Posted by : panda random
31.12.14
Seperti biasa, malam tahun baru
gue habisin di rumah, pesen makanan dari fast restaurant buat dimakan bareng keluarga
di rumah. Jauh dari rencana awal gue yang mau bakaran dan masak spagheti
bareng temen-temen. Iya mau gimana lagi, hari tepat sebelum tahun baru gue
habisin buat sidang umum pertanggungjawaban BEM dan harus buru-buru ngadain
sidang umum DEMA agar gak terjadi vakum power. Sebagai informasi aja nih, gue
adalah salah satu anggota DEMA jadi ya gitu, kaderisasi awal tahun bisa dibilang
sibuk juga walau gak sesibuk proker akhir tahun. Phew.
Malam tahun baru? Yang terbesit
pasti hal-hal yang berbau pesta, ngedugem sampai pagi, hitung mundur, dan
kembang api dan jangan lupa serangkaian acara aneh seperti macet dan kampanye
dadakan. Tapi yaudah gitu doing. Setelahnya gak ada yang menurut gue special
selain kumpul sama orang yang gue sayangin. Gak melulu soal pacar, kumpul
bareng keluarga atau temen aja buat gue lebih dari cukup. Ye, bilang aja lo
jomblo.
Jadi ceritanya, akhir tahun ini
ada beberapa tekanan yang akhirnya membuat gue merenung dan menghabiskan waktu
buat nulis di blog sambil makan martabak manis.
Setelah 6 tahun.
Setelah 6 tahun akhirnya gue
sadar dengan alasan mantan sekaligus cinta pertama gue kenapa doi mutusin gue.
Ceilah. Pernyataan bahwa Cinta Pertama gak pernah berhasil itu terbukti benar.
Dan begonya, alasan itu baru gue sadarin sekarang.
Yang pertama nyadarin alasan
mantan gue adalah seorang teman seangkatan lewat tulisannya. Disana dijelasin
bahwa mungkin seorang manusia hidup berdasar pola yang itu-itu saja. Jika 'seseorang' memilih untuk meninggalkan orang yang dicintainya untuk orang lain
maka untuk selanjutnya orang lain itu juga akan ditinggalkan 'seseorang' itu jika
ada yang lebih darinya. Kejam. Dan dengan dewasanya, mantan gue lebih dahulu
sadar bahwa gue pernah ninggalin seseorang demi dia, dan dia tidak mau tersakiti kedepannya dengan pola hidup gue yang bakal ninggalin dia demi orang yang aji mumpung lebih baik dari dia. Padahal sumpah deh, gue gak gak niat gitu. Tapi ya, hidupku bisa saja berpola seperti itu, aku baru sadar
bahwa ternyata aku orang yang jahat.
Setelah 6 tahun juga akhirnya gue
sadar bahwa cinta itu memang benar-benar gak bisa dipaksakan. Itu mungkin apa
yang mantan gue rasakan. Gue dulu pernah berpikir, dalam hubungan yang singkat
itu, bisa saja dia membuatku sebagai taruhan. Namun, kupikir aku salah. Setelah
6 tahun, akhirnya aku sadar bahwa tidak ada cinta yang benar bisa dipaksakan.
Karma memiliki anomali. Disamping karma itu sebagai pembalasan bukankah itu bisa diartikan sebagai wujud kita balas
dendam? Kau merasa kena karma tapi di pihak lain dia pernah merasakan hal yang
sama sebelumnya. Yang sebelumnya tersakiti dia menjadi menyakiti. Yang
sebelumnya menyakiti kini jadi tersakiti. Anomali. Dan seperti rantai tanpa
anak rantai. Tak berujung.
Aku pernah ditinggal oleh
seseorang demi orang lain karena sebelumnya aku meninggalkan seseorang demi
orang lain pula. Itu bisa dibilang karma. Tapi bagaimana jika kalimatnya
berbeda? Dulu aku seseorang yang dicintai oleh seorang lelaki yang terpaksa
jatuh cinta kepadaku, tapi selanjutnya aku juga merasakan rasanya keterpaksaan
jatuh cinta kepada orang yang berbeda. Yang pada akhirnya aku harus menyakiti orang itu karena aku sadar bahwa cinta tak datang dari sebuah keterpaksaan tanpa ketulusan. Itu namanya juga karma kan? Aku kena
karma untuk bisa menyakiti. Membingungkan.
Kegagalan dan tempat kembali
Aku pernah sekali tidak suka
dengan jurusan kuliahku sekarang dan berpikir untuk mencoba masuk ke jurusan lain di
tahun berikutnya. Kata Pak Mario, "Satu kegagalan tak lantas membuatmu gagal
dalam hidup. Kegagalan adalah pertanda untuk memperbaiki diri. Sikapi kegagalan
dengan baik agar kebaikan yang datang bersama kegagalan itu datang kepadamu." Kata
itu terus terngiang, terlebih kata beliau soal menghabiskan kegagalan semasa
muda, membuatku termotivasi untuk terus mengambil kesempatan yang ada sebaik
mungkin.
Namun, berpuluh halangan kulewati
aku tetap aku tetap gagal dan tetap menetap di jurusanku sekarang.
Satu kegagalan
tak akan membuat hidupmu gagal.
Dan mungkin inilah jalannya, aku tidak perlu
pergi karena aku telah di rumah. Aku tidak perlu mencari lagi karena aku sudah
menemukan yang aku cari selama ini. Rumah, tempat kembali. Dan disanalah
sahabatku berada, tersenyum menyambutku, bercampur emosi antara harus sedih
karena aku gagal atau bahagia karena aku tetap tinggal.
Pada akhirnya, kebaikan
yang datang bersama kegagalan sampai kepadaku.
Mungkin saja bila aku berhasil
masuk ke jurusan lain, tak akan aku temukan orang spesial yang sekarang
mempengaruhi hidupku. Orang yang selalu ada untuk berbagi, tertawa bersama, dan
saling menertawakan kehidupan namun juga terbahak dalam sedu. Bukannya saling
menyembunyikan emosi tapi terkadang bersama mereka adalah sebuah obat sendiri
yang menyembuhkan luka.
Dan mungkin saja bila aku
berhasil masuk ke jurusan lain, tak akan aku temukan seorang kakak tingkat yang
begitu membuatku terlalu kagum. Dengan tugas skripsinya, dia selalu membuatku
terkesan dengan karya sastranya. Satu bukunya yang telah diterbitkan kadang membuatku aku
menatap bukunya sambil melihat tulisan dan tanda tangan yang tertera di dalamnya, yang dengan anehnya seketika itu dapat membuatku jingkrak kegirangan. Sebuah
kalimat sederhana namun seperti membuatku nostalgia saat pertama aku sangat
mengaggumi seseorang. Jantung bergedup, salting, dan tersenyum gaje bila
membayangkan wajahnya. Sepertinya sudah lama sekali sejak aku merasa kasmaran. Walau
hanya bisa melihat senyumnya dari jauh, hal itu entah mengapa membuatku cukup. Hari
yang kelam yang jika melihatnya membuatku merasa cukup dan menjadi diriku lagi. Bagiku
dia lebih seperti charger, pengisi baterai pribadi bila aku merasa gundah
gulana. Ceilah.
Apa ini—ah tidak. Ini Cuma rasa kagum yang berlebihan.
Hai, tadaima.
Aku pulang :)
Hidup
Akhir bulan juga mengajariku arti
hidup. Bahwasana hidup adalah pelajaran. Aku tak akan pernah sama, semua
orangpun juga tak akan pernah sama. Mereka tak selamanya bisa menjadi bayi yang
hanya bisa menangis ataupun anak smp yang alay. Kehidupan memberikan sebuah
pelajaran agar kita berubah, berubah menjadi benih yang kita tanam sebelumnya. Waktu
yang merupakan bagian dari kehidupan yang akan memberi jawaban. Hidup mengharuskan
memilih jalan yang kita hadapi dan waktu yang akan memberikan jawaban benar dan
salahnya. Itulah mengapa penyesalan selalu datang di akhir. Tapi kehidupan
selalu memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak mudah karena waktu
tak bisa dikompromi tapi kehidupan selalu memberi kesempatan.
Ada yang bilang
aku bukanlah orang polos yang dia kenal sewaktu sekolah dulu, aku berubah
menjadi orang jahat yang egois, seorang introvert kesepian yang mencari
perhatian lelaki, tapi selama hidupku aku tidak pernah menyesal memilih mereka. Mereka
yang menemaniku selama ini; keluarga, sahabat, teman, saudara, semuanya, aku
tidak pernah menyesali kehidupanku. Bila dia pikir aku menjadi jahat, biarlah,
karena yang kutahu selama ini, aku tidak pernah memilih mereka yang jahat. Mungkin
mereka yang terlalu baik karena mau menerimaku yang jahat ini sebagai bagian
dari hidup mereka.
Kehidupan orang berbeda, dia yang
menjugdeku tidak pernah tahu aku yang sebenarnya, begitu sebaliknya aku. Jadi aku
lebih baik diam, tak mencampuri lebih lagi urusannya. Semuanya biar pada jalannya,
karena walau aku salah, waktu kan memberi jawaban dan kehidupan akan selalu memberi kesempatan kecuali jika waktu habis dan tak memberi jawaban lagi dan kehidupan
tak lagi memberi kesempatan.
Maaf bila setahun ini aku
memiliki salah dengan kalian.
Semoga 2015 ini serba
sukses dan keberhasilan ada bersamamu.
Aku ikut berdoa dengan kalian
yang membaca ini.:)
Aamiin.




