Recent Blog post
Archive for 2013
Baiklah, ini lebih seperti sebuah curhat dibanding dengan sebuah cerita, setidaknya begitu menurut gue.
Jadi topik kita kali ini adalah, LOVE STORY. Iya, gue ngerti gue gak pandai bikin judul tapi yah begitulah. Seumur hidup kalian, kalian pasti pernah dong merasakan yang namanya jatuh cinta. Entah itu yang menyakitkan atau menggembirakan. Entah dari yang namanya istilah cinta bertepuk sebelah tangan, cinta monyet, LDR, ketemu lewat sosial media, PHP, friendzone atau bahkan cinta sama makhluk dua dimensi. Jujur aja, gue pernah ngalamin itu semua. Aseli. Bukan berarti gue sombong, nyatanya gue gak bisa disebut pakar karena hampir setiap cerita cinta gue gagal.
Dibanding dengan cerita para-para ababil yang curhat ke gue, gue dalam hati mau gak mau ada rasa iri karena gue ngerasa cinta gue ngeZONK banget. Well yeah, gue ngerasa cerita cinta temen-temen gue itu lebih menarik dan lebih berkesan novel daripada cerita cinta gue yang abu-abu dan ngebosenin. Belum lagi kalau cerita mereka itu ujungnya bahagia, gue gak mau naif sih jadi orang, jujur aja gue iri. Gue emang gak bisa dibilang jomblo ngenes tapi gue juga gak bisa dibilang jomblo bahagia. Ada satu sisi gue gak mau pacaran dan bersyukur jadi jomblo ada satu sisi lagi gue takut susah ketemu jodoh.
Mungkin gue pernah sekali atau dua kali hidup seperti di novel novel tapi kalau novel yang biasanya kalian lo baca, plot cerita gue SEHARUSNYA berakhirnya bahagia tapi di dunia nyata itu hanya mimpi. Bener gak? Yah tidak ada yang benar-benar bisa hidup apa yang sesuai kita harapkan, terkadang. Tapi gak sedikit juga bahwa apa yang mereka pikirkan akan menjadi nyata. Gue jadi inget seminar yang gue ikutin kemaren, kita melihat sebuah paradigma. Jika apa yang ada di depan kita adalah sebuah paradigma yang kita yakini benar maka akan menjadi nyata. Gue akui itu bener. Tapi selama ini paradigmaku yang selalu merujuk ke arah percintaan yang selamat masih berada di awan. Gue yang enggak ngerti atau emang belum saatnya.
Gue udah kayak orang galau sekarang tapi aslinya enggak, dari awal gue nulis post ini sebenernya gue mau cerita tentang bekas-bekas gue yang terdahulu. Tapi gue urungkan aja, gue simpen buat post selanjutnya.
Lama kelamaan topik ini sedikit melenceng tapi gue mulai berpikir realitis. Gue mulai keganggu. Menurut gue sendiri cinta itu gak realitis. Gimana bisa sih lo lakuin apa aja buat orang yang lo sendiri gak tau kalau itu jodoh lo? Gimana bisa sih lo menggebu-gebu biar dapet orang itu buat jadi pacar lo terus lo mulai bosan terus lo udahan? Gak masuk akal. Gue adalah orang yang suka berimajinasi sebenarnya, gimana cinta itu bisa mengubah kita dan tetek bengeknya, oke gue ngerti. Gue juga ngerti setelah ngerasain lo berdebar liat gebetan lo itu senyum. Senang banget rasanya. Tapi lama kelamaan hal itu hangus dan gue jadi realitis seperti yang gue bilang di awal. Gue cuma takut gue trauma yang namanya jatuh cinta. Gue juga pengen lah ngerasain rasa debaran itu lagi. Tapi ah entahlah.
Percecokan antara dua hal tadi masih mengusik dan gue masih mencari jawabnya. See? Ini lebih disebut sebagai curhat orang yang mendekati galau. SO, silakan nilai sendiri masing masing.
LOVE STORY
Jadi aku akan mulai bercerita aja ya, inilah cerita saya saat mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru di STSN alias Sekolah Tinggi Sandi Negara. Aku pada awalnya gak tertarik apalagi temen-temen suka ngerecokin gitu.
"Ah elo, sandi sandi gitu? Tuh minta ajar aja anak pramuka, semaphore ke. Gratis! Malah elu bisa dapet gebetan," kata temen gue yang emang lidahnya tajam setajam silet. Gue sih cuma bisa ikut ketawa aja. Tapi setelah dapet pencerahan dari Om gue yang pensiunan tentara sama Kakak ponakan yang udah kerja jadi tentara di Miami sono, akhirnya aku sadar kalau lulusan STSN itu gak main main hebatnya. Nah! Gue langsung merubah haluan dan terobsesi kesana deh.
Jadi semua dimulai dari alamat registrasi on-line, oke awal-awal aja gue udah ada cobaannya. Saat itu ada jangkar kapal yang mabok nabrak kabel sm*pr*t alhasil gue gak dapet koneksi. Koneksi yang udah lemot jadi tambah lemot. Gue sebel, kupikir paginya langsung bisa karena server kagak overload tapi nyatanya gue salah, tuh koneksi masih lemot aja. Kampret! Jam 07.00, gue yang seharusnya udah nyampe ke sekolah dengan senyum bahagia terpaksa harus nerima cekokan Nyokap gegara katanya aku suka nunda daftar. Salahin KONEKSI nya, Mah! --' Gue makin panik, pendaftar cuma dibatesi 3000 orang dan dalam dua hari itu udah nyampe 2000an, gue makin kalut sambil misuhin koneksiku yang udah lemot jadi tambah lemot gegara jangkar mabok. Gue mutusin buat ke warnet aja, gak peduli walau hari itu gue mbolos sekolah tapi entah mengapa
Tiba saat daftar ulang, gue pilih tempat yang terbilang deket dari asal gue--Solo--padahal sebenarnya jauh, yaitu Semarang. Buset kan~ dengan bekal air mineral dan permen aku dianter Ayah naik motor ke Semarang. Jauh. Panas. Macet. Berasa pengen terbang. Lokasinya waktu itu di SMA N 1 Semarang, sekolahnya besar, pengen banget aku bisa sekolah sana. Sayangnya aku pengen lulus dan gak mau ngulang SMA lagi. Nyampe sana, nyerah berkas dan pulang. Serasa pengen manggil doraemon buat ngeluarin pintu ajaibnya atau minimal terbang deh. Sayangnya, gue harus menempuh jalanan menuju Solo yang berliku. Jauh. Panas. Macet. Berasa pengen terbang.
TAHAP KEDUA. Tahap tes akademik. Beda sama tes kayak di STIS yang diadain di berbagai kota, tes akademik ini dilakukan serentak di GOR Padjadjaran, Bogor. Tanggal pelaksaan yaitu tanggal 8 Mei.
Oke sampai tahap sini dulu karena ceritanya setelah itu gue pergi beli gorengan dan tidur. XD
[CURHAT] Akhir Perjalanan Gue di STSN 1
Gloomy in Blooming
Sakura © me
.
.
Kesamaan ide
cerita atau tokoh atau apapun mungkin karena benang merah yang melingkar di
jari kelingking kita dan kita JODOH. Boong ding, murni kebetulan belakang kok.
Hoh, seseorang bantu aku dalam tehnik pendiskripsian TwT
.
“Kau tidak
apa?” ujarnya sambil tersenyum. Bocah lelaki itu hanya terpejam tak memberikan
respon kecuali rintihan ketika gadis itu menekan luka di kepalanya yang masih
diperban oleh kasa yang mencoklat. “Kukira kau sudah mati,” lanjut gadis itu. Bocah
lelaki itu merintih untuk yang kesekian kalinya, mendudukan dirinya dan
bersandar di tembok sebuah gang di distrik Ikebukuro. Malam itu, untuk kedua
kalinya dia dihajar oleh gangster karena tak memberikan cukup uang kepada
mereka.
Bocah lelaki itu mendengus,”Begitukah
cara seorang gadis menunjukan kelegaannya? Setidaknya bersikaplah manis,”
tangannya menyentuh kepalanya yang berdenyut nyeri.
Gadis itu
hanya terkekeh, dia menekan luka bocah lelaki di depannya. Yang disentuh hanya
meringis menahan nyeri. “U-ru-sai~”
gadis itu menekannya lagi, kali ini lebih keras dengan tawa gadis itu yang
semakin lebar.
*
Jam weker berdering keras. Terlalu keras bahkan
melebihi teriakan Kaa-san di pagi hari. Bicara soal Kaa-san, apa yang membentur
kepalanya pagi ini hingga dering alarm mendahuluinya membangunkanku. Sebuah
pertanda aneh. Nah, masa bodoh. Aku berjengit, memijit kepalaku yang pening,
”Ah, yume ka?” Aku
terduduk di samping ranjang, mematikan jam weker yang meraung-raung lantas
memandang figura yang tertera di meja belajarku, “Ah, ohayou, Amaya-chan.”
Aku menatap nanar figura yang menampakan
seorang gadis berambut panjang memakai gaun one-piece putih dengan pita merah di dadanya yang tersenyum ceria. Pemandangan
pohon-pohon sakura di Osaka Mint Bureau, Osaka—tepat di tepi sungai Okawa—bahkan
tak bisa menandingi cantiknya waktu itu. Tepat sepuluh tahun yang lalu, saat
dia masih ada dan berjanji akan terus melindungiku. Andai aku bisa lebih cepat
sadar bahwa bisa saja dia akan melindungiku dalam bentuk yang lain, bentuk
seorang malaikat yang melihatku dari surga-Nya. Aku menuruni tangga dan
langsung disambut dengan sapaan selamat pagi dari Kaa-san dan Ai-chan—adik
perempuanku. “Hm. Ohayou,” aku
berujar singkat.
“Jadi hari ini Yuki-kun akan berkunjung ke
makam Amaya-chan?” tanya Kaa-san sambil menyiapkan sarapan untuk kami bertiga.
Aku hanya mengangguk mengiyakan sambil menata lauk kedalam obento sebagai bekal dan hadiah untuk Amaya. Tidak ada yang
melanjutkan bicara, bahkan Ai-chan yang tumben tidak menaruh rasa ingin tahu
siapa itu Amaya.
*
Aku menyalakan beberapa dupa setelah
sebelumnya membersihkan area sekitar nisan lalu memasangnya disamping nisan
keluarga Sasaki, di daerah sekitar Okawa, Fukuoka. Aku meletakkan beberapa
rangkaian bunga Lily putih dan Krisan yang dia sukai. Aku memejamkan mataku dan
berdoa untuk Kami-sama supaya tetap menjaganya dan menjadikannya sebagai
malaikat pribadiku—bila memang bisa.
“Oh. Aku juga membawakan ini,” aku
mengeluarkan bekal makananku, salah satunya kutaruh didepan nisan. “Ittadakimasu!”
ujarku sambil mulai melahap lauk pertamaku.
“You’re
such as a lonely person. Does that japanese do nowadays, huh?” aku menoleh
keasal suara. Aku mendapati seseorang di belakangku mengenakan parka hitam dengan tudung yang hampir
menutupi hampir seluruh tubuhnya. Jujur saja, aku tidak terlalu mengerti
ucapannya yang kuyakin benar adalah Bahasa Inggris—mengingat nilai Bahasaku
yang selalu mengharuskanku mengikuti kelas perbaikan.
“Dare?”
tanyaku. Orang itu hanya mengangkat kepalanya sedikit lalu pergi menjauh. Aku
hanya menggeleng tak mengerti, orang asing yang berkunjung ke Jepang jadi makin
aneh saja akhir-akhir ini. Aku menikmati angin musim semi, membiarkan mereka
melambaikan surai rambut kebiru-biruanku. Aku duduk bersila masih dengan obento
ditanganku dan senyum nanar yang kutujukankepada nisan di depanku. “Gochisou sama
deshi—“
‘BRUK’ seseorang
menabrakanku, membuatku terjatuh ke lantai dengan posisi orang itu diatas dan
aku yang bertumpu dengan kedua lenganku. Ah, orang itu lagi, orang dengan parka hitam yang menyamarkan wajahnya.
Dia bertumpu dengan kedua lututnya dan nafasnya yang naik turun.
“Ano ne, gomennasai” lirihnya lalu dengan cepat menautkan bibirnya dengan bibirku. Aku terlalu kaget untuk berespon. Kurasakan sepertinya cairan merah mulai merembes mewarnai kemeja putihku bersamaan dengan tangan orang itu yang seperti menusukku dan semuanya berubah menjadi gelap.
*
“Yubikiri genman~ uso tsuitara, hari sen bon nomasu, yubi kitta,” kedua anak kecil itu
benyanyi, bersumpah jari kelingking sambil mengaitkan dan mengayunkan kedua
kelingking.
Senyum gadis itu mengembang, “No-bu-yu-ki-kun, arigatou,”
*
Seminggu setelah
kejadian itu, otakku tak bisa berhenti mengapa ada sesosok aneh dengan
lancangnya menciumku dan menusukku dengan pisau lipat mainannya yang dapat
mengeluarkan emulsi macam darah. Dia gila, benar-benar gila—turis itu, atau
apalah namanya. Mungkin itulah mengapa aku sangat membenci bahasa Inggris dan
bla bla bla. Tapi yang masih membuatku bingung, apa tujuan dari turis itu hm?
“Ittai~” lamunanku buyar ketika seorang gadis terjatuh dan mengusap
pelan pantatnya. Belanjaannya berceceran dan aku hanya melihatnya dengan
tampang kaget. Apa aku barusan menabraknya? “Hey, begitukah sikapmu kepada
gadis yang telah kau tabrak?” dia mulai memasukkan barang-barang belanjaannya
ke dalam tas belanjanya lagi.
“Eh? Oh,” aku berujar dungu,
tidak tahu harus merespon apa kecuali ikut berjongkok dan membantunya
membereskan barang-barangnya. Aku melihatnya sekilas, cewek berambut pendek
bercabaret biru dengan vest merah,
kaus convers lengan tanggung dan skinny jeans warna biru tua. Dan..aroma cherry. “Daijoubu ka?” ujarku saat kami berdua berdiri.
Dia hanya bergumam sambil
membersihkan jeansnya. “Kau harus
menaktrikku es krim, kau tahu? Aku tahu tempat es krim disini. Jadi bagaimana?”
ujarnya dengan nada datar yang lebih kepada sebuah paksaan.
“Uhm. Dakedo,” aku berusaha menginterupsi kata-katanya namun tangannya
yang mungil menarikku. Kecil-kecil tenaga kuda.”..kita belum kenalan,” aku
berujar lirih. Kata lirihku barusan menghentikan langkah gadis itu. Kupikir
suaraku barusan tidak cukup bisa didengar bila dibandingkan keriuhan distrik
Ikebukuro ini.
Dia memasang wajah
polosnya,”Iza..nagi,” dia mengeja namanya pelan.”Ya benar! Aku Ine Izanagi,”
ujarnya ceria.
“Ine-san—” aku berujar saat
dia kembali menarikku.
“Panggil saja Izanagi,” dia
memotong kata-kataku. Aku hanya terdiam dan mengikuti apa mau gadis yang baru
kutemui beberapa menit lalu yang langsung bertingkah aneh ini. Bagaimanapun aku
harus menebus kesalahanku dengan menaktrirnya eskrim—ya walau menurutku itu
tidak sebanding. Aku bahkan tak mengingat menabrak seseorang tadi. “Yosh! Sudah
sampai,” dia berujar riang di depan toko es krim dengan reklame eskrim besar
diatasnya. Kulihat gadis itu dengan mata berbinar menamati tiruan eskrim di
etalase toko dengan air liur yang seakan keluar. Dia memasuki toko yang
disambut ucapan selamat datang oleh penjaga toko. Dia duduk di dekat jendela
yang langsung mengarah ke jalanan kota Ikebukuro. ”Ben and Jerry’s Strawberry ice cream dengan topping oreo dan rasberry ya. Ah, tambahkan susu coklat
jika masih ada. Ano ne, dan Baskin Aloha
Brownies tanpa potongan kacang Macadamia.”
Aku yang duduk di depannya agak
terkejut dengan pesanannya barusan, “Dua, huh?”
Dia memasang wajah polos
tanpa dosanya—lagi—sambil berujar santai,”Kupikir itu menu favoritmu sejak
kecil. Ano ne, maksudku, semua orang suka eskrim coklat, deshou?” ujarnya sambil tersenyum garing. Aku hanya mengangguk
mengerti, aku memang menyukai eskrim coklat sejak kecil—semua orang. Kami lalu
kemudian larut dalam diam. Gadis berambut pendek itu hanya memandang keluar
etalase toko.
“Jadi sudah musim semi lagi
ya?” dia berujar entah pada siapa. Kupikir dia hanya bergumam biasa untuk
memecah keheningan,” Di Washington DC, ada namanya Sakura Matsuri. Pada tanggal 31 Mei, warga Washington akan seharian
menikmati parade, bazaar, dan pesta kebudayaan lain tepat di 12th Street,
antara Constitution Avenue dan Pennsylvania Avenue,” ujarnya dengan senyum. Aku
hanya terdiam, dialek Inggris dan Jepangnya sangat bagus. “Tapi tidak ada yang
menyamai indahnya sakura di Jepang, deshou?”
dia mengalihkan pandangan kearahku sambil tersenyum simpul.
“Kukira kau pendatang baru,”
ujarku.
“Aa, memang. Terakhir aku
mengunjungi Ikebukuro saat aku masih kecil. Apa masih banyak—“ dia
menggantungkan kalimatnya lalu memperkecil suaranya,”—gangster yang menggangumu?”
“Tidak. Mereka hanya mitos,
kan?” jawabku santai. Wajah gadis di depanku langsung berubah dengan ekspresi
yang tak bisa diterjemahkan lalu manggut-manggut mengiyakan. Pesanan datang dan
wajah gadis itu kembali berbinar.
“Ah, bagaimana kalau kita ke Tetsugaku-no-michi di Kyoto?”
*
Bocah lelaki itu memandangi mayat anak perempuan di depannya. Seorang
gadis yang tersungkur dengan darah yang mewarnai piyama putihnya. Bocah lelaki
itu terus menggoyangkan sosok itu, berharap dia terbangun dan memanggil namanya
kembali. Bocah itu masih menangis, menyesali nasibnya yang kehilangan seorang
teman.
*
Dan aku tidak tahu apa
yang terjadi dengan otakku saat aku memenuhi ajakan kencan—setidaknya menurutku
begitu—untuk datang ke Tetsugaku-no-michi
di Kyoto. Dia yang mengenakan rok chiffon
warna pink dengan kaus putih tak berlengan dengan cardigan warna pink berpita di dada bersorak riang dan hanya
kubalas dengan dehaman-dehaman yang aku sendiri tidak mengerti. Tapi, gadis itu
tetap tersenyum dan menarik-narik tanganku untuk mengajakku melihat kuil-kuil.
Pohon-pohon sakura yang berjajar di pinggir kanal membuat Tetsugaku-no-michi terkenal di Kyoto bahkan di seluruh Jepang
karena keromantisannya.
“Aku ingat sesuatu,” aku
berujar. ”Dulu, aku pernah kesini,” kataku sambil menggegam erat kayu di balkon
atas salah satu kuil. Gadis yang sedari tadi menikmati helai sakura yang jatuh
langsung mengalihkan pandangannya ke pandanganku.”—saat aku masih kecil.
Terlalu lama hingga ingatan itu memudar.”
“Satou-kun,” dia berujar lirih
lalu memeluk badanku, menyandarkan kepalanya di bahuku. Tatapannya nanar.
“Atau aku yang tak ingin
mengingatnya—,” aku terus bercerita. Aku tak mengerti mengapa mulutku bercerita
begitu saja tentang masa laluku yang tak ingin kuingat. Tapi aku tak bisa lari,
masa lalu itu terus mengengkangku, rasa bersalah yang selalu membayangi di
setiap langkahku. ”—aku bersamanya saat itu. Seorang yang hanya kuingat namanya
lalu dia—“ tangan Izanagi semakin memelukku lebih erat.”—mati.”
Kami terdiam
cukup lama dengan terus menatap kosong kearah sakura yang berjatuhan. Aku
mengatungkan tanganku dan mendapati tiga helai sakura mampir ke tanganku.
“—Noboyuki-kun, kalau dapat tiga helai
sakura yang pertama kali jatuh katanya—“ Aku
memejamkan mata, mengucap sebuah doa yang berharap akan didengar Kami-sama. “—keinginannya
akan dikabulkan oleh Kami-sama.”
Tiba-tiba jemari Izanagi menyentuh tanganku,
menggenggamnya erat dan menautkannya di sela-sela jemariku. Aku bingung dengan
apa yang terjadi, aku merasa sosok disampingku bukanlah gadis yang baru kutemui
beberapa hari yang lalu karena sebuah kesengajaan mirip drama Korea, karena
yang kulakukan saat ini adalah membalas genggaman tangannya. Rasa yang sama
saat dia masih ada. Sepuluh tahun yang lalu.
*
Kalau seperti ini aku dapat merasakan
keberadaannya. Saat orang mengenakan parka
hitam itu membelaku di gang yang sempit ini. Aku merutuk diriku sendiri,
bagaimanapun aku ingin lari aku pasti berakhir di gang ini. Gang yang menyimpan
masa lalu kelam yang selalu ingin kulupakan. Seseorang berparka hitam itu menggenggam tangannya.
“Jadi benar, kau belum membunuhnya. Kau pikir
kau bisa membodohiku?” ujar seseorang. “Kalau begitu biarkan aku yang
membunuhnya,” pemuda itu keluar dari kegelapan malam itu, kilat perak dari
pisau lipatnya terpancar oleh sinar bulan.
“Yamete
kudasai,” seseorang yang berparka berujar
lirih dengan tangan yang menggenggam erat dengan gigi yang bergemeletuk. Tapi
pemuda itu tidak mengindahkan katanya dan terus mendekatiku.
“Apa masalahmu denganku?” tanyaku datar,
berusaha meredam ketakutanku. Aku meraba-raba dinding di belakangku. Sial,
tidak ada tempat lari lagi.
Pemuda di depanku itu hanya menyeringai,”Tidak
ada alasan,” dia memutar mutar pisaunya.”Kau tahu? Nyawa harus dibalas dengan
nyawa,” dia baru akan melayangkan pisaunya kearahku saat orang berparka itu menabraknya hingga terjatuh. Pemuda itu
hanya mendesis dan menatap sinis kearahnya sambil mencoba berdiri, “Jadi kau lebih
memilihnya dibanding saudara kembarmu—“ dia menggantungkan kalimatnya,”—Amaya-chan?”
dia menekankan kalimatnya dengan sangat jelas.
Aku terhenyak. Tidak. Tidak mungkin.
Amaya-chan sudah—
“Yamete!”
dia mendorongnya sampai menatap tembok dan saat itu tudung parkanya turun kebawah. Menampakkan sebuah kilat marah seorang
gadis.
“Izanagi-san?” aku berujar lirih saking
kagetnya. Tidak salah lagi, rambut pendek itu dengan garis muka yang ayu.
Ba—bagaimana bisa?
“Kematiannya tidak akan membuat Aya-chan hidup
kembali!” gadis yang kuyakini Izanagi itu berteriak. Menggenggam erat kerah
pemuda di depannya. “Aya-chan akan sedih jika melihat pemuda yang dicintainya
meninggal, deshou?”genggamannya
melemah dan dia terjatuh di tanah.
“Setidaknya biarkan aku membalas dendamku,”
pemuda itu berujar.”Andai saja gadis itu tidak datang menemuinya, mungkin kalian
berdua akan tetap hidup dan dia yang mati,” pemuda itu menatap tajam kearahku.
‘Dia’ yang dimaksud adalah aku eh? Aku tidak mengerti, sungguh tidak
mengerti.”Jangan halangi aku, Amaya. Atau kau juga akan mati,” pemuda rambut
raven itu berjalan kearahku, meninggalkan Izanagi yang tertohok. Jarak kami
hanya beberapa meter dan dia mencoba melayangkan pisaunya yang siap mencabikku.
Aku hanya memejam mataku akan nasibku selanjutnya. Tidak sakit. Tidak ada darah
merembes. Tidak ada suara kecuali suara orang yang terjatuh. Aku membuka mataku
dan melihat Izanagi di depanku. Melindungiku dan mata pemuda itu yang melotot
kosong menatapku. Pemuda itu terjatuh dengan pisau yang merobek perutnya sekian
senti yang langsung membuatnya tewas. Aku melotot kaget melihat pemuda dibunuh
di depanku oleh Izanagi. Eh Izanagi?
Aku langsung menangkap tubuhnya yang limbung,
perutnya juga tetrtancap sebuah pisau milik pemuda itu. Jadi benar gadis ini
yang telah menyelamatkanku barusan. Gadis itu hanya tersenyum miris. “Bertahanlah
Izanagi,” aku berujar. Sesak memenuhi dadaku, seperti sebuah dejavu masa itu.
Dia memegang pipiku lembut,”Aku tidak
melanggar janji, deshou?”
“—aku akan
selalu melindungi Nobuyuki-kun! Meski harus mati sekalipun!”
Aku terhenyak,”A—Amaya?” Sesak memenuhi rongga
dadaku lagi, membuatku sulit bernafas. Tidak, seharusnya bukan seperti ini.
Setelah sekian lama akhirnya aku bertemu Amaya dan harapanku di Kyoto akhirnya
terkabul—Tidak! Seharusnya tidak seperti ini.
“Nobuyuki-kun, kamu harus ditusuk seribu
jarum,” dia mengelus pipiku lembut, menghapus air mataku yang tak kusadari
jatuh begitu deras.
“—mari janji
kelingking. Saat terakhirku nanti, Nobuyuki-kun harus tetap tersenyum ya. Amaya
tidak mau melihat Nobuyuki-kun menangis melihat Amaya meninggal.”
Perlahan ingatan itu muncul begitu saja.
“Bodoh, kemana saja kamu selama ini?” Dia hanya tersenyum lemah, gerak bibirnya
berujar gomennasai. “Aku tidak ingin
kehilanganmu, demi Kami-sama. Aku—“ air mataku turun begitu deras. Aku belum
siap jika harus kehilangan Amaya.
Dia mengusap air mataku dan berujar lemah,
”Senyum, Nobuyuki-kun,” dadaku sesak kembali mendengar suaranya yang melemah.
Aku paksakan diriku tersenyum walau dengan air mata yang tidak pernah berhenti.
Dia membalas senyumanku lemah, kurasakan sebelah tangannya memeluk leherku dan
mengisyaratkan untuk mendekat. “Ai—shite—ru,
Nobuyu—“ aku langsung menciumnya. Aku tahu Amaya! Aku tahu! Karena sepuluh
tahun ini aku juga mencintaimu! Andai aku lebih pintar dan mencarimu. Andai aku
lebih berani memperjuangkan cintaku. Andai aku lebih dahulu sadar bahwa kau
mencintaiku. Andai aku—ah aku memang cowok yang cuma bisa berandai. Aku benar
benar merutuk diriku sendiri. Waktu seakan berhenti dan kurasakan asin di
sela-sela ciuman kami. Amaya menangis. Sentuhan tangannya perlahan terjatuh,
jantungku berdetak kencang. Aku masih melihatnya tersenyum, aku membalas
senyumnya—seperti janjiku waktu itu. Dan matanya perlahan menutup. Tidak—jangan
sekarang Amaya! “A—Amaya? Amaya-chan! Amaya!”
“—Nobuyuki-kun,
arigatou.”
.
.
.
Pfft~ memalukan nyahaha~ aku malu
sebenernya post ini tapi dengan pede setinggi langit, malah saya berani kirim
cerpen ini ke lomba. Dan hasilnya? KALAH! #nangis
OKE! Komen ya buat hibur saya TwT



.jpg)
