Posted by : panda random
24.12.14
Aku tipe orang yang suka mengamati orang lain, mendengarkan pembicaraan mereka atau bahkan gosip mereka, terkadang aku menanggapinya sedikit banyak tapi bersamaan itu selalu banyak yang aku pikirkan. Aku berujung ke sebuah kesimpulan bahwa mungkin cinta adalah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Ya, aku berpikir demikian. Karena dunia ini pun hancur, melihat di layar televisi konspirasiku selalu mengatakan bahwa selebriti adalah yang mempertaruhkan cintanya agar bisa diliput dan dibayar oleh TV. Namun ternyata aku salah. Benar-benar salah.
Mungkin ini adalah karma dari Tuhan karena aku seenaknya memberi tuduhan kepada cinta bahwa cinta tak lebih dari materiil yang bisa dibeli dengan uang. Tidak, cinta tidak seburuk itu. Aku menyadari kebodohanku, bagaimana bisa-bisanya aku menuduhkan cinta- suatu hal yang murni yang didatangkan dari Tuhan adalah sebuah materiil yang bisa dibeli manusia dengan uang di dunia? Bodoh. Bodoh. Bodoh. Dan benar saja aku mendapat balasannya.
Dan dia datang, mungkin memang dia yang benar-benar aku harapkan dari angan-angan masa kecilku dulu. Kaya. Dan seorang teman. Dan di setiap doa selalu aku selipkan kata, "Oh, Tuhan yang Maha Pemberi Cinta, buatlah aku jatuh cinta." Mungkin itulah jawabnya. Orang tuaku setuju, selalu berceletuk bahwa dia benar-benar yang terbaik untukku. Kaya. Ah iya, kaya. Cinta selalu bisa dibeli dengan uang, pikirku. Ragu, aku merasa hambar.
Dia bukan orang yang aku harapkan selama ini.
"Ah, besok kalau aku sudah besar aku ingin mempunyai pacar yang mempunyai motor bagus, Kak," celetuk adikku suatu hari.
"Dibanding motor, lebih bagus dia memakai mobil," jawabku.
Ah kata itu, dia dapat keduanya. Dia lelaki yang baik, sopan dan rajin serta wajahnya yang enggak malu-maluin diajak jalan. Tubuhnya juga mumpuni untuk membuatku merasa terlindungi. Kami sama-sama sibuk tapi kami selalu ada waktu untuk pergi berdua beberapa kali. Saat itu, mungkin aku senang karena aku merasa dicintai lagi. Suatu saat, lagi-lagi Mama menanyakan hubungan kami, aku mencelos, menolak untuk membuat hubungan yang lebih dari sekedar teman. Mungkin aku membohongi diri sendiri lagi. Ayah ikut menambahi di malam minggu itu, "Ah, menanti calon menantuku," Ayah berkata sambil meminum tehnya. Entah mengapa aku risih dan memilih menghabiskan waktu dengan tidur sepanjang malam minggu.
Aku mulai aneh dengan diriku mengapa aku tidak bisa membuatnya lebih dari sekedar teman. Jahat, memang. Padahal aku seperti merasa sudah dicintai tapi ada suatu hal yang tidak bisa membuatku lebih dari ini. Jahat.
Akhirnya aku sadar bahwa selama ini aku memaksakan diri untuk jatuh cinta. Mungkin aku terlalu ingin jatuh cinta. Namun saat dia ingin lebih serius dengan hubungan ini aku terasa risih, aku merasa tak mampu. Di keduanya dan pada ujungnya kita akan saling menyakiti. Aku yang menyakiti diriku untuk terpaksa jatuh cinta atau nanti dia yang akan sangat tersakiti karena sudah terlalu cinta dan mengetahui kenyataan ini. Aku terlalu bingung hingga kupikir aku harus pergi saja.
"Mah, aku tidak mau jatuh cinta kalau seperti ini. Kenapa, Mah? Karena aji mumpung? Aku tidak mau,Mah."
--aku tidak mau menyakiti siapapun walau nyatanya aku sudah menyakitinya.
Mama kala itu tersenyum, memelukku dan dalam gelap Mama tidak tahu bahwa aku menahan air mataku. Beliau berkata bahwa semuanya akan dikembalikan semuanya padaku. Aku bukan Siti Nurbaya. Aku adalah Aku. Walau Mama tak pernah memaksaku untuk menjalin hubungan namun dengan sangat pengertian Mama berhenti merecokiku lagi. Terima kasih, Mama.
Kali ini aku akan benar-benar mengatakankannya bahwa aku tak lebih menganggapnya sebagai teman. Maaf. Sekali lagi, maaf. Aku memang jahat.
Tuhan akhirnya menunjukan bahwa cinta, anugrah terindah Tuhan bukanlah sesuatu yang bisa dibayar. Tak semudah itu membuat cinta ini tergoda hanya karena barang yang di depan mata.
Dan jawaban tentang doa "Oh, Tuhan yang Maha Pemberi Cinta, buatlah aku jatuh cinta." sudah terjawab. Kenapa aku harus berdoa agar jatuh cinta kalau sesungguhnya saat itu aku sudah jatuh cinta? Dan itulah jawabnya.
Aku-walau mungkin- telah jatuh cinta.
Namun tidak kepadanya.
Maaf.
