Posted by : panda random 27.5.13


Gloomy in Blooming Sakura © me
.
.
Kesamaan ide cerita atau tokoh atau apapun mungkin karena benang merah yang melingkar di jari kelingking kita dan kita JODOH. Boong ding, murni kebetulan belakang kok. Hoh, seseorang bantu aku dalam tehnik pendiskripsian TwT
.
“Kau tidak apa?” ujarnya sambil tersenyum. Bocah lelaki itu hanya terpejam tak memberikan respon kecuali rintihan ketika gadis itu menekan luka di kepalanya yang masih diperban oleh kasa yang mencoklat. “Kukira kau sudah mati,” lanjut gadis itu. Bocah lelaki itu merintih untuk yang kesekian kalinya, mendudukan dirinya dan bersandar di tembok sebuah gang di distrik Ikebukuro. Malam itu, untuk kedua kalinya dia dihajar oleh gangster karena tak memberikan cukup uang kepada mereka. 

Bocah lelaki itu mendengus,”Begitukah cara seorang gadis menunjukan kelegaannya? Setidaknya bersikaplah manis,” tangannya menyentuh kepalanya yang berdenyut nyeri.

Gadis itu hanya terkekeh, dia menekan luka bocah lelaki di depannya. Yang disentuh hanya meringis menahan nyeri. “U-ru-sai~” gadis itu menekannya lagi, kali ini lebih keras dengan tawa gadis itu yang semakin lebar.
*
Jam weker berdering keras. Terlalu keras bahkan melebihi teriakan Kaa-san di pagi hari. Bicara soal Kaa-san, apa yang membentur kepalanya pagi ini hingga dering alarm mendahuluinya membangunkanku. Sebuah pertanda aneh. Nah, masa bodoh. Aku berjengit, memijit kepalaku yang pening, ”Ah, yume ka?” Aku terduduk di samping ranjang, mematikan jam weker yang meraung-raung lantas memandang figura yang tertera di meja belajarku, “Ah, ohayou, Amaya-chan.”

Aku menatap nanar figura yang menampakan seorang gadis berambut panjang memakai gaun one-piece putih dengan pita merah di dadanya yang tersenyum ceria. Pemandangan pohon-pohon sakura di Osaka Mint Bureau, Osaka—tepat di tepi sungai Okawa—bahkan tak bisa menandingi cantiknya waktu itu. Tepat sepuluh tahun yang lalu, saat dia masih ada dan berjanji akan terus melindungiku. Andai aku bisa lebih cepat sadar bahwa bisa saja dia akan melindungiku dalam bentuk yang lain, bentuk seorang malaikat yang melihatku dari surga-Nya. Aku menuruni tangga dan langsung disambut dengan sapaan selamat pagi dari Kaa-san dan Ai-chan—adik perempuanku. “Hm. Ohayou,” aku berujar singkat.

“Jadi hari ini Yuki-kun akan berkunjung ke makam Amaya-chan?” tanya Kaa-san sambil menyiapkan sarapan untuk kami bertiga. Aku hanya mengangguk mengiyakan sambil menata lauk kedalam obento sebagai bekal dan hadiah untuk Amaya. Tidak ada yang melanjutkan bicara, bahkan Ai-chan yang tumben tidak menaruh rasa ingin tahu siapa itu Amaya.
*
Aku menyalakan beberapa dupa setelah sebelumnya membersihkan area sekitar nisan lalu memasangnya disamping nisan keluarga Sasaki, di daerah sekitar Okawa, Fukuoka. Aku meletakkan beberapa rangkaian bunga Lily putih dan Krisan yang dia sukai. Aku memejamkan mataku dan berdoa untuk Kami-sama supaya tetap menjaganya dan menjadikannya sebagai malaikat pribadiku—bila memang bisa.

“Oh. Aku juga membawakan ini,” aku mengeluarkan bekal makananku, salah satunya kutaruh didepan nisan. “Ittadakimasu!” ujarku sambil mulai melahap lauk pertamaku.

You’re such as a lonely person. Does that japanese do nowadays, huh?” aku menoleh keasal suara. Aku mendapati seseorang di belakangku mengenakan parka hitam dengan tudung yang hampir menutupi hampir seluruh tubuhnya. Jujur saja, aku tidak terlalu mengerti ucapannya yang kuyakin benar adalah Bahasa Inggris—mengingat nilai Bahasaku yang selalu mengharuskanku mengikuti kelas perbaikan.

Dare?” tanyaku. Orang itu hanya mengangkat kepalanya sedikit lalu pergi menjauh. Aku hanya menggeleng tak mengerti, orang asing yang berkunjung ke Jepang jadi makin aneh saja akhir-akhir ini. Aku menikmati angin musim semi, membiarkan mereka melambaikan surai rambut kebiru-biruanku. Aku duduk bersila masih dengan obento ditanganku dan senyum nanar yang kutujukankepada nisan di depanku. “Gochisou sama deshi—“

BRUK’ seseorang menabrakanku, membuatku terjatuh ke lantai dengan posisi orang itu diatas dan aku yang bertumpu dengan kedua lenganku. Ah, orang itu lagi, orang dengan parka hitam yang menyamarkan wajahnya. Dia bertumpu dengan kedua lututnya dan nafasnya yang naik turun.

Ano ne, gomennasai” lirihnya lalu dengan cepat menautkan bibirnya dengan bibirku. Aku terlalu kaget untuk berespon. Kurasakan sepertinya cairan merah mulai merembes mewarnai kemeja putihku bersamaan dengan tangan orang itu yang seperti menusukku dan semuanya berubah menjadi gelap.
*
“Yubikiri genman~ uso tsuitara, hari sen bon nomasu, yubi kitta,” kedua anak kecil itu benyanyi, bersumpah jari kelingking sambil mengaitkan dan mengayunkan kedua kelingking.
Senyum gadis itu mengembang, “No-bu-yu-ki-kun, arigatou,”
*
Seminggu setelah kejadian itu, otakku tak bisa berhenti mengapa ada sesosok aneh dengan lancangnya menciumku dan menusukku dengan pisau lipat mainannya yang dapat mengeluarkan emulsi macam darah. Dia gila, benar-benar gila—turis itu, atau apalah namanya. Mungkin itulah mengapa aku sangat membenci bahasa Inggris dan bla bla bla. Tapi yang masih membuatku bingung, apa tujuan dari turis itu hm?

Ittai~” lamunanku buyar ketika seorang gadis terjatuh dan mengusap pelan pantatnya. Belanjaannya berceceran dan aku hanya melihatnya dengan tampang kaget. Apa aku barusan menabraknya? “Hey, begitukah sikapmu kepada gadis yang telah kau tabrak?” dia mulai memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam tas belanjanya lagi.

“Eh? Oh,” aku berujar dungu, tidak tahu harus merespon apa kecuali ikut berjongkok dan membantunya membereskan barang-barangnya. Aku melihatnya sekilas, cewek berambut pendek bercabaret biru dengan vest merah, kaus convers lengan tanggung dan skinny jeans warna biru tua. Dan..aroma cherry. Daijoubu ka?” ujarku saat kami berdua berdiri.

Dia hanya bergumam sambil membersihkan jeansnya. “Kau harus menaktrikku es krim, kau tahu? Aku tahu tempat es krim disini. Jadi bagaimana?” ujarnya dengan nada datar yang lebih kepada sebuah paksaan.

“Uhm. Dakedo,” aku berusaha menginterupsi kata-katanya namun tangannya yang mungil menarikku. Kecil-kecil tenaga kuda.”..kita belum kenalan,” aku berujar lirih. Kata lirihku barusan menghentikan langkah gadis itu. Kupikir suaraku barusan tidak cukup bisa didengar bila dibandingkan keriuhan distrik Ikebukuro ini.

Dia memasang wajah polosnya,”Iza..nagi,” dia mengeja namanya pelan.”Ya benar! Aku Ine Izanagi,” ujarnya ceria.

“Ine-san—” aku berujar saat dia kembali menarikku.

“Panggil saja Izanagi,” dia memotong kata-kataku. Aku hanya terdiam dan mengikuti apa mau gadis yang baru kutemui beberapa menit lalu yang langsung bertingkah aneh ini. Bagaimanapun aku harus menebus kesalahanku dengan menaktrirnya eskrim—ya walau menurutku itu tidak sebanding. Aku bahkan tak mengingat menabrak seseorang tadi. “Yosh! Sudah sampai,” dia berujar riang di depan toko es krim dengan reklame eskrim besar diatasnya. Kulihat gadis itu dengan mata berbinar menamati tiruan eskrim di etalase toko dengan air liur yang seakan keluar. Dia memasuki toko yang disambut ucapan selamat datang oleh penjaga toko. Dia duduk di dekat jendela yang langsung mengarah ke jalanan kota Ikebukuro. ”Ben and Jerry’s Strawberry ice cream dengan topping oreo dan rasberry ya. Ah, tambahkan susu coklat jika masih ada. Ano ne, dan Baskin Aloha Brownies tanpa potongan kacang Macadamia.”

Aku yang duduk di depannya agak terkejut dengan pesanannya barusan, “Dua, huh?”

Dia memasang wajah polos tanpa dosanya—lagi—sambil berujar santai,”Kupikir itu menu favoritmu sejak kecil. Ano ne, maksudku, semua orang suka eskrim coklat, deshou?” ujarnya sambil tersenyum garing. Aku hanya mengangguk mengerti, aku memang menyukai eskrim coklat sejak kecil—semua orang. Kami lalu kemudian larut dalam diam. Gadis berambut pendek itu hanya memandang keluar etalase toko.

“Jadi sudah musim semi lagi ya?” dia berujar entah pada siapa. Kupikir dia hanya bergumam biasa untuk memecah keheningan,” Di Washington DC, ada namanya Sakura Matsuri. Pada tanggal 31 Mei, warga Washington akan seharian menikmati parade, bazaar, dan pesta kebudayaan lain tepat di 12th Street, antara Constitution Avenue dan Pennsylvania Avenue,” ujarnya dengan senyum. Aku hanya terdiam, dialek Inggris dan Jepangnya sangat bagus. “Tapi tidak ada yang menyamai indahnya sakura di Jepang, deshou?” dia mengalihkan pandangan kearahku sambil tersenyum simpul.

“Kukira kau pendatang baru,” ujarku.

“Aa, memang. Terakhir aku mengunjungi Ikebukuro saat aku masih kecil. Apa masih banyak—“ dia menggantungkan kalimatnya lalu memperkecil suaranya,”—gangster yang menggangumu?”

“Tidak. Mereka hanya mitos, kan?” jawabku santai. Wajah gadis di depanku langsung berubah dengan ekspresi yang tak bisa diterjemahkan lalu manggut-manggut mengiyakan. Pesanan datang dan wajah gadis itu kembali berbinar.

“Ah, bagaimana kalau kita ke Tetsugaku-no-michi di Kyoto?”
*
Bocah lelaki itu memandangi mayat anak perempuan di depannya. Seorang gadis yang tersungkur dengan darah yang mewarnai piyama putihnya. Bocah lelaki itu terus menggoyangkan sosok itu, berharap dia terbangun dan memanggil namanya kembali. Bocah itu masih menangis, menyesali nasibnya yang kehilangan seorang teman.
*
Dan aku tidak tahu apa yang terjadi dengan otakku saat aku memenuhi ajakan kencan—setidaknya menurutku begitu—untuk datang ke Tetsugaku-no-michi di Kyoto. Dia yang mengenakan rok chiffon warna pink dengan kaus putih tak berlengan dengan cardigan warna pink berpita di dada bersorak riang dan hanya kubalas dengan dehaman-dehaman yang aku sendiri tidak mengerti. Tapi, gadis itu tetap tersenyum dan menarik-narik tanganku untuk mengajakku melihat kuil-kuil. Pohon-pohon sakura yang berjajar di pinggir kanal membuat Tetsugaku-no-michi terkenal di Kyoto bahkan di seluruh Jepang karena keromantisannya.

“Aku ingat sesuatu,” aku berujar. ”Dulu, aku pernah kesini,” kataku sambil menggegam erat kayu di balkon atas salah satu kuil. Gadis yang sedari tadi menikmati helai sakura yang jatuh langsung mengalihkan pandangannya ke pandanganku.”—saat aku masih kecil. Terlalu lama hingga ingatan itu memudar.”

“Satou-kun,” dia berujar lirih lalu memeluk badanku, menyandarkan kepalanya di bahuku. Tatapannya nanar.

“Atau aku yang tak ingin mengingatnya—,” aku terus bercerita. Aku tak mengerti mengapa mulutku bercerita begitu saja tentang masa laluku yang tak ingin kuingat. Tapi aku tak bisa lari, masa lalu itu terus mengengkangku, rasa bersalah yang selalu membayangi di setiap langkahku. ”—aku bersamanya saat itu. Seorang yang hanya kuingat namanya lalu dia—“ tangan Izanagi semakin memelukku lebih erat.”—mati.” 

Kami terdiam cukup lama dengan terus menatap kosong kearah sakura yang berjatuhan. Aku mengatungkan tanganku dan mendapati tiga helai sakura mampir ke tanganku.

“—Noboyuki-kun, kalau dapat tiga helai sakura yang pertama kali jatuh katanya—“ Aku memejamkan mata, mengucap sebuah doa yang berharap akan didengar Kami-sama. “—keinginannya akan dikabulkan oleh Kami-sama.”

Tiba-tiba jemari Izanagi menyentuh tanganku, menggenggamnya erat dan menautkannya di sela-sela jemariku. Aku bingung dengan apa yang terjadi, aku merasa sosok disampingku bukanlah gadis yang baru kutemui beberapa hari yang lalu karena sebuah kesengajaan mirip drama Korea, karena yang kulakukan saat ini adalah membalas genggaman tangannya. Rasa yang sama saat dia masih ada. Sepuluh tahun yang lalu.
*
Kalau seperti ini aku dapat merasakan keberadaannya. Saat orang mengenakan parka hitam itu membelaku di gang yang sempit ini. Aku merutuk diriku sendiri, bagaimanapun aku ingin lari aku pasti berakhir di gang ini. Gang yang menyimpan masa lalu kelam yang selalu ingin kulupakan. Seseorang berparka hitam itu menggenggam tangannya.

“Jadi benar, kau belum membunuhnya. Kau pikir kau bisa membodohiku?” ujar seseorang. “Kalau begitu biarkan aku yang membunuhnya,” pemuda itu keluar dari kegelapan malam itu, kilat perak dari pisau lipatnya terpancar oleh sinar bulan.

Yamete kudasai,” seseorang yang berparka berujar lirih dengan tangan yang menggenggam erat dengan gigi yang bergemeletuk. Tapi pemuda itu tidak mengindahkan katanya dan terus mendekatiku.

“Apa masalahmu denganku?” tanyaku datar, berusaha meredam ketakutanku. Aku meraba-raba dinding di belakangku. Sial, tidak ada tempat lari lagi.

Pemuda di depanku itu hanya menyeringai,”Tidak ada alasan,” dia memutar mutar pisaunya.”Kau tahu? Nyawa harus dibalas dengan nyawa,” dia baru akan melayangkan pisaunya kearahku saat orang berparka  itu menabraknya hingga terjatuh. Pemuda itu hanya mendesis dan menatap sinis kearahnya sambil mencoba berdiri, “Jadi kau lebih memilihnya dibanding saudara kembarmu—“ dia menggantungkan kalimatnya,”—Amaya-chan?” dia menekankan kalimatnya dengan sangat jelas.

Aku terhenyak. Tidak. Tidak mungkin. Amaya-chan sudah—

Yamete!” dia mendorongnya sampai menatap tembok dan saat itu tudung parkanya turun kebawah. Menampakkan sebuah kilat marah seorang gadis.

“Izanagi-san?” aku berujar lirih saking kagetnya. Tidak salah lagi, rambut pendek itu dengan garis muka yang ayu. Ba—bagaimana bisa?

“Kematiannya tidak akan membuat Aya-chan hidup kembali!” gadis yang kuyakini Izanagi itu berteriak. Menggenggam erat kerah pemuda di depannya. “Aya-chan akan sedih jika melihat pemuda yang dicintainya meninggal, deshou?”genggamannya melemah dan dia terjatuh di tanah.

“Setidaknya biarkan aku membalas dendamku,” pemuda itu berujar.”Andai saja gadis itu tidak datang menemuinya, mungkin kalian berdua akan tetap hidup dan dia yang mati,” pemuda itu menatap tajam kearahku. ‘Dia’ yang dimaksud adalah aku eh? Aku tidak mengerti, sungguh tidak mengerti.”Jangan halangi aku, Amaya. Atau kau juga akan mati,” pemuda rambut raven itu berjalan kearahku, meninggalkan Izanagi yang tertohok. Jarak kami hanya beberapa meter dan dia mencoba melayangkan pisaunya yang siap mencabikku. Aku hanya memejam mataku akan nasibku selanjutnya. Tidak sakit. Tidak ada darah merembes. Tidak ada suara kecuali suara orang yang terjatuh. Aku membuka mataku dan melihat Izanagi di depanku. Melindungiku dan mata pemuda itu yang melotot kosong menatapku. Pemuda itu terjatuh dengan pisau yang merobek perutnya sekian senti yang langsung membuatnya tewas. Aku melotot kaget melihat pemuda dibunuh di depanku oleh Izanagi. Eh Izanagi?

Aku langsung menangkap tubuhnya yang limbung, perutnya juga tetrtancap sebuah pisau milik pemuda itu. Jadi benar gadis ini yang telah menyelamatkanku barusan. Gadis itu hanya tersenyum miris. “Bertahanlah Izanagi,” aku berujar. Sesak memenuhi dadaku, seperti sebuah dejavu masa itu.

Dia memegang pipiku lembut,”Aku tidak melanggar janji, deshou?

“—aku akan selalu melindungi Nobuyuki-kun! Meski harus mati sekalipun!”

Aku terhenyak,”A—Amaya?” Sesak memenuhi rongga dadaku lagi, membuatku sulit bernafas. Tidak, seharusnya bukan seperti ini. Setelah sekian lama akhirnya aku bertemu Amaya dan harapanku di Kyoto akhirnya terkabul—Tidak! Seharusnya tidak seperti ini.

“Nobuyuki-kun, kamu harus ditusuk seribu jarum,” dia mengelus pipiku lembut, menghapus air mataku yang tak kusadari jatuh begitu deras.

“—mari janji kelingking. Saat terakhirku nanti, Nobuyuki-kun harus tetap tersenyum ya. Amaya tidak mau melihat Nobuyuki-kun menangis melihat Amaya meninggal.”

Perlahan ingatan itu muncul begitu saja. “Bodoh, kemana saja kamu selama ini?” Dia hanya tersenyum lemah, gerak bibirnya berujar gomennasai. “Aku tidak ingin kehilanganmu, demi Kami-sama. Aku—“ air mataku turun begitu deras. Aku belum siap jika harus kehilangan Amaya.

Dia mengusap air mataku dan berujar lemah, ”Senyum, Nobuyuki-kun,” dadaku sesak kembali mendengar suaranya yang melemah. Aku paksakan diriku tersenyum walau dengan air mata yang tidak pernah berhenti. Dia membalas senyumanku lemah, kurasakan sebelah tangannya memeluk leherku dan mengisyaratkan untuk mendekat. “Ai—shite—ru, Nobuyu—“ aku langsung menciumnya. Aku tahu Amaya! Aku tahu! Karena sepuluh tahun ini aku juga mencintaimu! Andai aku lebih pintar dan mencarimu. Andai aku lebih berani memperjuangkan cintaku. Andai aku lebih dahulu sadar bahwa kau mencintaiku. Andai aku—ah aku memang cowok yang cuma bisa berandai. Aku benar benar merutuk diriku sendiri. Waktu seakan berhenti dan kurasakan asin di sela-sela ciuman kami. Amaya menangis. Sentuhan tangannya perlahan terjatuh, jantungku berdetak kencang. Aku masih melihatnya tersenyum, aku membalas senyumnya—seperti janjiku waktu itu. Dan matanya perlahan menutup. Tidak—jangan sekarang Amaya! “A—Amaya? Amaya-chan! Amaya!”

“—Nobuyuki-kun, arigatou.”

.
.
.
Pfft~ memalukan nyahaha~ aku malu sebenernya post ini tapi dengan pede setinggi langit, malah saya berani kirim cerpen ini ke lomba. Dan hasilnya? KALAH! #nangis
OKE! Komen ya buat hibur saya TwT

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 My Journe(y)al - Gumi - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -