mengalamun. Aku tak mau ambil pusing dengan perkataannya barusan, aku sudah pusing dan tak mau tambah pusing lagi. “Ini,” ujarku sembari menyerahkan dua bukunya.

“Terima ka—,” ujarnya pelan, sangat pelan hingga kalimat akhirnya tak bisa kudengar dengan jelas. Namun aku tahu bahwa dia bermaksud berterima kasih kepadaku. Aku hanya mengangguk. Dia akhirnya mau menatap mataku setelah sekian lama menunduk dan melontarkan senyuman.

Aku mematung. Lalu dia berlalu disampingku. Mata itu, mata yang sama. Aku menggenggam pergelangan tangannya, mencegahnya untuk pergi dan menyeretnya kembali hingga kini dia didepanku. “Mi—Mia?” gadis itu terlihat terkejut. Mungkin memang aku benar menyebut namanya.

Albert bingung dengan situasi yang terjadi sekarang. Dia hanya melihat antara aku dan Mia secara bergantian. “He—hei. Apa yang—“

Kalimatnya tak selesai. Aku hanya fokus dengan gadis yang di depanku sekarang. Aku menyeretnya, menghiraukan panggilan Albert dan juga menghiraukan rintihan Mia yang kudengar beberapa kali. Gadis itu sedikit berlari untuk mengimbangi langkahku yang lebar. Berulang kali dia juga meronta agar aku melepaskannya. Tidak. Kau tidak bisa, Mia. Aku tidak peduli, aku hanya ingin memperjelas ketidak jelasan ini. Bagaimana bisa aku terlempar ke masa lalu dan bagaimana bisa aku bertemu denganmu di tahun 2010. Sial, ini membingungkanku.

Aku sampai di gedung belakang sekolah yang sepi. Aku langsung mendorong gadis itu sampai punggungnya menatap tembok dengan cat yang sudah mengelupas. Wajahnya merah dan nafasnya terengah-engah. Aku meletakkan kedua tanganku disampingnya, memenjarakannya. Sekarang, tidak ada tempat lari lagi. “A—apa yang ka—kakak—“

Ucapannya terhenti ketika perlahan kulepas kacamatanya dengan tangan kananku. Dia berusaha mencegahnya namun kiriku dengan sigap menggenggam kedua tangan mungilnya dan menaruhnya di atas kepalanya. Cih, aku terlihat seperti orang yang akan memerkosa anak orang. Tapi tentu saja tidak, aku seharusnya tidak tertarik dengan gadis ini. Seharusnya. Namun kadang takdir berkata lain. Aku berhasil melepas kacamatanya dan kini matanya menatapku dengan ketakutan yang luar biasa. Jangan begitu, aku juga membenci dengan hal yang kulakukan sekarang. “Ternyata kau memang Mia,” aku menunduk. Dadaku naik turun, meraup oksigen sebanyak yang aku bisa karena berulang kali aku tercekat oleh kekagetan yang disebabkan oleh gadis di depanku ini. Aku menatapnya kembali dan kudapati dia yang menangis. Apa dia benar berpikir aku akan memerkosanya?

Aku tersenyum, menghapus air matanya. “Kau gadis aneh. Jika aku jadi kau, aku akan berteriak atau setidaknya akan menendang selangkangku.”

Dia menatapku sambil sedikit terisak,”Ka—kau ingin aku melakukannya?”

Aku merenggangkan cengkraman tangan kiriku. Gadis itu langsung mengelus pergelangan tangannya lalu melontarkan sebuah senyuman.

“Hanya saja aku tahu kalau kakak tidak berniat apa-apa, makanya—“

Dia terhenti saat kedua tanganku kembali berada di samping kanan-kirinya. Nafasnya sudah teratur, dapat kudengar itu. Bau samponya, aroma jeruk—persis seperti anak kecil. Aku terkekeh. Kembali mengingat pertemuan pertama kami di tahun 2013, dia tetap aneh bahkan di tahun 2010. Selalu saja bisa melihat apa yang dipikirkan orang lain. Itu aneh kan?

Gadis itu hanya memasang tampang bingung, menatap ke tangan kanan dan kiriku secara bergantian. “Oh. Bagaimana kakak bisa tahu—AHH!” dia tiba-tiba berteriak bersamaan dengan kepalaku yang memanas. Sakit. Sakit sekali. Pandanganku memburam, dapat kulihat gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membulat layaknya orang syok. Seluruh badanku seperti kehilangan fungsinya. Aku memegang bagian belakang kepalaku.

Darah. Darah mengguyur kepalaku? Atau apa? Aku tersungkur kesamping. Waktuku seperti tak lama lagi. Pandanganku menggelap setelah sebelumnya indra perasaku merasakan dingin di pipiku, lalu disusul oleh tatapan mata kuning-biru yang dimiliki seekor kucing hitam.

Seekor kucing..mungkin itu kuncinya.

Dan kali ini aku sepenuhnya terpejam. Andromeda Polaris termakan omongannya. Andromeda Polaris akan masuk di koran abal-abal dengan penulis berita yang hiperbolis. Andromeda Polaris mati tertembak peluru nyasar.

to be continued. .


[curhatan si author moody]

Ku beritahu sebuah rahasia, jadi semua cerpen disini adalah cerpen-cerpen yang sudah tertimbun cukup lama di kotak dokumenku LOL. Seperti karya ini juga, seingatku cerpen ini aku buat saat aku masih semester 1 (sekarang aku semester 2) LOL xDD

Sebenarnya, aku suka cerpen ini, aku suka tokoh Mia dan Andro yang berjalan-jalan di benakku. Dan tahu kenyataan bahwa Andromeda adalah nama seorang dewi sedikit membuat shock, tapi entah mengapa aku suka karakter cowok disini yang memiliki nama Andromeda (cowok normal, tentu saja)

Kerangkanya jadi rada ngeblur, maklum lah author moody seperti saya cuma nulis waktu mood aja #plakjder. Cukup, jangan tampar aku lagi! Aku akan berusaha membangun tubuh cerita ini lagi, jadi doakan saja supaya aku bisa menemukan insprirasi yang bagus ke depannya. HAHAHA!

Oke. Cukup sekian. Terima kasih. Muah. Peluk sayang, cium cinta. #dihajarhabishabisan

[CERBUNG] TIME PARADOX

By : panda random
28.2.14
1

- Copyright © 2013 My Journe(y)al - Gumi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -