Recent Blog post
Archive for Desember 2014
Seperti biasa, malam tahun baru
gue habisin di rumah, pesen makanan dari fast restaurant buat dimakan bareng keluarga
di rumah. Jauh dari rencana awal gue yang mau bakaran dan masak spagheti
bareng temen-temen. Iya mau gimana lagi, hari tepat sebelum tahun baru gue
habisin buat sidang umum pertanggungjawaban BEM dan harus buru-buru ngadain
sidang umum DEMA agar gak terjadi vakum power. Sebagai informasi aja nih, gue
adalah salah satu anggota DEMA jadi ya gitu, kaderisasi awal tahun bisa dibilang
sibuk juga walau gak sesibuk proker akhir tahun. Phew.
Malam tahun baru? Yang terbesit
pasti hal-hal yang berbau pesta, ngedugem sampai pagi, hitung mundur, dan
kembang api dan jangan lupa serangkaian acara aneh seperti macet dan kampanye
dadakan. Tapi yaudah gitu doing. Setelahnya gak ada yang menurut gue special
selain kumpul sama orang yang gue sayangin. Gak melulu soal pacar, kumpul
bareng keluarga atau temen aja buat gue lebih dari cukup. Ye, bilang aja lo
jomblo.
Jadi ceritanya, akhir tahun ini
ada beberapa tekanan yang akhirnya membuat gue merenung dan menghabiskan waktu
buat nulis di blog sambil makan martabak manis.
Setelah 6 tahun.
Setelah 6 tahun akhirnya gue
sadar dengan alasan mantan sekaligus cinta pertama gue kenapa doi mutusin gue.
Ceilah. Pernyataan bahwa Cinta Pertama gak pernah berhasil itu terbukti benar.
Dan begonya, alasan itu baru gue sadarin sekarang.
Yang pertama nyadarin alasan
mantan gue adalah seorang teman seangkatan lewat tulisannya. Disana dijelasin
bahwa mungkin seorang manusia hidup berdasar pola yang itu-itu saja. Jika 'seseorang' memilih untuk meninggalkan orang yang dicintainya untuk orang lain
maka untuk selanjutnya orang lain itu juga akan ditinggalkan 'seseorang' itu jika
ada yang lebih darinya. Kejam. Dan dengan dewasanya, mantan gue lebih dahulu
sadar bahwa gue pernah ninggalin seseorang demi dia, dan dia tidak mau tersakiti kedepannya dengan pola hidup gue yang bakal ninggalin dia demi orang yang aji mumpung lebih baik dari dia. Padahal sumpah deh, gue gak gak niat gitu. Tapi ya, hidupku bisa saja berpola seperti itu, aku baru sadar
bahwa ternyata aku orang yang jahat.
Setelah 6 tahun juga akhirnya gue
sadar bahwa cinta itu memang benar-benar gak bisa dipaksakan. Itu mungkin apa
yang mantan gue rasakan. Gue dulu pernah berpikir, dalam hubungan yang singkat
itu, bisa saja dia membuatku sebagai taruhan. Namun, kupikir aku salah. Setelah
6 tahun, akhirnya aku sadar bahwa tidak ada cinta yang benar bisa dipaksakan.
Karma memiliki anomali. Disamping karma itu sebagai pembalasan bukankah itu bisa diartikan sebagai wujud kita balas
dendam? Kau merasa kena karma tapi di pihak lain dia pernah merasakan hal yang
sama sebelumnya. Yang sebelumnya tersakiti dia menjadi menyakiti. Yang
sebelumnya menyakiti kini jadi tersakiti. Anomali. Dan seperti rantai tanpa
anak rantai. Tak berujung.
Aku pernah ditinggal oleh
seseorang demi orang lain karena sebelumnya aku meninggalkan seseorang demi
orang lain pula. Itu bisa dibilang karma. Tapi bagaimana jika kalimatnya
berbeda? Dulu aku seseorang yang dicintai oleh seorang lelaki yang terpaksa
jatuh cinta kepadaku, tapi selanjutnya aku juga merasakan rasanya keterpaksaan
jatuh cinta kepada orang yang berbeda. Yang pada akhirnya aku harus menyakiti orang itu karena aku sadar bahwa cinta tak datang dari sebuah keterpaksaan tanpa ketulusan. Itu namanya juga karma kan? Aku kena
karma untuk bisa menyakiti. Membingungkan.
Kegagalan dan tempat kembali
Aku pernah sekali tidak suka
dengan jurusan kuliahku sekarang dan berpikir untuk mencoba masuk ke jurusan lain di
tahun berikutnya. Kata Pak Mario, "Satu kegagalan tak lantas membuatmu gagal
dalam hidup. Kegagalan adalah pertanda untuk memperbaiki diri. Sikapi kegagalan
dengan baik agar kebaikan yang datang bersama kegagalan itu datang kepadamu." Kata
itu terus terngiang, terlebih kata beliau soal menghabiskan kegagalan semasa
muda, membuatku termotivasi untuk terus mengambil kesempatan yang ada sebaik
mungkin.
Namun, berpuluh halangan kulewati
aku tetap aku tetap gagal dan tetap menetap di jurusanku sekarang.
Satu kegagalan
tak akan membuat hidupmu gagal.
Dan mungkin inilah jalannya, aku tidak perlu
pergi karena aku telah di rumah. Aku tidak perlu mencari lagi karena aku sudah
menemukan yang aku cari selama ini. Rumah, tempat kembali. Dan disanalah
sahabatku berada, tersenyum menyambutku, bercampur emosi antara harus sedih
karena aku gagal atau bahagia karena aku tetap tinggal.
Pada akhirnya, kebaikan
yang datang bersama kegagalan sampai kepadaku.
Mungkin saja bila aku berhasil
masuk ke jurusan lain, tak akan aku temukan orang spesial yang sekarang
mempengaruhi hidupku. Orang yang selalu ada untuk berbagi, tertawa bersama, dan
saling menertawakan kehidupan namun juga terbahak dalam sedu. Bukannya saling
menyembunyikan emosi tapi terkadang bersama mereka adalah sebuah obat sendiri
yang menyembuhkan luka.
Dan mungkin saja bila aku
berhasil masuk ke jurusan lain, tak akan aku temukan seorang kakak tingkat yang
begitu membuatku terlalu kagum. Dengan tugas skripsinya, dia selalu membuatku
terkesan dengan karya sastranya. Satu bukunya yang telah diterbitkan kadang membuatku aku
menatap bukunya sambil melihat tulisan dan tanda tangan yang tertera di dalamnya, yang dengan anehnya seketika itu dapat membuatku jingkrak kegirangan. Sebuah
kalimat sederhana namun seperti membuatku nostalgia saat pertama aku sangat
mengaggumi seseorang. Jantung bergedup, salting, dan tersenyum gaje bila
membayangkan wajahnya. Sepertinya sudah lama sekali sejak aku merasa kasmaran. Walau
hanya bisa melihat senyumnya dari jauh, hal itu entah mengapa membuatku cukup. Hari
yang kelam yang jika melihatnya membuatku merasa cukup dan menjadi diriku lagi. Bagiku
dia lebih seperti charger, pengisi baterai pribadi bila aku merasa gundah
gulana. Ceilah.
Apa ini—ah tidak. Ini Cuma rasa kagum yang berlebihan.
Hai, tadaima.
Aku pulang :)
Hidup
Akhir bulan juga mengajariku arti
hidup. Bahwasana hidup adalah pelajaran. Aku tak akan pernah sama, semua
orangpun juga tak akan pernah sama. Mereka tak selamanya bisa menjadi bayi yang
hanya bisa menangis ataupun anak smp yang alay. Kehidupan memberikan sebuah
pelajaran agar kita berubah, berubah menjadi benih yang kita tanam sebelumnya. Waktu
yang merupakan bagian dari kehidupan yang akan memberi jawaban. Hidup mengharuskan
memilih jalan yang kita hadapi dan waktu yang akan memberikan jawaban benar dan
salahnya. Itulah mengapa penyesalan selalu datang di akhir. Tapi kehidupan
selalu memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak mudah karena waktu
tak bisa dikompromi tapi kehidupan selalu memberi kesempatan.
Ada yang bilang
aku bukanlah orang polos yang dia kenal sewaktu sekolah dulu, aku berubah
menjadi orang jahat yang egois, seorang introvert kesepian yang mencari
perhatian lelaki, tapi selama hidupku aku tidak pernah menyesal memilih mereka. Mereka
yang menemaniku selama ini; keluarga, sahabat, teman, saudara, semuanya, aku
tidak pernah menyesali kehidupanku. Bila dia pikir aku menjadi jahat, biarlah,
karena yang kutahu selama ini, aku tidak pernah memilih mereka yang jahat. Mungkin
mereka yang terlalu baik karena mau menerimaku yang jahat ini sebagai bagian
dari hidup mereka.
Kehidupan orang berbeda, dia yang
menjugdeku tidak pernah tahu aku yang sebenarnya, begitu sebaliknya aku. Jadi aku
lebih baik diam, tak mencampuri lebih lagi urusannya. Semuanya biar pada jalannya,
karena walau aku salah, waktu kan memberi jawaban dan kehidupan akan selalu memberi kesempatan kecuali jika waktu habis dan tak memberi jawaban lagi dan kehidupan
tak lagi memberi kesempatan.
Maaf bila setahun ini aku
memiliki salah dengan kalian.
Semoga 2015 ini serba
sukses dan keberhasilan ada bersamamu.
Aku ikut berdoa dengan kalian
yang membaca ini.:)
Aamiin.
Happy New Year
Hallo Fellas. Sebelum gue mulai, Happy Holy Merry Christmas untuk kalian yang merayakan. Dan Selamat Liburan bagi kalian yang udah liburan. Kalau gue sih belum, gue baru libur setelah tahun baru karena dosen gue ngulur waktu mulu buat ujian. Bzz. Sibuk sih tapi mumpung momennya liburan, akhirnya gue dan keluarga besar gue pergi ke Pacitan yang udah jauh jauh direncanain.
Gue berangkat dari rumah gue sekitar jam 6, kagak pake molor-moloran karena Jetbus juga dateng 10 menit lebih awal. Berangkat dari rumah gue, lanjut menghampiri tante-tante dan eyang uti di depan gang rumah mereka. Yah maklum, gang menuju rumah tante dan eyang uti gue sempit dan gak cukup buat Jetbus. Emang dasarnya tante gue rempong, bawaannya bro kek orang
Tapi serius bawaannya banyak, hampir-hampir bagasi Jetbus gak muat. Yang bikin banyak itu sebenernya adalah makanan, mungkin karena emang eyang uti gue yang keranjingan bikin masakan enak sampai sampai tante-tante gue ini gak berhenti absen makanan.Dari ayam goreng, kerupuk udang, garang asem, semur daging, sampai nasi satu termos gede dan semua itu dikemas dalam porsi gede untuk keluarga besar kami yang beranggota 16 orang ditambah 2 abang supir.
Sebelum lanjut perjalanan, sekitar pukul 08.30, kita berhenti di sebuah hutan
Kita dateng sekitar jam 10 dan langsung menuju Pantai Klayar. Yuhuuu pantai, gue suka banget pantai xD
Walau jalan yang dilewati cukup terjang, berliku, dan sempit akhirnya terbayar juga dengan bersih dan birunya lautan di pantai ini. Untung cuaca hari itu lagi asik-asiknya. Gak hujan, langit bersih, sejuk tapi panas poll, ala pantai lah. Maknyuss dan ajib.
| ini dari atas bukit parkiran :v |
| otw turun haha |
| ini duo dede super rempong -_-' |
| tuh tuh miring tuh |
Ini kali pertama gue dibonceng ATV, jadi rasanya ngeri juga saat si abang lewat pasir. Gue berasa mau jatuh karena ada suatu ketika jalanan berasa miring banget karena pasir dan rasa-rasanya gue mau gelundung aja. Tapi untung nih si abang udah pro jadi untungnya gue gak jadi nekat gelundungan
Sebenernya bisa aja langsung liat cuman kala itu laut lagi pasang jadi area buat liatnya ditutup jadi jalan satu-satunya adalah naik bukit. Gapapa lah, jiwa petualang gitu lhoh.
| ini pemandangan ujung pantai Klayar |
| Noh kita harus mendaki ke atas ntuh. |
| Half way to go de, sabar yaaa |
| Ini masih di tengah jalan dan udah disuguhi gini :') |
WOY KITA UDAH SAMPAI!
SENGAJA DIULANG BIAR HEBOH
Tempat yang asik buat foto-foto ria emang. Mantap dan maknyus. Dan ini lhoh pulau serulingnya ternyata.
| Oh gini toh. |
DAN THIS IS IT!!!! BEACH TIME!!!
*karena banyak foto narsisnya, jadi gue kasih beberapa doang aja ye*
Kita maen seru seruan sampai gue yakin banget kalau wajah ini udah abang ireng kena sinar terik ala paradiso pantai. Kita termainkan ombak, maen paser dan teriak teriak gaje ala anak TK yang kesenengan (?). Haha.
Hari itu gue gak megang HP sama sekali, yang artinya gue benar-benar seneng hari itu. Yay.
SKIP bagian mandi tralala trilili hore dan momen susah saat ngilangin pasir dari rambut :v
Destinasi selanjutnya. GUA GONG
Sampai di lokasi gak butuh waktu lama karena pantai Klayar dan Gua Gong ini kek udah sepaket perjalanan. Sampai sono gue saranin kalau mau ke wisata Guo Gong dari tempat parkir GAUSAH PAKE OJEK!
Karena pengalaman kemaren, kita sempet ketipu tukang ojek. Wisatanya ternyata deket kalau cuma jalan kaki tapi si abang-abang ojeknya bilang jauh, elah ternyata si doi pake jalan muter. Iya pantes lama -_-'
Abang ojek jahat.
Dengan duit Rp 5000,- akhirnya kita cao langsung aja. JANGAN LUPA BAWA SENTER YA. YA. Kalau enggak ya sewa aja, cuma goceng kok nyewanya asal jangan diklepto aja ya senternya. Bisa dikeroyok ntar.
Sepanjang perjalanan, kita disambut oleh penjual ramah yang berjualan baju, topi, makanan, gula jawa dan batu-batu hias. Yang akhirnya bisa gue simpulin bahwa Gua Gong ini khas sama penjual batu akiknya. Iya jelas aja, lha hampir setiap penjual lapaknya asesoris batu semua.
Sebelumnya, kita naik tanggga dulu ya buat menuju pintu masuk guanya.
Terakhir gue ke Gua Gong adalah saat gue kelas 6 SD, makanya gue heran banget yang kala waktu itu Guanya masih biasa banget udah disulap jadi kek gini. Mantap. I did nothing but took many photos sampai Ayah gue bilang "Moto kok moto batu"
Yee, biarin lah yah.
| Masih aja rame :D |
Dan berakhirlah hari itu. Berasa cepet banget, gak mau berakhir. Rasanya hari ini pun pengen bareng bareng kek gini terus karena saat kayak gini adalah momen yang langka buat keluar besar
Moga kita bisa kek gini lagi ya, Yah, Mah, De, Mas, Bul, Eyang Uti.
Menikmati Asiknya ke Pantai Klayar dan Aduhainya Gua Gong
Aku tipe orang yang suka mengamati orang lain, mendengarkan pembicaraan mereka atau bahkan gosip mereka, terkadang aku menanggapinya sedikit banyak tapi bersamaan itu selalu banyak yang aku pikirkan. Aku berujung ke sebuah kesimpulan bahwa mungkin cinta adalah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Ya, aku berpikir demikian. Karena dunia ini pun hancur, melihat di layar televisi konspirasiku selalu mengatakan bahwa selebriti adalah yang mempertaruhkan cintanya agar bisa diliput dan dibayar oleh TV. Namun ternyata aku salah. Benar-benar salah.
Mungkin ini adalah karma dari Tuhan karena aku seenaknya memberi tuduhan kepada cinta bahwa cinta tak lebih dari materiil yang bisa dibeli dengan uang. Tidak, cinta tidak seburuk itu. Aku menyadari kebodohanku, bagaimana bisa-bisanya aku menuduhkan cinta- suatu hal yang murni yang didatangkan dari Tuhan adalah sebuah materiil yang bisa dibeli manusia dengan uang di dunia? Bodoh. Bodoh. Bodoh. Dan benar saja aku mendapat balasannya.
Dan dia datang, mungkin memang dia yang benar-benar aku harapkan dari angan-angan masa kecilku dulu. Kaya. Dan seorang teman. Dan di setiap doa selalu aku selipkan kata, "Oh, Tuhan yang Maha Pemberi Cinta, buatlah aku jatuh cinta." Mungkin itulah jawabnya. Orang tuaku setuju, selalu berceletuk bahwa dia benar-benar yang terbaik untukku. Kaya. Ah iya, kaya. Cinta selalu bisa dibeli dengan uang, pikirku. Ragu, aku merasa hambar.
Dia bukan orang yang aku harapkan selama ini.
"Ah, besok kalau aku sudah besar aku ingin mempunyai pacar yang mempunyai motor bagus, Kak," celetuk adikku suatu hari.
"Dibanding motor, lebih bagus dia memakai mobil," jawabku.
Ah kata itu, dia dapat keduanya. Dia lelaki yang baik, sopan dan rajin serta wajahnya yang enggak malu-maluin diajak jalan. Tubuhnya juga mumpuni untuk membuatku merasa terlindungi. Kami sama-sama sibuk tapi kami selalu ada waktu untuk pergi berdua beberapa kali. Saat itu, mungkin aku senang karena aku merasa dicintai lagi. Suatu saat, lagi-lagi Mama menanyakan hubungan kami, aku mencelos, menolak untuk membuat hubungan yang lebih dari sekedar teman. Mungkin aku membohongi diri sendiri lagi. Ayah ikut menambahi di malam minggu itu, "Ah, menanti calon menantuku," Ayah berkata sambil meminum tehnya. Entah mengapa aku risih dan memilih menghabiskan waktu dengan tidur sepanjang malam minggu.
Aku mulai aneh dengan diriku mengapa aku tidak bisa membuatnya lebih dari sekedar teman. Jahat, memang. Padahal aku seperti merasa sudah dicintai tapi ada suatu hal yang tidak bisa membuatku lebih dari ini. Jahat.
Akhirnya aku sadar bahwa selama ini aku memaksakan diri untuk jatuh cinta. Mungkin aku terlalu ingin jatuh cinta. Namun saat dia ingin lebih serius dengan hubungan ini aku terasa risih, aku merasa tak mampu. Di keduanya dan pada ujungnya kita akan saling menyakiti. Aku yang menyakiti diriku untuk terpaksa jatuh cinta atau nanti dia yang akan sangat tersakiti karena sudah terlalu cinta dan mengetahui kenyataan ini. Aku terlalu bingung hingga kupikir aku harus pergi saja.
"Mah, aku tidak mau jatuh cinta kalau seperti ini. Kenapa, Mah? Karena aji mumpung? Aku tidak mau,Mah."
--aku tidak mau menyakiti siapapun walau nyatanya aku sudah menyakitinya.
Mama kala itu tersenyum, memelukku dan dalam gelap Mama tidak tahu bahwa aku menahan air mataku. Beliau berkata bahwa semuanya akan dikembalikan semuanya padaku. Aku bukan Siti Nurbaya. Aku adalah Aku. Walau Mama tak pernah memaksaku untuk menjalin hubungan namun dengan sangat pengertian Mama berhenti merecokiku lagi. Terima kasih, Mama.
Kali ini aku akan benar-benar mengatakankannya bahwa aku tak lebih menganggapnya sebagai teman. Maaf. Sekali lagi, maaf. Aku memang jahat.
Tuhan akhirnya menunjukan bahwa cinta, anugrah terindah Tuhan bukanlah sesuatu yang bisa dibayar. Tak semudah itu membuat cinta ini tergoda hanya karena barang yang di depan mata.
Dan jawaban tentang doa "Oh, Tuhan yang Maha Pemberi Cinta, buatlah aku jatuh cinta." sudah terjawab. Kenapa aku harus berdoa agar jatuh cinta kalau sesungguhnya saat itu aku sudah jatuh cinta? Dan itulah jawabnya.
Aku-walau mungkin- telah jatuh cinta.
Namun tidak kepadanya.
Maaf.






